
"Wulan, ayo kita turun." ajak Natalie sembari menepuk pelan lengan Wulan, sehingga membuat gadis itu terkejut.
Yang tadinya gadis itu tampak takjub dengan bangunan megah dihadapannya, kini justru terlihat kembali tegang. Bahkan jantungnya berdegup kencang.
"I_iya Nat." balas Wulan sembari meringis.
Ia kembali menghembuskan nafas sebelum turun dari mobil. Rombongan itu berjalan memasuki masjid. Dan di sudut ruangan itu, telah berkumpul beberapa orang laki-laki yang tengah bercakap-cakap. Tampaknya mereka tengah menunggu kedatangan Wulan.
"Assalamu'alaikum." ucap Natalie dan suaminya pada sekumpulan orang yang tengah duduk di permadani.
"Wa'alaikumussalam." balas mereka kompak pada rombongan Wulan.
Mereka mempersilahkan rombongan Wulan untuk duduk terlebih dahulu. Terlihat suami Natalie sedang bercakap-cakap dengan para lelaki itu. Sedangkan Natalie mengajak bicara Wulan.
__ADS_1
"Wulan, apa kamu tidak membawa sesuatu yang bisa dipakai untuk menutupi kepala mu?"
Wulan sadar tidak memakai suatu penutup kepala. Lalu sejenak ia berpikir sambil menelisik penampilannya sendiri dan juga wanita yang ada dihadapannya. Kenapa juga ia sampai lupa tidak mempersiapkan benda kecil itu.
"Kalau kamu tidak bawa, nanti bisa pakai mukena di masjid ini. Tidak apa-apa." ucap Natalie kemudian, ketika melihat Wulan terdiam.
"Oh okay, terima kasih usulnya Nat."
Tak berselang lama, suami Natalie menoleh ke arah istrinya dan Wulan. Ia memberi kode agar kedua wanita itu lebih mendekat.
Gadis itu pun menyimak baik-baik ucapan ustadz tersebut. Agar tidak ada sesuatu yang terlewat sedikit pun.
Setelah paham, Wulan di suruh untuk berwudhu dan memakai mukena. Lalu serangkaian acara untuk menjadikan dirinya seorang muslim pun di mulai.
__ADS_1
Hatinya bergetar hebat ketika mengucapkan rukun Islam nomor satu itu. Dan semua mengucapkan syukur ketika ia selesai mengucapkan kalimat itu.
Natalie yang berada di samping Wulan, seketika memeluk gadis itu. Dan keduanya sampai menitikkan air mata.
Rasa haru tumpah menjadi satu. Tak ada sanak saudara yang menghadiri acara sakral tersebut. Namun setelah ia mengucapkan kalimat itu, Natalie dan Wulan kini menjadi saudara semuslim.
"Ini baru langkah awal Wulan. Mulai sekarang kamu berkewajiban menjalankan kewajiban mu sebagai seorang muslim. Mulai dari sholat, puasa, menutup aurat dan masih banyak lagi. Tidak perlu merasa takut atau terbebani. Karena semua bisa kamu kerjakan perlahan. Sampai kamu paham. Allah tahu sejauh mana kamu tengah berusaha. Jika kamu tidak tahu sesuatu, kamu bisa bertanya padaku. Kita akan belajar bersama." bisik Natalie lembut ditelinga saudara barunya.
Wulan pun mengangguk dan dengan lirih menjawab 'iya'.
Setelah mengurai pelukan, ustadz tadi memberikan penjelasan tambahan. Dan semua kembali menyimak. Jika ada pertanyaan, Wulan dipersilahkan untuk mendatangi beliau, tentunya dengan di dampingi oleh seorang teman. Agar tidak ada fitnah yang mungkin terjadi.
Langit kian gelap. Waktu Maghrib sebentar lagi tiba. Semua dipersilahkan untuk bersiap-siap berwudhu.
__ADS_1
Wulan dan Natalie beranjak dari duduknya lalu pergi menuju ke tempat wudhu perempuan. Natalie sejenak memperhatikan cara berwudhu Wulan. Lalu segera membenarkan ketika gadis itu keliru.
Setelah selesai berwudhu, mereka kembali memasuki masjid. Melihat Natalie melakukan sholat tahiyatul masjid, Wulan pun melakukan hal yang sama. Cuma ia membaca doa seingatnya saja, karena terus terang ia memang belum begitu hafal.