Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
192. Kejutan untuk Fatim


__ADS_3

"Sayang. Kamu pasti capek. Biar aku saja yang menyetir mobilnya. Aku janji akan berhati-hati." tangan Leon, terulur meminta kunci mobil Fatim.


Fatim memang merasa sedikit capek badannya, di tambah lagi bagian bawah badannya juga masih terasa sedikit ngilu. Akhirnya ia pun memberikan kunci mobilnya.


"Janji ya, hati-hati." ucap Fatim meminta kepastian.


"Iya-iya, aku janji." tegas Leon sambil tersenyum sumringah mengambil kunci itu dari tangan Fatim.


Keduanya segera masuk ke mobil, dan meletakkan barang-barang belanjaan mereka di bagian belakang.


Leon mulai menyalakan mesin mobilnya, lalu kendaraan roda empat itu bergerak pelan meninggalkan pelataran mall itu.


Di dalam mobil, Leon selalu mencairkan suasana dengan selalu mengajak Fatim bercerita. Hingga wanita itu tidak menyadari jika mobil yang dikemudikan suaminya cukup melenceng dari jalan menuju ke rumahnya.


"Lhoh, kak. I-ini sepertinya bukan jalan menuju ke rumah."


Fatim memperbaiki posisi duduknya menjadi tegap. Lalu menoleh ke setiap sisi, memperhatikan jalan yang mereka lalui dengan seksama.


Sedangkan Leon tampak santai saja menanggapi hal itu. Ia memang sengaja melakukan hal itu. Karena punya suatu rencana untuk bisa bersama dengan istrinya.


"Santai saja, sayang. Aku pernah ke rumah mu lewat jalan sini kok."


"Masa sih. Kalau pun bisa pasti kan jauh." ucap Fatim sambil mengernyitkan dahi dan menatap suaminya.


"Kamu itu, di suruh pakai google map tadi ngga mau. Sekarang, lihat!" gerutu Fatim kesal.


Ia melipat kedua tangannya dan menyandarkan tubuh di tempat duduknya. Leon yang melihat hal itu semakin gemas dibuatnya. Satu tangannya terulur mencubit pipi Fatim. Sehingga membuat wanita itu meringis, dan memudar wajah cemberutnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kan kita berduaan seperti ini dalam waktu yang lama. Sudah tidak ada yang melarangnya. Dan aku sangat menikmatinya."


Leon menarik pelan tangan Fatim dan mengecupnya. Wanita itu tersenyum malu, hingga wajahnya memerah.


Keduanya terdiam sekian menit, hingga akhirnya mobil memasuki sebuah hotel mewah di kota itu.


"Kak, kamu ada acara disini?" tanya Fatim penasaran. Leon menggeleng.


"Lalu?" Fatim dibuat penasaran dengan tingkah suaminya.


"Kita masuk dulu ke dalam, agar kamu bisa menemukan jawabannya.


Leon kembali menggandeng tangan Fatim dengan lembut, dan sebelah tangannya membawa barang-barang belanjaan mereka yang cukup banyak jumlahnya.


Leon dan Fatim berbelok memasuki sebuah lift. Dan tidak sampai satu menit, keduanya telah sampai di lantai sepuluh hotel itu.


Meskipun Fatim banyak bertanya pada suaminya, tapi tidak ada satu pun dari pertanyaan itu yang di jawab. Hingga akhirnya keduanya berhenti di sebuah kamar.


Dengan ragu Fatim melangkahkan kakinya menuju kamar itu. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan matanya membulat, ketika mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


Ruangan yang luas dan bersih. Di penuhi dengan bunga mawar merah di setiap sudutnya. Di lantai juga tersebar kelopak bunga mawar. Di atas tempat tidur yang bersprei putih itu juga terdapat selimut merah yang dibentuk menyerupai dua angsa. Di atap juga tergantung bunga mawar.


Ruangan itu benar-benar dipenuhi dengan bunga mawar, yang harumnya begitu semerbak wangi.


"Apa kamu suka?" tanya Leon, sambil merengkuh bahu istrinya. Dan wanita itu pun mengangguk.


"Kamu yang melakukan semua ini, kak?"

__ADS_1


"Tentu saja, bukan."


"Kalau bukan kamu. Lalu siapa? Kenapa kamu harus membawa ku kesini." Fatim kembali ke mode cemberut.


"Tentu saja yang melakukan semua ini karyawan hotel. Enak saja, aku sudah mengeluarkan uang untuk membayar, mereka malah enak-enak. Tidak mengerjakan apa mau ku." balas Leon santai sambil melipat kedua tangannya.


Fatim yang tadi cemberut kini terkekeh, dan memegang lengan suaminya. Ia bergerak mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Leon.


"Terima kasih, kak. Melakukan ini semua untukku."


"Hem. Itu tidak gratis."


"Hah, maksudnya? Aku di suruh bayar gitu?" Fatim kembali menatap serius suaminya. Dan suaminya itu pun mengangguk.


"Kita akan menginap disini beberapa hari. Agar tidak ada yang mengganggu kita saat bermalam pertama."


"Ya Allah, kak." Fatim membekap mulutnya. Leon memegang kedua lengan istrinya. Lalu menatapnya intens.


"Meskipun kita ini belum lama mengenal, tapi aku begitu yakin mencintaimu. Sehingga memutuskan untuk menikahi mu.


Di dalam kamar ini, aku ingin menghabiskan waktu ku untuk mengenal mu lebih jauh, tanpa ada seorang pun yang menggangu.


Jika kita kembali ke rumahmu sekarang, tentu saja kita tidak bisa menikmati waktu bersama dalam waktu yang lama.


Mungkin dengan menghabiskan waktu bersama mu, bisa membuatku berubah menjadi laki-laki dewasa dan berwawasan luas. Karena aku juga akan menjadi seorang ayah nantinya."


Fatim menatap Leon secara intens. Ia bisa melihat kesungguhan suaminya itu dalam berkata.

__ADS_1


Sesaat keduanya saling terdiam. Hingga akhirnya Leon semakin mendekatkan wajahnya di hadapan Fatim.


"Aku ingin melakukannya sekarang, sayang." ucap Leon, yang membuat bulu kuduk Fatim meremang. Selalu ada hal yang membuat Fatim terkejut, menjadi istri seorang Leon.


__ADS_2