
Sementara di dalam Fatim tengah menyuapi Leon, kedua orang tua Leon tengah bercakap-cakap di luar. Apalagi yang mereka bicarakan, kalau bukan soal anak satu-satunya.
"Pa, bagaimana dengan anak kita? Setiap hari dia maunya sama Fatim. Kalau kita ajak pulang ke Belanda, pasti tidak bakal mau."
Papa Marco menghela nafas panjang.
"Biarkan saja dia menentukan jalan hidupnya, ma. Toh dia juga sudah besar. Biar dia belajar lebih dewasa. Fatim juga adalah gadis yang baik. Selama ia tidak benar-benar memutuskan hubungan antara anak dengan kedua orang tuanya juga tidak apa-apa."
"Serius, pa? Kalau ternyata Leon memutuskan untuk menjadi seorang mualaf tidak apa-apa?" Margaretha menatap wajah suaminya dengan intens.
Papa Marco mengangguk pelan.
"Aku yakin, Fatim dan keluarganya bisa membimbing Leon dengan baik. Maka dari itu, kita dekati dulu Leon. Kita perjelas hubungannya dengan Fatim itu seperti apa."
"Aku tidak menyangka, papa bisa sebijak ini." Margareth kembali menatap suaminya dengan binar bahagia.
"Oh iya, pa. Bagaimana perkembangan kasus orang yang menabrak anak kita?"
"Hukum di negara ini terlalu lemah. Walau berada di sel tahanan, karena memiliki banyak uang, ia bisa menikmati fasilitas yang mewah seperti rumah sendiri. Dan akhirnya papa sedang melakukan sesuatu untuk mereka."
"Apa itu, pa?"
"Mengirim mereka ke pondok pesantren."
"Hah! Ke pondok pesantren?" Mama Margaretha membulatkan matanya dengan mulut yang ternganga.
Baru kali ini ia mendengar hukuman orang yang melakukan tindak kejahatan adalah di pondok pesantren.
__ADS_1
"Apakah di sana lebih menyeramkan daripada sel tahanan, pa?"
"Tidak. Kata Adam disana itu lebih menenangkan. Pada dasarnya, orang-orang yang melakukan tindak kejahatan, hidupnya tidak tenang. Karena memiliki banyak masalah yang tidak bisa terselesaikan. Akhirnya berbuat sesuka hati. Dan faktor yang mendasari semua itu adalah lemahnya iman di hati."
"Papa juga penasaran dengan tempat itu. Rasanya mau mencoba hidup di sana." imbuh papa Marco lagi.
"Apa!" Mama Margaretha yang tadi manggut-manggut mendengar ucapan suaminya, kini justru mendongakkan kepalanya, menatap wajah suaminya.
"Mama ngga salah dengar? Lalu bagaimana dengan pekerjaan papa?"
"Ma, rezeki setiap orang itu sudah diatur. Lagian papa juga sudah usaha. Perusahaan papa titipkan pada asisten. Papa itu juga ingin mendalami tentang jalan hidup. Karena itu yang akan menjadi bekal kita ketika meninggal."
"Kata Adam lagi?" tebak Margareth, dan Marco pun menganggukkan kepalanya.
"Tapi, pa. Apa di pondok pesantren ada pihak berwajib yang menjaga mereka? Takutnya mama kalau mereka kabur."
"Mama salut sama, Adam."
"Ma, papa ngga salah dengar?" Marco kini menatap istrinya sambil mengernyitkan dahi. Ia tak suka jika istrinya memuji laki-laki lain selain dirinya.
"Eh, maaf pa. Kelepasan. Maksud mama, mama juga salut dengan papa yang berani mengambil keputusan yang berbeda." Margaretha meringis sembari menutup mulutnya.
**
Di tempat lain, anak buah Marco tengah berada di kediaman laki-laki bertato, yang berani menabrak tanpa mau mengucapkan kata maaf pada Leon. Laki-laki itu bernama Romi. Dan ayahnya yang sombong bernama Ronald.
Romi baru saja mendekam dua hari dipenjara, dan kini sudah bebas. Semua karena kekuasaan ayahnya. Ia pemilik tempat judi dan sabung ayam terbesar di kota itu.
__ADS_1
Tidak ada yang berani mengganggunya. Bahkan pihak berwajib justru melindungi, karena mendapat sejumlah uang.
"Siapa kalian? Kenapa berani-beraninya datang kemari?" Ronald menatap nyalang pada anak buah Marco yang berjumlah sepuluh orang itu.
"Kami anak buah tuan Marco. Kamu pasti mengenalnya. Dia adalah anaknya yang mengalami kecelakaan, karena ditabrak oleh anakmu." balas seorang laki-laki bertubuh kekar dan berkepala plontos.
Ronald tampak sejenak berpikir lalu terkekeh.
"Apa maunya?"
"Tuan Marco sekali lagi menyuruh mu untuk meminta maaf pada anaknya. Jika tidak, maka kami akan mengirim mu ke suatu tempat."
Ronald semakin terkekeh keras, hingga memekakkan telinga. Mendengar ancaman dari orang yang tak dikenalnya.
"Katakan pada bos mu. Kami tidak akan pernah sudi untuk meminta maaf " Ronald berkata di iringi gelak tawa.
Anak buah Marco saling beradu pandang, lalu dengan sigap membekap mulut Ronald. Meletakkan di bahunya, dan membawanya masuk ke mobil.
Sedangkan anak buah Marco yang lain menyebar dan melumpuhkan anak buah Ronald, sambil mencari keberadaan Romi.
Terlihat Romi masih tidur di atas ranjang tempat tidur king size nya. Padahal saat itu jam telah menunjukkan pukul sebelas siang.
Ketika salah satu anak buah Marco mendekat ke arahnya, bau khas minuman terlarang menguar dari mulutnya. Membuat anak buah Marco hampir muntah.
Tapi demi tuannya, laki-laki itu segera mengangkat tubuh bertato nan kerempeng itu, dan meletakkan di bahu kirinya.
"Tidur apa mati, nih orang. Aku culik kenapa ngga bangun-bangun." gumam anak buah Marco sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1