
"Kalau tidak rela berbagi, kenapa harus punya anak?" Balas Fatim, terkesan sewot.
"Maaf, sayang. Aku hanya belum terbiasa." Leon meringis, tak ingin membuat tensi darah istrinya naik.
"Ini." Fatim memberikan sebotol asi pada suaminya.
Perawat yang mendengar obrolan singkat suami dan istri itu, kembali memfokuskan pandangannya pada sang bayi.
"Ini, sus."
Leon menyerahkan sebotol susu itu pada perawat, lalu wanita berseragam putih itu mendekatkan dot botol ke mulut bayi.
Perlahan bayi kemerahan milik Leon, menyesap cairan asi yang keluar dari lubang dot hingga habis. Dan bersamaan dengan ia yang kembali tertidur.
Leon yang melihat hal itu tampak menyunggingkan senyum. Ternyata putri kecilnya sangat rakus seperti dirinya.
Perawat meminta ijin untuk membersihkan botol dot nya. Leon mengangguk mengiyakan dan ia menarik kursi lalu duduk di samping sang bayi.
"Kamu harus minum asi yang banyak ya, sayang. Agar cepat besar seperti bayi pada umumnya." Bisik Leon lembut.
Fatim yang masih setengah duduk, melihat kebersamaan suami dan anaknya, juga ikut menyunggingkan senyum.
**
Sudah tiga hari berlalu, Fatim di rawat di rumah sakit. Kondisinya sudah membaik.
Sebenarnya ia sudah diijinkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Tapi mengingat anaknya masih di dalam inkubator, ia mengurungkan niatnya pulang.
Tidak mungkin rasanya untuk tinggal berpisah dengan anaknya. Akhirnya, ia memutuskan tinggal di ruang rawat inap nya lagi.
__ADS_1
Toh, di sana ia juga bisa mengerjakan aktivitasnya. Keluarga Fatim dan Leon juga masih di sana, untuk menemani anak dan cucu mereka.
"Pa, kapan bayi ku akan diijinkan pulang?"
"Jika kondisinya sudah bagus, tentu secepatnya akan diijinkan pulang. Kamu jangan khawatir."
"Lalu bagaimana dengan acara aqiqah nya. Aku dan kak Leon ingin melaksanakan Sunnah nabi itu."
"Kita bisa melakukannya, walaupun tidak tepat di hari yang ke tujuh. Yang penting kita niat untuk menggelar acara itu. Dan yang pasti, bayinya sudah benar-benar sehat."
"Benar apa yang dikatakan papa, sayang. Kita ikuti saja jalan-Nya, agar lebih baik hasilnya." Leon ikut membenarkan ucapan papa mertuanya, sambil melingkarkan tangan di bahu Fatim.
Fatim menghela nafas panjang. Ia tidak bisa berbuat banyak, jika memang itu adalah keputusan yang terbaik untuk putri kecilnya.
"Lebih baik, kita pikirkan nama yang bagus untuk anak kita saja sayang. Apa kamu tidak ingin memberikan nama untuknya?"
"Nah, betul apa yang dikatakan suami mu. Kalian berembug dulu, nama apa yang cocok untuk dipakai putri kalian. Kalau begitu, papa keluar dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus papa kerjakan. Kalian juga bisa mengajak mama dan papa untuk membahas hal itu."
Setelah berkata seperti itu, papa Adam berjalan mendekati istri dan besannya, yang tengah menikmati sarapan pagi bersama.
"Maaf, aku harus ke bawah. Ada urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Titip anak-anak ya."
"Tentu kami akan menjaga mereka dengan baik. Kenapa kamu sekhawatir itu? Apa perlu aku memanggil anak buah ku?" Balas papa Marco. Yang mengundang tawa mereka. Papa Adam pun sedikit menyunggingkan senyum.
"Maafkan aku terlalu berlebihan. Maklum saja, mereka kan anak sekaligus cucu pertama ku."
"Okay, kami paham. Karena posisi kita sama. Sekarang, kerjakan lah tugas mu." Ucap papa Marco setengah mengusir.
Mereka saling melempar senyum, sebelum akhirnya papa memutar tumit dan berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
Sementara itu, Fatim dan Leon duduk saling berhadapan. Mereka tengah membahas, nama yang cocok untuk putri kecil mereka.
"Menurutmu nama yang cocok untuk bayi kita apa, kak?" Fatim membuka diskusi pagi itu.
Leon tampak mengerutkan keningnya, sedangkan tangannya memegang dagunya.
"Kalau aku yang memberi nama pasti akan aku beri nama seperti orang luar."
"Nama orang luar bagus juga kok, kak. Siapa kira-kira?"
"Angela yang artinya malaikat. Anak kecil itu memang seperti malaikat. Karena terlahir tanpa dosa. Emely yang artinya bunga. Karena anak kecil itu juga seperti kuncup bunga yang sebentar lagi akan mekar."
Fatim mengulas senyum mendengar penuturan suaminya. Rasanya nama-nama yang ditawarkan suaminya juga bagus dan artinya juga baik.
Tapi ia juga memiliki beberapa nama pilihan.
"Kalau kamu mau memberi nama siapa, sayang?" Tanya Leon.
"Nama yang kamu berikan bagus-bagus juga, kak. Tapi aku juga punya pilihan nama untuk anak kita.
Aku ingin putri kecil kita menjadi seseorang yang rajin beribadah. Dan nama Abidah itu artinya adalah seseorang yang rajin beribadah. Jadi sangat sesuai dengan keinginan ku.
Terus, anak kita juga adalah seorang wanita. Maka aku ingin menambahkan nama Alfatunnisa, yang artinya wanita yang lemah lembut."
Leon manggut-manggut mendengar penjelasan istrinya.
"Lalu namanya kalau di gabungkan menjadi Abidah Alfatunnisa atau Alfatunnisa Abidah?"
"Abidah Alfatunnisa." Sahut Fatim mantap.
__ADS_1
"Okay, sayang. Aku setuju dengan nama itu, Abidah Alfatunnisa." Leon tersenyum mengulang nama itu.