
Sekian menit berlalu, Wulan kembali ke tempat semula. Ia terlihat lebih segar, karena sudah mandi dan mengenakan kembali pakaiannya.
"Wulan, apa yang terjadi dengan mu? Kenapa kamu selalu bicara aurat? Apa itu artinya tubuh mu? Bukan kah kamu biasa memperlihatkan tubuh mu. Kenapa kamu aneh sekali?"
Leon memberondong Wulan dengan pertanyaan. Yang membuat gadis itu memerah wajahnya, dan jantungnya berdegup kencang. Karena kelepasan bicara.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Yang membuat perhatian mereka sedikit teralihkan.
Wulan segera menyeruput es kelapa muda, lalu menyendok nasi goreng seafood dengan lahap.
"Wulan, kamu belum menjawab pertanyaan ku." ucap Leon yang menatapnya curiga. Gadis itu pun menghentikan aktivitasnya, lalu mendongak menatap laki-laki dihadapannya.
"Rasanya tidak ada yang perlu di jawab. Karena tidak terjadi apa-apa dengan ku. Tadi aku hanya salah bicara. Aku sebenarnya sudah lama tidak berjemur, jadi ketika aku kelamaan ngga pakai baju jadi kedinginan. Sudah puas kan? Ngga usah banyak tanya, ayo segera habiskan makanannya. Aku sudah sangat lapar."
__ADS_1
Walaupun Leon tetap menatap Wulan penuh curiga, ia tetap meneguk es nya dan menyantap makanannya.
Hari hampir sore ketika keduanya pulang dari pantai. Dan sepanjang perjalanan, Leon beberapa kali bertanya pada Wulan tentang perubahan sikapnya. Namun Wulan terus saja mengelak. Dan justru membicarakan tentang hal lain.
Setelah menempuh sekian waktu perjalanan, akhirnya keduanya tiba di rumah Wulan. Gadis itu segera masuk rumah setelah mobil Leon keluar dari pelataran rumahnya.
Setelah membersihkan diri, Wulan berdiam diri di kamar sambil membaca bukunya. Ia manggut-manggut, dan kadang mengernyitkan dahi ketika membaca deretan kalimat yang berbeda dengan keyakinan yang ia anut selama ini.
Bahkan beberapa nya ia coba aplikasi kan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun masih banyak lupanya daripada ingatnya. Wajar saja, karena baru beberapa hari ia mempelajari semua itu.
Lagi-lagi ketukan pintu kamar selalu membuatnya terkejut. Sehingga dengan terpaksa menghentikan aktivitasnya itu.
Ia sudah bisa menebak siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Makanya buku yang ia baca kembali ia masukkan dalam laci. Dan ketika membuka pintunya, tebakannya selalu benar. Yakni mommy nya, yang mengajak untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Tak perlu menolak, karena perut Wulan juga lapar. Sesampainya di ruang makan, Wulan menuangkan nasi ke piringnya di sertai sayur dan lauk pauk. Lalu menyuap nasi ke mulutnya.
"Wulan, hati-hati dong kalau makan. Pasti lupa doa." ujar mommy sambil menggelengkan kepalanya.
Wulan lalu berdoa sesuai keyakinan keluarganya, dan ketika telah selesai berdo'a, ia mengucapkan doa makan secara lirih seperti yang tertera dalam buku yang ia pinjam dari Salman.
'Maafkan Wulan Tuhan, karena menggunakan dua doa saat makan. Jujur Wulan masih bingung, kenapa ada banyak keyakinan di dunia ini. Jika Engkau berkenan, tunjukkan aku jalan lurus mu.' bisik Wulan dalam hati.
"Wulan, kok malah diam habis doa? Memang doa apa saja yang kamu ucapkan?" ujar Daddy yang membuat Wulan cukup kaget.
"Eh, pastinya doa makan dong Dad. Wulan hanya bersyukur saja, malam ini masih bisa menikmati beraneka ragam jenis makanan yang lezat. Ayo dilanjutkan lagi makanannya." ucap Wulan sambil menyuap nasi ke mulutnya lagi.
Daddy dan mommy saling beradu pandang merasakan sesuatu yang tak biasa pada putri semata wayangnya. Namun keduanya tak berani berspekulasi lebih jauh.
__ADS_1