Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
9. Tragedi kecil


__ADS_3

"Oh no. Baju ku." pekik Wulan. Sambil menunduk ke arah bajunya yang telah basah oleh kuah opor.


Seseorang yang ada dihadapannya membulatkan matanya menyadari sebuah kesalahan kecil terjadi di depan matanya. Dan yang lebih parah adalah ia melihat lekuk tubuh wanita yang ada dihadapannya. Karena pakaiannya yang sangat minim.


"Maaf, sepertinya kamu tidak melihat ku membawa makanan." ucap seseorang itu.


"Mata ku masih awas. Tidak mungkin buta. Kamu saja yang....."


Wulan seketika terdiam sambil membulatkan matanya melihat seseorang yang ada dihadapannya. Lelaki yang sejak tadi membuatnya berkoar-koar tanpa rasa malu. Dia lah Salman.


"Iya, sekali lagi aku minta maaf jika sudah membuat bajumu kotor. Mari ikut aku ke mobil. Aku ganti pakaian mu yang kotor." ucap Salman dengan tulus. Ia lebih baik mengalah daripada mendengar ocehan gadis dihadapannya.


'Wow, kesempatan yang bagus.' batin Wulan penuh senyum. Kemarahannya seketika sirna.


"Okay, cepat tunjukkan jalannya." ucap Wulan berpura-pura angkuh.


Sesampainya di mobil, Salman mengambilkan baju gamis mamanya dan menyerahkan pada Wulan tanpa melihatnya.

__ADS_1


"Ini, serius untukku?" tanya Wulan, sambil menempelkan gamis di badannya.


"Iya, pakai saja. Itu punya mama ku. Dia tidak akan marah. Karena gamisnya banyak. Daripada kamu pakai saringan tahu."


"Apa! Kamu mengatakan baju ku saringan tahu? Memang kamu pernah lihat saringan tahu? Apa kamu tidak tahu berapa harga baju ku?" sentak Wulan dengan berapi-api.


"Cepat pakailah. Aku tidak mau ada yang melihat kita berdua disini. Aku takut timbul fitnah. Harga sebuah baju itu tidak penting. Yang penting adalah baju itu bisa digunakan untuk menutup aurat. Percuma baju harga mahal, kalau tidak bisa berfungsi dengan baik." Salman terus saja berkata tanpa menoleh ke arah Wulan. Membuat gadis itu heran.


"Kamu itu lagi bicara sama aku. Kenapa lihatnya ke arah lain? Ngga sopan banget sih."


DEG!


Jantung Wulan seakan berhenti berdetak. Banyak lelaki yang memuji penampilannya, karena lekuk tubuhnya yang terekspose sempurna. Tapi laki-laki dihadapannya justru bersikap lain.


"Dimana aku harus pakai baju ini?" akhirnya Wulan mengalah. Lebih baik ia pakai baju itu daripada memakai baju kotor.


"Di dalam mobil ku juga boleh. Aku tak kan melihat." Salman segera membuka pintu mobilnya, lalu kembali menoleh ke arah lain. Gadis itu patuh mengikuti setiap perkataan Salman.

__ADS_1


"Kenapa aku ngerasa aneh pakai baju seperti ini." gumam Wulan saat keluar dari mobil.


Ia memperhatikan bayangan dirinya dari mobil. Salman pun menoleh ke arahnya. Dalam hati ia memuji kecantikan gadis dihadapannya. Yang sangat pas memakai baju mamanya.


"Ayo kita segera kesana. Aku khawatir mama akan mencari ku." Salman berjalan mendahului Wulan. Tampak gadis itu berulang kali memegang baju yang ia pakai, untuk memastikan penampilannya.


Sesampainya di tempat acara, Salman mencari keberadaan mamanya.


"Kamu dari mana saja sih nak? Mama tadi nyariin kamu lho." dan tebakan Salman pun benar. Jika mamanya pasti mencarinya. Ia pun menyunggingkan senyum.


"Tadi ketemu sama teman Salman, bajunya kotor. Jadi aku kasih baju mama yang di mobil. Ngga apa-apa kan?"


Mama Laura mengernyitkan dahi menatap wajah anaknya. Pasalnya ia tahu jika anaknya tidak memiliki teman wanita.


"Salman ambil makanan dulu ya ma." Salman segera berlalu menuju meja prasmanan. Di sana ia kembali bertemu dengan Wulan. Namun tak terlalu memperhatikannya.


'Aku heran sama tuh cowok. Apa sukanya jeruk makan jeruk ya? Kok liat aku seperti ngga ada tertariknya sama sekali. Aku harus cari tahu nih. Hem, bikin penasaran aja.' batin Wulan sambil menyunggingkan senyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2