
Saat makan Leon terus memperhatikan gerak-gerik Salman yang terlihat santai namun tetap berwibawa meskipun sedang bercanda dengan rekan kerjanya.
Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa tak suka melihat pemuda yang duduk tak jauh darinya itu. Ia merasa laki-laki itu akan menjadi saingan terberatnya dalam mendapatkan hati Wulan.
Karena terdorong oleh rasa itu, ia ingin melindungi apa yang seharusnya ia dapatkan.
Di meja seberang, yakni meja Salman dan rekan kerja. Setelah mereka menghabiskan makanannya sambil berbincang-bincang, mereka beranjak dari duduknya untuk meninggalkan tempat itu.
Salman pun bangkit berdiri, dan berjalan mendahului mereka menuju meja kasir untuk membayar total makan siang bersama.
Sepintas melewati meja Wulan, baik Salman maupun Wulan pura-pura tidak saling mengenal. Namun ekor mata keduanya saling melirik walaupun hanya sedikit.
"Hem, seperti itu pemuda yang pekerja keras." celetuk Daddy yang membuat Wulan tergeragap, karena takut ketahuan sedang melirik Salman.
"Siapa yang Daddy maksud?" tanya Wulan menanggapi pernyataan daddy-nya.
"Tuh." Daddy menunjuk sosok pemuda yang berdiri di depan meja kasir.
Wulan dan Leon mengikuti arah pandang dan telunjuk Daddy yang ternyata mengarah pada Salman. Seketika gadis itu berbinar hatinya, melihat daddy-nya memuji Salman.
'Hem, bagus sekali Daddy memuji kak Salman. Semoga seterusnya begitu.' doa Wulan dalam hati. Sedangkan Leon terlihat tidak senang karena Daddy memuji Salman.
__ADS_1
"Apa om Marquez mengenalnya?" tanya Leon lirih.
"Tidak, hanya dengan melihatnya sekilas om bisa tahu mana laki-laki yang pekerja keras dan bukan." balas Marquez sambil menggelengkan kepalanya. Yang membuat Leon semakin tidak senang pada Salman.
"Bagaimana bisa orang menilai hanya sekedar melihat untuk yang pertama kali om?" sangkal Leon yang membuat Wulan tidak suka, karena terkesan meremehkan.
"Om sudah lama terjen di dunia bisnis. Jadi hafal betul tipikal seseorang."
Leon hanya bisa terdiam sambil mendengus kesal. Rasanya percuma dia banyak berbicara yang menyudutkan Salman. Bukannya tambah percaya pada omongannya, tapi justru Marquez menyangkalnya.
'Kali ini Wulan setuju apa kata Daddy. Kak Salman itu memang tipe orang yang pekerja keras. Baik budi pekertinya juga. Ngga bakal nyesel kenal sama dia.' batin Wulan berapi-api.
Saat Daddy hendak membayar Leon mencegahnya karena ia ingin membayar total makan mereka. Saat itulah Wulan pamit untuk masuk mobil lebih dulu.
Tak lupa Daddy Marquez mengucapkan terima kasih pada Leon karena sudah membayar makanannya saat keduanya berjalan beriringan menuju mobil setelah membayar makanan mereka. Senyum tersungging di wajah Leon atas ucapan Daddy Marquez itu.
"Om, boleh Leon bicara hal penting?" ucap Leon tiba-tiba yang membuat Marquez menghentikan langkahnya karena penasaran dengan perkataan pemuda dihadapannya. Tinggal bertanya, kenapa harus minta ijin segala.
"Soal apa?"
"Asal om tahu, pemuda yang om puji tadi kenal dengan Wulan. Dan karena dia lah Wulan berubah." ucap Leon dengan penuh penekanan yang membuat wjah Marquez merah padam.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu?"
"Lewat tatapan mata keduanya om. Apa om akan melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka? Biar Leon bantu."
"Caranya?"
"Kirim Wulan ke Belanda om. Biarkan dia belajar bekerja di perusahaan papa Leon. Jika Wulan masih di Indo, kemungkinan besar mereka akan masih sering bertemu."
Marquez sejenak berpikir, hingga guratan di wajahnya semakin terlihat jelas.
Dia hanya memiliki seorang anak, bagaimana mungkin ia akan memisahkannya dari istrinya. Pasti istrinya tidak akan mau menerima hal itu.
Jika istrinya ikut menemani Wulan di Belanda, tentu saja ia bakal kesepian, karena tidak akan mendapatkan jatah setiap malam.
Jika dirinya ikut ke Belanda, lantas siapa yang akan mengurus perusahaan nya di Indo.
Hal itu membuatnya cukup gusar.
"Om, om Marquez." seru Leon yang menyadarkan Marquez dari lamunannya.
"Om pikirkan nanti Leon, ayo kita ke mobil. Om tidak mau Wulan curiga pada kita." tegas Marquez. Keduanya pun berjalan beriringan menuju mobil, yang mana Wulan sudah menunggu keduanya dengan tidak sabar.
__ADS_1