
"Honey. Katanya anak kita mau ikut mengantar Marco dan istrinya. Mana?" Marquez menanyakan keberadaan anaknya, yang tak kunjung tampak batang hidungnya.
"Entahlah, mungkin masih tidur."
"Apa mereka sedang..."
"Honey." tegur mommy Melati dengan mata mendelik.
"Aku kan belum melanjutkan ucapan ku." Daddy meringis ke arah istrinya.
"Tapi aku sudah tahu arah pembicaraan mu."
Mendengar ocehan keluarga suami dan keluarga Wulan membuat Fatim ingin pipis. Ada saja yang membuat mereka terkekeh karena hal ranjang yang juga belum usai.
Untung saja, Salman menghampiri ke arah mereka duduk.
"Maafkan saya dan Wulan, om, tante. Kami tidak bisa mengantar kalian ke bandara. Karena Wulan sedang sakit."
"Sakit?" seru mommy dan Daddy bersamaan.
"Sakit apa anakku, Salman?" Daddy begitu panik ketika mendengar anaknya sakit.
"Saya juga kurang tahu, Dad. Maka dari itu Salman akan membawanya ke rumah sakit."
"Ciri-cirinya bagaimana?" cerca Daddy.
"Em, tadi dia muntah-muntah. Apa mungkin dia punya riwayat penyakit asam lambung atau maag? Kemarin dia juga sempat makan es krim hampir sepuluh cup." balas Salman, setelah mengingat apa yang dirasakan istrinya.
"Aneh. Kenapa Wulan murka sekali. Makannya seperti orang kelaparan." gumam mommy.
__ADS_1
"Tunggu-tunggu. Apa mungkin Wulan, hamil." ucap Marquez dengan seulas senyum tersungging di bibirnya.
"Ha-hamil." gumam Salman sembari berpikir. Dia tidak pernah tahu ciri-ciri orang hamil itu seperti apa.
Keluarga Leon dan Fatim menatap mereka dengan wajah tegang, saat membicarakan Wulan. Fatim yang memang seorang dokter, menerka apa yang terjadi dengan istri Salman itu.
"Ya sudah, kamu bawa ke rumah sakit sekarang." titah Marquez.
"Kamu lupa. Aku juga memiliki menantu seorang dokter." ucap Marco.
Marquez menoleh ke arah Fatim, dan seketika menepuk jidatnya.
"Maafkan aku, Marc. Benar-benar lupa. Tapi, bukan kah kamu harus segera berangkat. Sebelum ketinggalan pesawat." Marquez melirik arloji yang ia kenakan di pergelangan tangan kirinya.
"Oh iya, aku lupa. Ya sudah, kamu bawa ke rumah sakit sekarang saja, nak Salman."
"Baik, om. Permisi semua." Salman berlari kecil kembali ke kamarnya.
"Sayang, ayo kita ke rumah sakit sekarang." Salman menghampiri Wulan yang terbaring lemas di atas tempat tidur.
Ia membantu Wulan mengenakan jilbabnya. Setelah rapi, ia mengangkat tubuh Wulan dan membawanya menuju mobilnya. Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Walau matanya terpejam, ia masih bisa menyunggingkan senyum.
"Aduh, enak banget punya suami perhatian. Kemana saja di gendong. Kalau begitu aku sakit saja terus." racau Wulan tak tentu.
"Sayang. Istighfar. Jangan mendoakan keburukan untuk kita. Entah kamu sakit atau tidak. In shaa Allah aku tetap akan selalu perhatian dengan mu." tegas Salman.
"Kamu tidak apa-apa kan, honey?" mommy dan Daddy bergegas menghampiri Salman yang tengah menggendong Wulan.
"Tidak apa-apa, mom. Suami ku saja yang terlalu panik." balas Wulan dengan santai.
__ADS_1
Daddy segera masuk ke dalam mobil, diikuti oleh mommy, Salman dan Wulan. Daddy pun segera melajukan mobilnya.
"Ya Allah, Wulan ini sudah tidak apa-apa. Kenapa kalian begitu mengkhawatirkan Wulan, sih." cicit Wulan.
"Karena kami sayang sama kamu." ucap ketiga orang itu kompak. Yang membuat Wulan terkekeh.
Akhirnya mobil tiba di pelataran rumah sakit. Mereka berempat segera turun dan mendaftar.
Saat sedang antri mendaftar, mereka berpapasan dengan Adam, papanya Fatim. Mereka bercakap-cakap sejenak. Lalu laki-laki itu segera menghubungi rekan dokternya.
Setelah selesai menghubungi rekannya, ia mengantarkan rombongan Salman menuju ke ruangan dokter yang dimaksud.
"Terima kasih atas bantuannya, om." ucap Salman sebelum masuk ke ruangan itu.
"Sama-sama, semoga istrimu cepat sembuh ya." Adam menepuk pelan bahu Salman.
Salman dan Wulan segera masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, mereka di sambut dengan senyum ramah oleh dokter wanita. Lalu dokter itu mempersilahkan mereka duduk.
Dokter itu meminta pasiennya untuk menyampaikan keluhannya. Wulan pun menceritakan apa yang ia alami.
Sedangkan Salman yang tidak puas dengan penjelasan istrinya, menambahi penjelasannya dengan kelakuan Wulan yang aneh beberapa hari belakangan ini.
Dokter itu kembali mengulas senyum ketika melihat antusias Salman menceritakan penyakit istrinya. Setelahnya, wanita yang mengenakan jas putih itu mengambil sebuah gelas kecil dan menyerahkan pada Wulan.
"Silahkan anda tampung air seni anda di wadah ini."
"Tidak apa-apa, sayang. Biar cepat ketahuan penyakitnya. Mau aku temani?" bisik Salman.
Wulan menggeleng lemah. Lalu menerima gelas kecil itu, dan berjalan menuju toilet.
__ADS_1
Salman masih duduk di depan sang dokter dengan raut wajah yang cukup tegang. Dokter yang melihat raut tegangnya, hanya menyunggingkan senyum tipis.
'Semoga istriku sakitnya tidak macam-macam ya Allah.' batin Salman.