
Kakek dan nenek Fatim akhirnya tiba di rumah sakit, tempat cucunya di rawat.
Dua kali keduanya berkunjung ke rumah sakit itu. Tetap saja membuat mereka merasa takjub. Karena bangunannya yang besar dan design-nya bagus.
Banyak tanaman yang di tanam di sekitar ruangan, sehingga terkesan sangat rindang.
"Kita tanya perawat saja, kek. Dimana Fatim di rawat." Kakek Somad pun mengangguk setuju, dari pada nyasar di rumah sakit sebesar itu.
"Permisi, sus. Mau tanya, ruang Fatim anaknya Adam dimana ya?" Tanya kakek Somad, pada resepsionis.
Perawat itu mengernyitkan dahi sambil sejenak berpikir.
"Apa yang anda maksud adalah putrinya dokter Adam yang baru saja melahirkan?" Kakek dan nenek langsung mengangguk antusias.
Perawat yang berjaga di bagian resepsionis itu, segera menyuruh salah satu perawat yang melintas, untuk mengantarkan kakek dan nenek menuju ke ruangan yang di maksud.
Perawat itu juga meminta maaf pada kakek dan nenek, karena tidak begitu menghafal wajahnya. Pasangan sepuh itu tidak mempermasalahkannya, karena memang hanya dua kali itu ke rumah sakit.
**
"Assalamu'alaikum." Ucap kakek dan nenek saat keduanya membuka pintu ruang perawatan Fatim.
"Wa'alaikumussalam." Balas seisi ruangan, sambil.menikeh ke arah pintu.
"Fatim." Seru keduanya, lalu berjalan cepat menuju Fatim, yang tengah di kelilingi anggota keluarganya yang lain.
"Bagaimana keadaan mu sayang?"
"Baik, nek, kek." Balas Fatim lirih sambil menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Ke-kenapa perutnya terlihat kempes? Dimana bayinya." Kakek terbata-bata saat bertanya. Ia juga mengusap perut Fatim yang sudah datar kembali.
Mama Tiwi memang belum memberitahukan bahwa, Fatim telah melahirkan secara Caesar dan bayinya prematur. Dan barulah saat kedua orang tuanya tiba, mereka mengatakan yang sebenarnya.
Tak berselang lama setelah kedatangan kakek dan nenek, terdengar suara ketukan pintu. Mereka pun mempersilahkan masuk.
"Permisi nyonya, bayi anda menangis. Sepertinya kehausan. Apakah anda ingin memberikan asi atau memberi susu formula?" Tanya seorang perawat.
"Jika saya ingin memberikan asi, bagaimana caranya sus?"
"Anda harus menyedotnya dulu, lalu kami akan memberikan pada bayi anda."
"Apa itu tidak akan menyita waktu lama sus? Saya belum pernah melakukannya."
"Anda harus melakukannya dengan cepat."
"Baik nyonya."
Perawat itu segera keluar dari ruang perawatan Fatim. Dengan cepat ia menyiapkan peralatannya. Dan tak lama kemudian, ia sudah kembali ke ruangan Fatim.
Ia membantu ibu muda itu menyedot ASI-nya. Awalnya Fatim merasa risih, ketika aset berharganya di lihat oleh orang lain.
Tapi karena ini darurat, maka ia berusaha mengenyampingkan rasa malunya. Semua juga demi bayinya yang sangat membutuhkan ASI-nya.
Istri Leon itu menahan rasa sakit yang teramat sangat, ketika pompa asi menyedot ASI miliknya. Akhirnya setelah beberapa menit, Fatim berhasil memenuhi satu botol kecil dengan asi miliknya.
Tak membuang waktu, perawat membawa botol susu itu dan membawanya ke ruangan khusus bayi. Setelah perawat memasukkan dot ke mulut bayinya Fatim, seketika ia berhenti menangis. Bahkan tak lama kemudian, asi sebotol itu telah habis dan si bayi kembali tertidur.
**
__ADS_1
Selama di rawat di rumah sakit, keluarga Fatim selalu menemaninya. Dan belum pernah sekali pun mereka pulang.
Terang saja, semua kebutuhan telah disiapkan di ruang rawat inap Fatim. Karena sebagai direktur, tentu papa Adam memiliki kuasa yang besar di rumah sakitnya sendiri.
Hal itu juga ditunjukkan dengan bayinya Fatim yang dipindahkan menjadi satu dengan ruang rawat ibunya. Dan dengan segala alat penunjang kehidupannya.
Jadi, mereka akan dengan mudah untuk melihat dan mengecek kondisinya.
Seperti pada malam hari itu, bayi yang berjenis kelamin perempuan itu menangis. Leon yang memang tidak bisa tidur nyenyak, bergegas mendekati anaknya.
"Hi, baby. Kenapa menangis?" Tanya Leon, sambil mengecek kondisi bayinya.
Ia yang baru pertama kali berhadapan dengan bayi merah sedikit kebingungan. Ingin menyentuhnya, tapi badan sang bayi begitu lembek dan justru membuatnya geli.
"Ada apa dengan bayinya tuan?" Tanya sang perawat, yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tapi pandangannya langsung tertuju pada sang bayi tersebut.
"Tidak tahu, sus." Tutur Leon polos.
"Ternyata pipis tuan." Ungkap perawat, setelah meraba permukaan popok yang basah.
Ia pun segera menggantinya dengan popok yang bersih. Leon yang masih berada di situ memperhatikan perawat dengan seksama, agar nanti paham cara mengganti popok.
"Sudah selesai tuan, tapi masih menangis. Tolong bantu nyonya untuk memeras ASI-nya. Agar bayinya bisa kembali tidur lagi."
"Baik, sus."
Leon mendekati istrinya, lalu membantunya memeras asi. Mata Leon tak berkedip ketika melihat dada istrinya yang besar. Seketika ia menelan saliva.
"Oh tidak, rasanya aku tak rela berbagi dada dengan anakku." Gumam Leon, yang membuat Fatim menatapnya tajam.
__ADS_1