Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
211. Melahirkan


__ADS_3

Mama Tiwi benar-benar merasa kesepian. Karena anak gadis satu-satunya ikut ke rumah suaminya. Andai kata rumahnya bisa di tempuh dengan berjalan kaki atau naik mobil, pastilah ia akan segera ke rumahnya.


Tapi, ini rumahnya begitu jauh. Harus menempuh perjalanan yang cukup lama. Bahkan banyak waktu yang terbuang untuk menempuh suatu perjalanan.


Akhirnya, ia menggulir layar handphonenya, untuk melakukan panggilan video call. Setelah sekian waktu berdering, akhirnya teleponnya di angkat.


Terlihat senyum di wajah mama Tiwi, saat melihat wajah anaknya yang terlihat semakin cubby. Karena ia sedang hamil.


Mereka pun saling mengungkapkan perasaan rindu. Dan banyak hal lain yang mereka ceritakan. Meskipun mereka sering melakukan panggilan telepon, tetap saja keduanya masih merasa kangen.


Cukup lama mereka melakukan panggilan video call. Hingga suami Fatim pulang. Bergegas wanita itu menutup teleponnya. Lalu menyambut suaminya.


Fatim mencium punggung tangan suaminya. Lalu mengambil alih tasnya dan yang terakhir ia membantu melepas sepatu dan dasi yang dikenakan Leon.


"Bagaimana kabar calon baby kita? Apakah rewel?" tanya Leon sembari mengusap perut Fatim yang sudah cukup besar. Karena usia kandungannya sudah masuk tujuh bulan.


"Alhamdulillah. Dia baik-baik saja." balas Fatim sambil menyunggingkan senyum.


"Alhamdulillah. Mungkin bayi kita sangat sayang dengan kedua orang tuanya. Sehingga tidak ingin merepotkan kita." Fatim mengangguk membenarkan ucapan suaminya.


"Oh iya, siapa yang tadi telepon denganmu?"


"Mama. Katanya kangen." kekeh Fatim di ujung kalimatnya.


"Sudah sebesar ini, masih juga dikangenin ya." Leon menowel dagu istrinya sambil menatapnya lekat, dan diiringi senyuman.

__ADS_1


"Namanya juga anak satu-satunya, kak."


"Okay. Kalau begitu, nanti sebaiknya kita punya banyak anak. Agar jika ada salah satu anak kita yang tidak bisa menemani kita di masa tua, masih ada anak yang lainnya. Jadi, tidak berasa kangen sekali." ucap Leon sambil terkekeh, tapi Fatim mencebikkan bibirnya.


"Memang kamu sanggup, membuatku sampai hamil berkali-kali?"


"Lhoh. Kamu mau bukti?" tanpa ba-bi-bu, Leon langsung menerkam istrinya.


**


Semenjak sholat subuh, sampai hari kembali malam, Wulan merasakan sekujur tubuhnya begitu sakit.


Awalnya, hanya sakit biasa, yang sebentar hilang, sebentar balik. Tapi lama-kelamaan, rasa sakit itu semakin menjadi.


Apalagi suaminya juga belum pulang. Ia gelisah, dan terus menerus berjalan wira-wiri tak karuan. Tiba-tiba ia ingin buang air kecil.


"Da-darah apa ini?" desisnya ketakutan.


Cepat-cepat ia membersihkan diri, lalu keluar kamar mandi. Yang bersamaan dengan Salman yang juga baru masuk kamar.


"Kok belum tidur, sayang." Salman berjalan mendekati istrinya. Ia mengamati wajah Wulan yang menyiratkan suatu rasa sakit.


"Sejak tadi pagi, badanku rasanya remuk redam, tak karuan, mas. Ini tadi keluar daraah bercampur lendiir."


Setelah berkata seperti itu, Wulan kembali meringis. Satu tangannya dibelakang pinggangnya untuk menopang berat badannya. Sedangkan satu tangannya yang lain untuk mengusap perutnya yang terasa semakin sakit.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang. Mungkin sebentar lagi kamu akan melahirkan sayang."


Salman segera mengangkat tubuh istrinya, yang beratnya mencapai sembilan puluh kilogram. Rasa takut dan cemasnya, mengalahkan rasa beratnya saat menggendong Wulan.


Wulan, melingkarkan tangannya di leher Salman agar tidak terjatuh. Karena laki-laki itu berjalan dengan begitu cepat. Bahkan terlihat setengah berlari.


"Mama, papa. Aku mau ke rumah sakit." teriak Salman saat melewati kamar kedua orang tuanya.


"Mas, ngga usah teriak-teriak seperti itu dong. Nanti telinga ku bisa rusak." Wulan menepuk dada bidang suaminya, sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ini kan lagi emergency, sayang. Tidak apa-apa sesekali berteriak."


"Mas, pelan-pelan. Ini kita melewati anak tangga lho. Aku takut terjatuh." Wulan mengingatkan.


"Siap, sayang." Salman mencoba tersenyum, walaupun ia sudah kelelahan menggendong istrinya itu. Ia harus kuat, agar tidak sampai menjatuhkan nya.


Salman berulang kali menghembuskan nafas panjang, karena lega, berhasil menggendong tubuh istrinya dengan selamat. Lalu ia meneguk air mineral yang ada di dekat pintu. Setelah meneguk hingga sisa separuh, ia mulai melajukan mobilnya.


"Mas, memang aku berat ya. Kok kamu sampai ngos-ngosan gitu?" Salman menggelengkan kepalanya.


"Siapa bilang kamu berat? Tidak ada kok. Hanya kelebihan berat badan saja mungkin. Sebaiknya, kita sama-sama berdoa. Semoga tidak ada apa-apa dengan kamu dan bayi kita, sayang." Sebelah tangan Salman meraih, tangan istrinya dan mengecupnya.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka tiba juga di pelataran rumah sakit.


Salman bergegas keluar dari mobil, lalu membuka pintu yang ada di sebelah istrinya. Sebelum mengangkat tubuh Wulan, Salman menghirup nafas dalam-dalam. Untuk menghimpun tenaga. Agar kuat mengangkat.

__ADS_1


"Bismillah." doanya sambil mengangkat tubuh Wulan yang sungguh amat terasa beratnya.


__ADS_2