
"Ma, kamu tambah cantik deh, berdandan seperti itu." Leon memuji mama Margareth yang berjalan ke arah kamarnya.
Wanita itu memang baru saja keluar dari kamar mommy Melati, karena ia belum bisa mengenakan jilbab dengan baik. Untuk itu mommy Melati membantunya.
"Ma, kamu tampak beda sekali. Semakin terlihat cantik." papa Marco yang baru keluar dari kamar juga memuji kecantikan istrinya.
Mendapat pujian dari dua laki-laki yang sangat disayanginya, membuat mama Margareth tersipu malu.
"Benar kan, ma. Apa kata Leon. Mama ku memang paling cantik." imbuh Leon lagi.
"Terima kasih pujiannya, sayang ku." Mama Margaretha memeluk Leon. Papa Marco pun ikut memeluk anak dan istrinya, dengan perasaan yang begitu bahagia.
**
Di kamar, Wulan sedang berada dalam mode manja. Ia meminta pada suaminya memakaikan baju untuknya, lalu merapikan jilbabnya.
Bukan Salman namanya kalau sampai menolak permintaan sang istri. Ia melakukan apapun permintaan istrinya dengan suka cita, walau agak merasa aneh juga.
"Nah, sudah sangat cantik." Salman berseru girang, ketika berhasil membuat Wulan semakin bertambah cantik. Jilbab yang dikenakan juga sudah pas.
Wulan yang menghadap cermin, tersenyum puas dengan sentuhan tangan suaminya yang membuatnya bertambah cantik.
"Terima kasih, mas." Wulan melingkarkan tangannya di pinggang Salman, lalu menenggelamkan wajahnya di perut suaminya. Karena saat itu posisi Salman tengah berdiri, dan Wulan duduk.
"Sayang, jangan seperti ini dong. Kamu membangkitkan singa tidur saja."
__ADS_1
"Apa maksud mu, mas?" Wulan mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.
"Kalau posisinya seperti ini, aku jadi pengen...." Salman tersenyum jahil, dengan menaikkan sebelah sudut bibirnya.
"Pengen apa sih? Aku ngga tahu deh, mas."
"Masa ngga ngerti juga sih? Biasanya kamu yang minta duluan."
"Itu, nyusul Aisyah dan Fatih." Salman meringis sambil menggaruk kepalanya.
"Bikin acara aqiqah? Kita kan belum punya bayi, mas? Siapa yang mau di aqiqah? Kamu ada-ada saja."
Wulan bangkit berdiri, dan hendak berjalan menuju rak sepatu. Tapi dengan cepat Salman memeluknya dari belakang.
Salman menghirup aroma wangi ditubuh Wulan, lalu menghembuskan perlahan. Yang membuat Wulan merinding.
"Em, nanti malam saja, mas. Aku penasaran acaranya seperti apa."
"Baiklah, janji ya nanti malam." Salman menunjukkan jari kelingkingnya di hadapan Wulan. Wanita itu terkekeh kecil, lalu membalas dengan menautkan jari kelingkingnya dengan suaminya.
"Maa syaa Allah. Tante Margareth cantik sekali." pekik Wulan saat melihat mama Margareth yang sedang duduk di ruang tamu menunggu dirinya.
Mama Margaretha memakai gamis berwarna biru muda dan jilbab berwarna pink salem.
"Kamu bisa saja, Wulan. Ini semua mommy mu juga yang membantu. Kamu itu juga semakin cantik. Tante senang melihat mu seperti itu."
__ADS_1
Leon menatap Wulan dan Salman yang tampak sangat serasi. Salman tampak gagah dengan balutan kemko panjang warna marun, dan Wulan memakai gamis yang senada dengan warna baju yang di pakai suaminya. Jilbabnya ia menggunakan warna mocca.
"Ayo kita berangkat." ajak Daddy Marquez. Semua pun mengiyakan dan berjalan menuju mobilnya terparkir.
Mereka semakin tak sabar, melihat deretan mobil yang sudah mulai memenuhi tempat parkir.
Bergegas keduanya turun, lalu berjalan menuju tempat acara. Terlihat, keluarga Aisyah dan keluarga Fatih sudah berdiri di depan rumah untuk menyambut tamu undangan.
Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Sekali lagi mengucapkan selamat atas kelahiran putra mereka. Aisyah membulatkan matanya ketika menerima kado dari Wulan yang sangat besar.
"Terima kasih banyak, Wulan. Kamu repot-repot memberikan ini semua untuk bayi ku. Semoga kamu segera menyusul ya. Diberi momongan yang sholih dan sholihah, sehat wal'afiat, dan berguna bagi agama,serta Nusa dan bangsa."
"Aamiin. Terima kasih do'anya, Ai. Aku juga sudah tak sabar untuk memiliki seorang bayi. Bahkan rencananya setelah pulang dari acara ini, aku akan segera membuatnya. Karena suamiku juga sudah tidak sabar. Iya kan, sayang?"
Wulan tersenyum menatap suaminya, tapi terlihat wajah suaminya itu memerah menahan malu, karena mendengar ucapan istrinya yang tanpa filter. Asal terobos saja seperti jalan tol.
Salman menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, lalu meringis. Malu jika harus mengakui dihadapan semua orang. Sementara keluarga yang melihat dan mendengar, tak kuasa untuk menahan tawa.
"Ayo kita segera duduk. Tidak enak dengan tamu yang berdatangan untuk bersalaman." ajak Salman mengalihkan perhatian Wulan.
"Ya sudah, kami duduk dulu ya, Ai." Aisyah mempersilahkan sambil menyunggingkan senyum.
"Sumpah. Aku yakin, jika Salman itu pasti malu banget dengan ocehan istri bulenya." bisik Fatih pada Aisyah sambil terkekeh.
"Shutt, sudahlah mas. Wulan itu memang tipikal orang yang asal bicara. Dia itu bagai matahari yang membuat es batu gampang cair." balas Aisyah dengan terkekeh pula.
__ADS_1