Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
48. Kekecewaan Wulan


__ADS_3

Sepanjang malam Wulan tidak bisa tidur, dan terus terisak, hingga matanya bengkak. Sama halnya dengan mommy melati. Sementara Daddy Marquez, ia juga terlihat sedih. Ia memeluk dan mengusap pelan punggung istrinya semalaman.


Pada pagi hari, saat jam makan pagi, mommy telah siap dan ke kamar Wulan untuk mengajaknya sarapan bersama.


Ia mengetuk pintu kamar anak gadisnya, dan tak lama kemudian pintu terbuka. Seulas senyum ia perlihatkan pada Wulan. Meskipun berat, Wulan membalas senyum itu.


"Ayo kita sarapan bersama genduk ayu."


"Maaf mom, tapi Wulan belum mandi." tanpa Wulan menjelaskan, sebenarnya mommy juga sudah tahu jika dirinya belum mandi. Terbukti dari rambut singa dan muka kusut Wulan.


"Ya sudah buruan mandi dulu gih, mommy tungguin kamu di ruang makan. Memang kamu ngga ikut Daddy ke kantor hari ini?"


"Duluan saja mom, Wulan belum lapar. Aku ijin tidak masuk kerja hari ini."


Mommy terkekeh kecil karena ucapan Wulan, yang membuat gadis itu mengernyitkan dahi.


"Kenapa mommy tertawa?"

__ADS_1


"Mommy tidak tertawa, hanya lucu saja, baru sehari ikut kerja sudah minta ijin. Itu baru di perusahaan daddy-nya sendiri. Gimana kalau bekerja di perusahaan lain? Bisa-bisa sudah di tendang keluar sebelum di terima jadi karyawati."


Wulan membenarkan ucapan mommy nya. Tapi ia pikir bisa sedikit bebas jika bekerja di perusahaan daddy-nya sendiri.


"Ayo genduk ayu ku, kamu segera mandi dan kita makan bersama." ajak mommy lagi.


"Maaf mom, Wulan tidak mau."


"Kamu masih kepikiran dengan percakapan kami semalam?" tebak mommy dan Wulan menunduk lalu mengangguk lemah.


Mommy merengkuh anak gadisnya lalu menyandarkan kepalanya di dadanya. Ia mengusap lembut punggung Wulan.


Wulan hanya diam tanpa membalas ucapan mommy nya. Semua orang tua pasti akan melakukan semua yang terbaik untuk anak-anaknya, namun terkadang si anak belum menyadari hal itu.


"Kamu mandi dan bersiap sarapan ya." ucap mommy sekali lagi, dan Wulan tetap pada pendiriannya.


"Tolong mom, beri Wulan waktu untuk sendiri." pinta Wulan sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan menghiba.

__ADS_1


Melihat hal itu, mommy tak bisa memaksanya lagi. Adakalanya sebagai orang tua perlu memberi waktu pada anaknya untuk berpikir. Terlebih hal itu menyangkut masa depannya.


Wulan balik ke kamar dan mommy berjalan gontai menuju ruang makan. Sesampainya di sana, suaminya telah duduk di sana menunggunya.


"Mana Wulan?" tanya Daddy setelah mommy duduk disampingnya.


Istrinya menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan suaminya.


"Dia tetap tidak mau makan. Bahkan saat aku kesana tadi, dia terlihat begitu kacau." ungkap Mommy dengan pandangan menerawang.


Membuat Daddy yang hendak menyuap makanan ke mulutnya mengurungkan niatnya. Ia cukup pusing karena berada di posisi yang serba salah.


"Kamu yakin akan tetap menyuruhnya ke Belanda?" tanya mommy dengan serius sambil menatap wajah suaminya.


"Hargai keputusan ku honey. Karena berada di posisi ku sebagai seorang kepala keluarga di tuntut harus tegas. Aku terpaksa melakukannya, karena tidak punya pilihan lain." Marquez menggenggam erat tangan istrinya.


Dengan berat hati mommy menyunggingkan senyum tipis karena tidak tahu harus berkata apa. Selain mendukung keputusan suaminya.

__ADS_1


Keduanya menikmati sarapan pagi dengan tidak berselera. Setelahnya Marquez pamit ke kantor, karena jam sudah menunjukkan pukul 8. Mommy mengantar suaminya sampai ambang pintu dan melambaikan tangannya memberi semangat pada suaminya.


__ADS_2