Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
161. Menunggu kedatangan Fatim


__ADS_3

Di koridor rumah sakit, terlihat keluarga Aisyah tengah berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju ruangan IGD.


Di belakang mereka terlihat keluarga Fatih yang mempercepat langkah mereka, agar bisa mengimbangi langkah besannya. Dan memiliki tujuan yang sama. Yakni ruang IGD.


"Bagaimana keadaan Aisyah, Fat?" tanya umi Rosyidah, yang membuat ke empat orang yang duduk menunggu Aisyah mendongakkan kepalanya.


Oek...Oek


Belum sempat Fatih menjawab pertanyaan ibu mertuanya, sudah terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang IGD.


"Alhamdulillah." ucap mereka serempak, sembari mengusap wajah mereka yang berbinar bahagia karena mendengar suara tangisan bayi itu.


Mereka saling beradu pandang dan memeluk.


"Mulai detik ini, kita akan menjadi seorang nenek, Ros." ucap umi Anisa pada umi Rosyidah. Umi Anisa adalah ibunya Fatih, dan umi Rosyidah adalah ibunya Aisyah.


"Apakah kita sudah pantas, Bay. Di panggil kakek oleh anaknya Aisyah dan Fatih?" celetuk abi Andre pada Abi Bayu.


"Aku masih terlihat ganteng, dan rambut ku juga belum beruban, Ndre. Rasanya belum pantas di panggil kakek." balas Abi Bayu dengan mimik wajah pura-pura menangis.


"Kalau ngga mau di panggil kakek, di panggil aki saja." timpal umi Anisa, yang membuat mereka cukup tergelak, setelah suasana tegang yang terjadi karena menunggu Aisyah melahirkan.


Jika bertemu, mereka memang selalu melempar candaan, karena mereka memang bersahabat sejak dulu saat masih sekolah. Andre adalah kakak kelas Bayu. Yang juga merupakan sahabat baik papa Reyhan.

__ADS_1


Terdengar suara pintu yang dibuka. Bergegas mereka mendekat ke arah pintu tersebut.


"Bagaimana keadaan istri dan bayi saya, sus?" Fatih langsung menodong perawat itu dengan pertanyaan.


"Alhamdulillah, semuanya baik. Tunggu sebentar ya, kami akan segera membawa ibu dan bayinya menuju kamar rawat inap.


Setelah berkata seperti itu, perawat berjalan meninggalkan mereka untuk memanggil beberapa rekan sesamanya. Untuk membantu memindahkan pasien.


Kini, Aisyah dan bayinya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Fatih mengadzani bayi mungilnya yang berjenis kelamin laki-laki dengan suara yang sangat merdu.


Ia mengucapkan terima kasih pada istrinya dengan mengusap lembut kepalanya, dan tangan satunya menggendong bayinya.


"Oh, so sweet." celetuk Wulan sambil menangkupkan kedua tangannya di pipinya sendiri, matanya terlihat mengerjap, dan bibirnya mengurai senyum.


"Sayang." bisik Salman sambil menyenggol lengan istrinya.


"Jangan seperti itu. Aku ngga enak sama yang lain. Padahal aku juga sudah romantis lho sama kamu."


"Kurang." balas Wulan singkat.


"Okay, sampai rumah aku tambahin. Asal disini jangan malu-maluin." Wulan menanggapi ucapan suaminya dengan meringis.


**

__ADS_1


Sementara itu, di ruangan tempat Leon berada. Pria itu tampak resah, menunggu kehadiran Fatim.


"Leon, jatah makan sore mu keburu dingin. Ayo segera dimakan. Habis itu segera minum obat, agar cepat sembuh." Mama Margaretha menasehati anaknya.


"Sebentar, ma. Dia belum juga datang. Padahal sudah Leon telepon, dan kirim pesan." Leon tak berhenti menatap pintu, berharap kehadiran Fatim.


"Kamu nungguin, Fatim?"


"Ya siapa lagi dokter yang bisa Leon percaya selain dia. Dokter disini ngga ada yang benar. Enak saja main botakin rambut Leon, tanpa seijin ku."


Mama Margaretha menghela nafas panjang.


"Mereka itu mau mengambil penyakit dari dalam kepala mu. Kalau penyakit itu tidak segera di ambil, kamu malah bisa selamanya tidak bisa bertemu dengan Fatim. Alias meninggal."


"Mama! Bicaranya buruk seperti itu sih? Perkataan kita itu adalah doa. Kalau Leon sampai meninggal duluan sebelum menikah, siapa yang akan memberi mama cucu?" Leon mendelik ke arah mamanya.


Sejak tadi papa Marco yang duduk di sofa, mendengar pertengkaran anak dan istrinya, kini ikut mendekat.


"Kamu bicara soal cucu? Pacar saja tak punya." papa Marco meledek Leon. Istrinya juga ikut terkekeh mendengar hal itu. Leon sendiri semakin memasang wajah tak suka.


"Papa dan mama itu sama saja. Pantas saja, Leon tak bisa mendapatkan hati Wulan. Pasti ini semua karena papa dan mama tidak ridho. Iya kan?"


"Baru juga kenal dengan Fatim beberapa hari. Gaya bicaranya sudah sama saja. Jangan-jangan kalau kelamaan di Indo, kamu bisa jadi mualaf seperti Wulan dan keluarganya, ya?" tebak Marco.

__ADS_1


Leon seketika menutup mulutnya. Memikirkan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya tadi. Memang ada beberapa hal yang hampir sama seperti dengan yang pernah diucapkan Fatim dan Salman.


"Memang kenapa, pa. Kalau Leon mengikuti jejak mereka? Itu kan hak nya Leon. Ternyata mereka itu baik. Tidak seburuk seperti dalam bayangan ku. Apalagi setiap perkataan yang keluar dari mulut Salman dan Fatim, selalu berhasil menusuk hati ini." Leon berkata apa adanya pada kedua orang tuanya.


__ADS_2