Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
196. Drama pagi hari


__ADS_3

"Lhoh, sayang. Kok kamu malah tidur duluan sih." protes Leon pada Fatim, yang sudah terbaring di atas ranjang tempat tidurnya.


"Ini kan sudah malam. Memangnya mau ngapain kak. Kalau ngga tidur?" Fatim memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman.


"Ya, kita malam pertama dulu lah." Leon menowel dan menggelitiki Fatim.


"Malam pertama?" ulang Fatim sambil menoleh ke arah suaminya. Leon pun mengangguk sambil tersenyum sumringah.


"Malam pertama kita sudah lewat dua bulan yang lalu, kak. Apa kamu lupa?"


"Iya aku tahu. Dan tidak bakal lupa dengan malam yang mengesankan itu. Tapi ini adalah malam pertama kita setelah menggelar resepsi pernikahan. Aku mau pernikahan kita semakin berkesan." cicit Leon, mencoba untuk merayu istrinya. Agar ia mau melayaninya malam itu.


"Aku capek. Karena banyak acara menjelang pesta pernikahan kita di gelar." gumam Fatim, lalu menguap dan memeluk guling nya.


Sudah dua Minggu, Fatim selalu menolak ajakan Leon, untuk berhubungan. Ada saja alasannya. Bahkan wanita itu juga sering bersikap aneh.


Di tengah malam, ia selalu membangunkannya , karena mengeluh lapar. Setelah kenyang, ia tidak bisa tidur. Melainkan melihat film Korea.


Leon pun harus ikut makan malam dan menonton film itu. Kalau tidak, Fatim bakal marah.


Meskipun begitu, Leon tidak bisa marah seutuhnya pada Fatim.


"Kak, pijitin badan aku." pinta Fatim, sambil menunjuk ke arah punggungnya.


"Ya ampun, sayang. Kamu benar-benar tega. menyiksaku seperti ini." Leon memijit Fatim disertai ekspresi menangis, yang dibuat-buat.


Tak lama kemudian, Fatim tertidur pulas. Leon pun benar-benar tidak mendapatkan jatahnya. Akhirnya ia merebahkan diri di samping istrinya, dan memeluknya. Bersiap untuk tidur. Karena ia sudah yakin, malam nanti Wulan akan membangunnya.


**


Keesokan paginya, Fatim berlari ke kamar mandi yang ada dalam kamarnya. Karena merasa perutnya mual. Leon yang mengetahui hal itu, bergegas menyusulnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Leon, sembari memijit tengkuk Fatim.


"Perut ku rasanya di aduk-aduk."


"Oh, mungkin karena semalam kamu terlalu lama lihat filmnya. Aku yang baru tidur sebentar juga pusing dan merasa sedikit mual."


Setelah merasa jauh lebih baik, keduanya kembali ke ranjang tempat tidur.


"Kak, aku mau bubur ayam yang ada di ujung gang sebelah timur dari komplek ini. Aku beri kamu waktu lima menit, untuk mendapatkannya."


"Iya-iya aku belikan." Leon bergegas keluar kamar.


Masa bodoh dengan penampilannya yang tak jelas. Karena ia hanya mengenakan celana boxer dan kaos dalam.


"Pak, anterin saya beli bubur ayam dong. Pakai motor bapak." Leon sengaja mengajak security rumah, karena tak bisa mengendarai sepeda motor. Jika harus menggunakan mobil, itu kelamaan.


Security mengangguk, lalu keduanya berboncengan mengendarai motor matic itu.


"Bang, bubur ayamnya dua porsi ya."


"Maaf, bang. Buburnya sudah habis. Ini baru mau saya bereskan."


"Masa sih. Saya ngga percaya. Coba saya lihat dulu." Leon pun membuka tutup panci, dan memang benar apa yang dikatakan oleh Abang penjual, bahwa buburnya telah habis.


"Hem, dibilangin ngga percaya. Aneh banget sih, bule satu ini." gumam Abang penjual sambil geleng-geleng kepala.


"Gawat, pak..Kita harus cari ditempat lain. Ayo, buruan pak." Leon kembali membonceng dengan cepat.


Security mengendarai motornya dengan cepat. Agar lekas sampai di tempat penjual bubur yang satunya lagi. Yang mangkalnya juga tidak terlalu jauh dengan penjual bubur yang pertama.


"Bang, buburnya dua porsi ya, untuk dibawa pulang."

__ADS_1


"Siap, mister."


Penjual itu segera membuatkan dua porsi bubur ayam. Tak lama kemudian, ia sudah menyerahkan pesanan Leon.


"Berapa, bang?" tanya Leon sembari mencari keberadaan dompetnya dalam saku celananya.


"Lima puluh ribu saja, mister."


"Astaga, pak. Dompetku ngga ada. Sepertinya tadi aku lupa membawa dompet. Tolong bayarin dulu." Leon meringis pada security.


Laki-laki berseragam navy itu pun segera merogoh selembar uang biru, dan menyerahkan pada penjual.


Leon kembali menyuruh security untuk menambah laju kecepatan sepeda motornya. Agar keduanya lebih cepat sampai rumah.


"Uangnya nanti ya, pak." ucap Leon, sembari berlari kecil ke arah rumah.


Ia benar-benar takut jika istrinya itu memarahinya. Apalagi waktu yang diberikan istrinya hanya lima menit.


"Sayang, bangun. Ini aku sudah belikan bubur ayam request mu." Leon meletakkan pesanannya di atas meja nakas, lalu menggoyangkan tubuh Fatim untuk membangunkannya.


"Apa-apaan sih, mas. Ganggu orang tidur saja." gerutu Fatim, dengan mata masih terpejam.


"Ini aku sudah belikan bubur ayam untukmu. Ayo kita makan sama-sama." balas Leon dengan bersemangat.


"Lhoh, aku ngga bilang minta bubur ayam. Yang aku mau itu, sate ayam." tegas Fatim, lalu ia membuang nafas kasar.


"Tidak, sayang. Tadi kamu minta bubur ayam yang ada di ujung gang sebelah timur lho."


"Kak Leon saja yang salah dengar. Orang aku maunya sate ayam. Ya sudah, keluar sana. Belikan aku sate ayam."


Dengan bermonolog sendiri, Leon keluar kamar, dan berniat untuk membelikan sate ayam, istrinya.

__ADS_1


__ADS_2