
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini sudah hampir sebulan sejak peristiwa lamaran yang di tolak. Dan kini kedua keluarga calon mempelai telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan penuh semangat.
Di kediaman Fatih.
Di depan rumahnya telah di pasang tenda tarub untuk menampung tamu undangan. Karena memang rumahnya tidak sebesar dan semegah rumah keluarga Salman.
Deretan kursi dan meja juga telah di tata sedemikian rupa. Dekorasi pelaminan terlihat elegan dengan gaya khas adat Jawa.
Di rumahnya, juga telah berkumpul ibu-ibu yang memasak berbagai olahan makanan untuk tamu undangan. Barang seserahan juga tengah di bentuk dan di hias sedemikian rupa. Sehingga menghasilkan bentuk-bentuk yang indah lagi unik.
Di kediaman Aisyah.
Pemandangan yang hampir sama juga terjadi di rumah Aisyah. Depan rumahnya juga telah di pasang tenda tarub. Dekorasi pelaminan yang mewah. Deretan kursi dan meja juga telah di tata sedemikian rupa.
__ADS_1
Ibu-ibu tetangga sekitar pondok, dibantu oleh para santriwati memasak dalam jumlah yang sangat besar. Karena bisa dipastikan tamu yang hadir akan membanjiri tempat acara.
Di sudut kamar, Aisyah tengah di kelilingi beberapa temannya. Salah satu temannya sangat ahli melukis tangannya dengan menggunakan hena. Sedangkan teman-temannya yang lain sebagai team hore yang membuat kamar itu terdengar berisik. Karena penuh canda tawa yang tiada habisnya.
"Hi, every body." suara sumbang nan cembreng membuat mereka yang tengah tergelak seketika terdiam dan menoleh ke ambang pintu.
Tampak seorang wanita cantik berkulit putih, hidung mancung seperti Pinokio, rambut hitam keperakan yang panjang dan tergerai indah, baju tembus pandang yang hanya memiliki panjang sekitar 1 meter menempel sempurna di tubuh langsing dan tingginya. Tak lupa sepatu high heels yang memiliki tinggi setengah meter, membuatnya semakin terlihat tinggi seperti tower. Siapa pun yang melihatnya akan terpesona dengannya.
"Iyalah, memang siapa lagi." sahutnya sambil menutup pintu lalu berjalan melenggok mendekati teman-temannya.
"Duh, genduk ayu ku dah mau nikah aja sih. Ngga nungguin aku." cicitnya sambil memeluk dan bercipika cipiki dengan Aisyah. Lalu menyerahkan sebuah kado yang cukup besar bentuknya.
"Selera mu terlalu tinggi sih. Jadi keduluan aku deh."
__ADS_1
"Duh, bukan selera ku yang ketinggian. Tapi mereka aja yang ngga mau sama aku, karena udah over thinking duluan." balas Wulan yang membuat teman-temannya kembali tergelak.
"Gimana cowok ngga pada over thinking sama kamu. Orang kamu aja tingginya sudah seperti tiang bendera. Belum lagi darah campuran yang mengalir dalam tubuh mu. Di tambah kekayaan orang tuamu yang membuat cowok udah minder duluan." sahut temannya yang lain.
"Ah, whatever. Nanti kalau udah ketemu sama jodoh. Aku juga langsung nikah kayak Aisyah. Iya kan Ai?"
Aisyah hanya bisa mengangguk menanggapi si biang ulah, yakni Wulan. Meskipun Wulan berbeda dalam segala hal dengan teman-temannya yang lain, sebenarnya ia sangat baik.
Selalu mentraktir teman-temannya, membagi kado pada teman-temannya padahal temannya tidak sedang berulang tahun, memberikan les privat pada temannya yang membutuhkan tanpa memungut biaya, karena memang dia terlahir dari kedua orang tua yang memang kaya.
Namun kekayaannya itu tidak membuatnya sombong. Dan masih banyak lagi kebaikan dalam dirinya yang tidak bisa disebutkan.
Sebenarnya banyak lelaki yang menaruh hati bahkan memuja sosok Wulan. Mereka pun saling berlomba untuk mendapatkannya. Namun semuanya di tolak mentah-mentah. Dengan dalih, 'atiku ora keder nyawang sampean.' (Hatiku tidak bergetar melihat mu.)
__ADS_1