
Di sudut tempat lain, yakni kediaman Wulan. Pada pagi hari, ia menggeliat sambil menyipitkan matanya. Karena silau dengan sinar matahari yang perlahan menerobos masuk melalui jendela kamarnya.
Tangannya meraba sisi kanan dan kiri tempat tidurnya, mencari keberadaan handphonenya. Setelah menemukannya, ia membuka aplikasi WhatsApp, karena penasaran apakah pesannya sudah di balas oleh Salman atau belum.
Dan, matanya membulat ketika melihat balasan pesan dari laki-laki pujaan hatinya. Ia menajamkan penglihatannya demi membaca deretan kata itu.
'Baiklah, kamu bisa ke rumah ku mengantarkan buku itu. Jika aku belum pulang kerja, kamu bisa titipkan buku itu pada mama, Oma atau siapa pun yang ada di rumah.'
"Untuk terakhir kalinya aku pengen bisa berduaan dengannya, tapi kenapa harus di rumahnya? Beberapa hari aku menderita karena bisa dipastikan tidak akan bertemu dengannya lagi. Tapi kenapa dia terlihat biasa saja? Apa benar cinta ku ini bertepuk sebelah tangan? Huft, mungkin memang benar keputusan Daddy, mengirim ku jauh ke sana agar tidak merasakan sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan." gumam Wulan sambil menerawang.
Setelah sekian menit terbengong, ia menjejakkan kakinya menuju kamar mandi. Berharap setelah mengguyurkan air dingin dari ujung kepala ke ujung kaki membuatnya merasakan kesegaran. Segala beban yang memenuhi ruang kepalanya bisa sirna.
Sekian menit ia habiskan waktunya untuk menguras air di kamar mandinya hingga habis tak bersisa dan ia merasa puas. Barulah ia keluar dari kamar mandinya. Memakai baju, dan menyisir rambutnya pelan.
__ADS_1
Tok...Tok...Tok
"Pasti mommy." gumamnya, setelah memastikan penampilannya rapi, barulah ia berjalan membuka pintu.
"Genduk ayu ku." sapa mommy sambil tersenyum sumringah, karena melihat penampilan anaknya yang jauh lebih segar dan baik.
Tidak seperti beberapa hari yang lalu, yang selalu berpenampilan acak-acakan. Wulan pun membalas mommy nya dengan senyuman pula.
Ia meletakkan nampan itu di meja nakas dekat tempat tidurnya. Lalu menarik nafas dalam-dalam, karena dari ekor matanya, ia bisa melihat bahwa kamar anaknya itu selalu berantakan. Dan kali ini justru lebih parah. Sedangkan Wulan hanya mengekor mommy nya dan belum menunjukkan reaksi apa-apa.
"Kamu, makan dulu ya." ucap mommy sekali lagi, dan Wulan mengangguk kali ini.
Ia mengambil makanannya lalu membawa ke balkon. Duduk di kursi dan mulai menyuap makanan ke mulutnya sambil memperhatikan pemandangan sekitar.
__ADS_1
Sedangkan mommy yang masih berada di kamarnya, segera membereskan kamar anaknya yang sudah terlihat seperti kapal pecah.
Hal yang pertama ia lakukan adalah melipat selimut, merapikan tempat tidur, kosmetik di tata dan dimasukkan lagi dalam tempatnya, dan masih banyak lagi.
Semua selesai dan bertepatan dengan Wulan yang juga baru selesai makan. Ia kembali ke kamarnya dan membulatkan matanya, mendapati semuanya telah rapi. Bahkan mommy nya baru saja keluar dari kamar mandinya untuk sekedar mencuci tangan.
Wulan sangat tersentuh dengan segala kebaikan sikap Mommy nya. Ia meletakkan piring kosong nya di atas nampan, lalu memeluk mommy nya.
"Terima kasih mom. Mommy selalu sabar menghadapi tingkah Wulan selama ini." ucap Wulan sambil terisak. Mommy pun memeluk dan mengusap pelan punggung anaknya sambil tersenyum. Walaupun anaknya tak tahu jika ia tengah tersenyum untuknya.
"Kenapa harus mengucapkan terima kasih genduk ayu. Mommy melakukan semua ini juga tulus untuk mu."
Mommy memang selalu merapikan kamar Wulan yang selalu berantakan. Entah kenapa meskipun Wulan seorang gadis, kamarnya tak pernah terlihat rapi barang sedikit pun. Dalam hati ia berjanji untuk lebih memperbaiki sikap dan tingkah laku kesehariannya.
__ADS_1