Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
63. Mengganti kebiasaan


__ADS_3

Setelah mandi dan mengenakan pakaian yang rapi, Salman menuruni anak tangga, dan berjalan menuju ruang makan.


Kali ini ia mengenakan kaos polo warna hitam dan dipadukan dengan celana pendek warna cream. Kulit khas Indo yang dimilikinya membuat ia semakin terlihat menawan.


Ia duduk menghadap meja seorang diri. Karena semua memang sudah sarapan sejak tadi. Saat membuka tudung saji, di meja tersaji roti panggang dengan selai coklat kesukaannya.


Seketika hal itu mengingatkan nya pada seseorang yang hadir dalam mimpinya tadi, dan membuatnya sampai bangun kesiangan.


"Bibi." Salman memanggil asisten rumah tangganya. Dan tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya berjalan dengan sedikit tergopoh-gopoh menghadapnya.


"Iya den. Ada yang bisa bibi bantu?" tanya wanita itu sambil membungkukkan badan serta kedua tangannya berkumpul di depan.


"Apa ada makanan lain selain ini?" Salman menunjuk makanan di depannya. Bibi mengikuti arah pandang majikannya.


"Ada den."


"Baiklah, tolong bibi singkirkan makanan ini dan ganti dengan makanan lain ya."


"Baik den."


Bibi segera mengambil roti panggang dari hadapan majikannya dan membawa menuju dapur. Tak lama kemudian, ia datang bersama rekannya sambil membawa nasi, sayur dan lauk.


"Terima kasih bibi-bibi."

__ADS_1


"Sama-sama den. Ada lagi yang bisa bibi bantu?" tawar asisten rumah tangga itu lagi.


"Tolong mulai sekarang, jangan pernah hidangkan roti panggang selai coklat untuk ku. Karena mulai sekarang aku tidak menyukainya bi." tegas Salman.


Kedua asisten rumah tangga itu saling beradu pandang sambil mengernyitkan dahi. Karena merasa heran. Biasanya itu adalah makanan favorit majikan mudanya, tapi kini menjadi makanan yang tidak disukai.


"Bibi paham kan?" Salman menegaskan pada asisten rumah tangganya yang membuat keduanya tersadar dari lamunannya.


"Eh, i_iya den. Paham." balas keduanya bersamaan walau sedikit gelagapan.


"Ya sudah, bibi boleh temani Salman makan."


Salman memang sudah menganggap para asisten rumah tangganya seperti keluarga sendiri. Tidak pernah membeda-bedakan mereka soal kasta.


"Tidak perlu den, kami sudah sarapan. Kalau begitu kami permisi dulu ke belakang untuk mengerjakan pekerjaan lainnya."


"Silahkan bi."


Kedua asisten rumah tangga itu meninggalkan majikannya yang terlihat mulai menuang nasi ke piringnya.


"Kenapa sekarang den Salman tidak menyukai roti panggang lagi?" celetuk bibi ketika sudah sampai dapur.


"Apa mungkin sudah bosan. Karena sejak kecil ia sangat menyukai makanan itu." sahut rekan asisten.

__ADS_1


"Entahlah, bisa jadi itu."


Keduanya pun kembali melakukan aktivitas hariannya. Sedangkan Salman tampak menikmati makanannya.


Setelah menghabiskan makanannya, ia kembali ke kamar untuk mengambil handphone dan tas nya. Kali ini ia akan pergi ke counter untuk mengecek.


Tak lupa ia mencari keberadaan mamanya, untuk meminta ijin. Dan ia melihat wanita yang melahirkannya itu di ruang baca. Bergegas ia pun mendekatinya.


"Ma, Salman pamit ke counter ya."


"Iya, tapi kamu sehat kan?" Mama Laura memperhatikan wajah anak laki-lakinya dengan serius.


"Alhamdulillah Salman sehat kok ma. Memangnya ada apa?" Salman justru bertanya balik, belum tahu arah pembicaraan mamanya.


"Oh tidak ada apa-apa. Cuma mama heran saja, kenapa tadi sampai melewatkan sholat subuh dan bangun sesiang itu? Jadi mama pikir kamu sedang tidak enak badan."


"Oh itu, iya mungkin karena Salman kecapekan, terus akhirnya tidurnya terlampau nyenyak." kilah Salman.


"Ya sudah, berarti mulai sekarang kamu kurangi kegiatan mu. Jangan sampai melewatkan sholat subuh terus-menerus. Bisa makin seret rezeki mu."


"Baik ma. Salman pamit." Pemuda itu pun bangkit berdiri sambil mencium dengan takzim punggung tangan mamanya. Lalu ia berjalan menuju mobilnya terparkir.


"Aku justru harus menambah kesibukan ku. Agar tidak kepikiran dengan gadis itu lagi." gumam Salman sambil fokus menyetir.

__ADS_1


__ADS_2