
Satu persatu para jama'ah mulai meninggalkan ruangan masjid. Termasuk keluarga Wulan dan keluarga Salman.
Kedua keluarga itu jalan beriringan menuju mobil yang terparkir. Saat akan memasuki mobil, mama Laura melihat sekilas ke arah rombongan yang ada disampingnya.
"Maaf, kamu yang tadi bertanya ya?" tanya mama Laura pada gadis yang ada disampingnya. Mereka saling beradu pandang lalu gadis itu mengulas senyum tipis.
"Iya Tante." balas gadis itu singkat.
Mama Laura terlihat seperti mengingat sesuatu sambil menatap gadis didepannya.
"Oh iya, bukan kah kamu temannya Salman yang dulu meminjam buku itu?"
"Iya Tante. Tante ternyata memiliki ingatan yang bagus." puji Wulan tulus.
Sementara anggota keluarganya masih berdiri sambil menonton adegan di depannya. Apalagi Salman, pemuda itu memandang Wulan sampai tidak berkedip.
"Kamu semakin cantik memakai hijab seperti ini, Wulan. Iya kan tadi namamu Wulan."
"Terima kasih Tante."
"Salman kenapa kamu tidak menyapa teman mu? Justru mama yang banyak bicara." Mama menyenggol lengan Salman, sehingga membuat pemuda itu salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Salman sudah menyapanya tadi ma." lirih pemuda itu.
__ADS_1
"Apa, jadi tadi kalian sudah bertemu?" Mama Laura menatap Salman dan Wulan bergantian.
"Tepatnya saya Tante yang menyapa kak Salman duluan. Karena saya semakin cantik dengan penampilan yang baru, jadi kak Salman hampir lupa mengenali saya." celoteh Wulan panjang lebar yang membuat Salman gemas, dan ingin menarik bibir tipis Wulan agar tidak bisa mengadu pada orang lain.
Semua terkekeh bersama mendengar celotehan gadis cantik seperti Wulan. Dan pada akhirnya kedua keluarga itu saling berkenalan.
Sebagai tanda perkenalan grandpa mengajak mereka untuk menikmati makan siang bersama di restoran yang tak jauh dari masjid itu. Dan opa Atmaja pun menyetujui usul itu. Akhirnya mereka pun berjalan beriringan.
Salman berjalan beriringan dengan Oma Rohmah, karena semua sudah berjalan berpasang-pasangan.
Setelah menempuh perjalanan 5 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran mewah bergaya Eropa itu.
Mereka sengaja mengambil duduk di bangku luar. Dam tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa buku menu.
Sebagai warga asli, grandpa merekomendasikan beberapa makanan halal dan enak di restoran itu. Keluarga Salman dengan senang hati menerima rekomendasi itu.
Salman hanya menjadi pendengar yang baik ketika melihat anggota keluarganya saling bertukar cerita dengan antusias terhadap lawan bicaranya.
Ia hanya sesekali berkata, itu pun ketika ia memang di tanya. Diam-diam ia mencuri pandang ketika Wulan tengah berbicara pada Oma Rohmah.
'Ya Allah, aku tidak menyangka jika akan kembali bertemu dengannya. Padahal hampir setengah tahun aku tidak bertemu dengannya.
Dan selama itu juga, aku berharap bisa melupakannya. Tapi justru gelenyar aneh di hati ini semakin mengentak kuat.
__ADS_1
Apalagi ketika melihatnya dalam balutan gamis, dan menyatakan dirinya seorang mualaf.
Apakah ini tanda-tandanya aku....
Ah, tidak, tidak mungkin aku suka sama dia?
Tapi Tuhan, semakin aku menolak rasa itu. Semakin aku memikirkannya.
Tapi, bagaimana mungkin aku bisa cinta dengannya? Setiap bertemu dia selalu jutek padaku.'
"Salman."
Berulang kali Oma Ani memanggil Salman, tapi pemuda itu tetap diam tak bergeming. Hingga akhirnya Oma menyenggol lengannya, yang membuat Salman terkejut.
"Eh, Oma." serunya Salman sambil mengusap dadanya, hingga mengundang perhatian keluarganya.
"Hem, kamu ini pasti melamun. Sampai-sampai berulang kali Oma memanggil mu, kamu tetap diam saja." sungut Oma Ani karena merasa kesal dengan cucunya.
"Ini makanan dan minumannya tolong di geser."
Setelah sedikit tenang, barulah pemuda itu menggeser makanannya. Wulan tersenyum kecil ketika melihat kelakuan Salman yang cukup absturd.
Tanpa sengaja Salman juga menoleh ke arah Wulan, sehingga keduanya saling beradu pandang. Lalu tanpa sadar Salman menyunggingkan senyum ke arah Wulan. Yang membuat gadis itu terkejut setengah mati, hingga pipinya memerah.
__ADS_1
'Tuhan, apa mataku kelilipan? Kenapa kak Salman tersenyum padaku? Apa dia sudah jatuh cinta dengan ku?' batin Wulan dengan jumawa. Lalu ia membalas senyuman Salman dengan lebih manis lagi.
"Kalian berdua kenapa senyum-senyum sendiri? Perut tidak akan kenyang dengan senyuman. Ayo cepat makan." ucap mama Laura yang apa adanya, sehingga membuat kedua insan itu tampak salah tingkah.