Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
152. Kebersamaan Fatim dan Leon


__ADS_3

"Fat, jangan terlalu kencang ah. Seperti memijit gajah saja kamu." cicit Leon.


"Memang aku lagi memijit gajah, kak." sahut Fatim terkikik.


Badan Leon memang lebih berisi dibandingkan Salman. Tapi ia tak terima jika dikatakan seperti itu.


"Apa! Jadi kamu ngatain aku gajah?" suara Leon sedikit meninggi.


"Kak Leon sudah sehat?" Fatim menatap Leon serius.


Padahal sebenarnya dia tadi sedang becanda. Tidak serius mengatai Leon seperti gajah. Sekarang Leon seketika menutup mulutnya. Karena keceplosan mengeluarkan suaranya yang asli.


"Mana mungkin aku sembuh secepat itu, Fat. Kepala ku saja masih pusing-pusing, dan badan ku rasanya tidak karuan. Kamu memijitnya pelan-pelan saja, Fat." Leon kembali berkata dengan suara lirih.


"Oh, aku pikir kakak sudah sembuh. Oh iya, kak. Kalau mau menyuruh orang lain itu bahasanya diperhalus sedikit ya. Usahakan pakai kata 'Tolong'. Agar orang yang kita mintai tolong itu merasa lebih dihargai. Setiap seseorang telah menolong mu, jangan ragu untuk mengatakan 'Terima kasih'. Kita itu harus lebih menghargai sesama. Agar kita juga dihargai oleh orang lain. Tadi kak Leon tidak mengucapkan minta tolong kan saat memijit?"


"Iya, Fat. Tadi kan aku belum tahu. Kalau sekarang sudah tahu. Aku juga mau minta tolong padamu, selama aku belum sembuh, kamu harus merawat ku dengan baik. Dan kamu harus mau, karena aku sudah mengucapkan kata 'tolong'." ucap Leon panjang lebar yang membuat Fatim terkekeh.


"Kamu itu mau minta tolong apa memaksa? Ya semampu ku dong." balas Fatim sambil terkekeh.


Mama Margaretha juga ikut tersenyum melihat kebersamaan keduanya. Fatim bisa menasehati Leon yang notabenenya adalah anak yang bandel. Yang tak pernah serius bekerja.

__ADS_1


**


Sementara itu di kantor polisi, sesampainya disana, Adam dan Marco bergegas turun dari mobil. Sejenak keduanya berbincang-bincang dengan seorang polisi yang menangani kasus tabrak lari itu.


Setelah mendapat persetujuan dari pihak yang berwajib, keduanya bertemu dengan pelaku tabrak lari.


Dengan amarah yang membabi-buta, Marco berkata kasar sambil memukul wajah laki-laki yang sekujur tubuhnya di penuhi tato.


Adam segera menarik kuat tubuh Marco, dan melerainya. Agar tidak ada hal yang tidak diinginkan.


"Jangan bertindak seperti itu tuan. Nanti anda akan bernasib sama dengannya." ucap Adam mengingatkan. Marco pun menghela nafas kasar.


Namun laki-laki yang menabrak tadi hanya menyunggingkan senyum mencemooh. Bahkan setelah kesadarannya pulih, tak ada rasa bersalah dan tak berniat meminta maaf. Membuat Marco sangat geram.


"Sebutkan berapa nominal yang kamu minta. Maka pengacara ku akan mengurusnya. Santai saja. Yang penting anakmu tidak mati." setelah berkata seperti itu, laki-laki bertato tadi kembali menuju sel tahanannya.


"Kenapa sikapnya terkesan acuh sekali. Tidak ada rasa takut-takut nya sama sekali." gumam Marco.


"Sepertinya dia anak orang kaya yang salah pergaulan. Akhirnya jadi seperti itu. Mengukur semuanya dengan uang dan materi. Sesekali dia itu harus diberi pelajaran agar bisa berubah. Jika dibiarkan seperti itu terus-menerus, dia dan orang tuanya sendiri lah yang rugi. Sesekali harus dilakukan sesuatu untuknya agar punya efek jera."


"Siapa yang akan memberinya pelajaran? Kalau hukum di negeri ini saja bisa di beli."

__ADS_1


"Untuk itulah, kita perlu bertemu dengan keluarganya. Untuk memecahkan masalah ini. Tidak hanya sekedar menerima uang dendanya saja."


"Ya, aku setuju. Harta ku lebih dari cukup untuk membayar biaya pengobatan Leon. Tapi ucapan anak tadi benar-benar tidak sopan."


Marco memandang Adam dengan penuh selidik. Karena ia tetap terlihat santai dan tidak mudah tersulut emosi.


Lalu Adam mengajak Marco beranjak dari tempat duduknya dan kembali menemui pihak yang berwajib.


Adam mengatakan keinginannya untuk bertemu dengan kedua orang tua laki-laki bertato tadi. Dan pihak polisi menyanggupinya. Mereka dipersilahkan duduk sembari menunggu kedua orang tua anak laki-laki bertato tadi.


Hampir satu jam mereka menunggu, akhirnya sebuah mobil mewah berhenti di pelataran kantor polisi. Seorang laki-laki berjas hitam dan sepatu mengkilap, rambutnya terlihat kelimis dan kaca mata hitam bertengger di hidungnya, keluar dari mobil itu. Ia melangkah memasuki kantor polisi dengan angkuh.


Dari dalam ruangan, Adam sudah bisa menebak jika laki-laki yang sedang berjalan dengan beberapa pengawal di belakangnya itu adalah ayah dari laki-laki bertato yang menabrak Leon.


"Ada apa kamu memanggil ku, pak? Seperti tidak tahu saja jika aku sedang sibuk?" ucapnya angkuh pada polisi.


Bahkan ia justru menyulut batang rokok. Dan menghembuskan asapnya.


"Kamu ayah dari laki-laki bertato yang menabrak anak ku sampai terluka parah dan harus di operasi?" Marco bangkit dan berdiri di hadapan laki-laki yang baru saja datang. Tapi laki-laki itu justru terkekeh.


"Kelakuan bapak dan anak, sama saja. Sama-sama tidak memiliki sopan santun." ucap Marco dengan penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2