Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
164. Di tempat asing


__ADS_3

Kini Ronald dan Romi sudah berada di dalam mobil. Keduanya, matanya diikat dengan menggunakan kain penutup berwarna hitam.


Romi tampak masih tertidur pulas, sedangkan Ronald terus meronta-ronta, ingin dibebaskan. Entah terbuat dari apa sampai Romi tidak mendengar keributan yang terjadi. Tapi percuma saja, anak buah Marco hanya diam tak bergeming, selama tak ada kata maaf keluar dari mulut Ronald.


Setelah menempuh hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah gedung yang tinggi dan begitu luas.


Salah seorang dari anak buah Marco masuk ke dalam gedung itu, sedangkan yang lain berada di dalam mobil.


Laki-laki berkepala plontos dan berbadan kekar itu berjalan menuju kantor kesekretariatan, dengan perasaan yang tak nyaman. Karena dari segi berpakaian sangat jauh berbeda dengan lalu-lalang orang yang ada di situ.


"Permisi, pak." ucapnya sambil mengetuk pintu dengan menggunakan bahasa internasional. Karena anak buah Marco sengaja diterbangkan langsung dari Belanda untuk menangani masalahnya.


Haji Dahlan dan Andre, yang merupakan kakek dan papa Aisyah sejenak saling beradu pandang sambil mengernyitkan dahi. Melihat laki-laki bule dan berwajah garang datang ke pondoknya.


"Asistennya tuan Marco kah?" tebak papa Andre.


"Iya, pak."


Haji Dahlan dan papa Andre bangkit dari duduknya, dan menyambut pria berwajah garang itu dengan menjabat tangannya dan mempersilahkan duduk.


Tuan Marco memang setuju dengan usul papa Adam untuk memondokkan dewa judi dan anaknya.

__ADS_1


Maka dari itu, Adam menghubungi Andre untuk menyiapkan tempat khusus bagi keduanya.


Dan anak buah tuan Marco juga akan berada di pondok itu untuk mengawasi keduanya, agar tidak lari dari pondok.


Haji Dahlan dan papa Andre merasa sangat tertantang untuk segera membina kedua orang yang dimaksud oleh asisten tuan Marco.


Asisten tuan Marco menyuruh rekannya untuk menyusulnya ke kantor kesekretariatan bersama dengan Ronald dan Romi, melalui panggilan telepon.


Beberapa menit kemudian, rombongan pria berbaju hitam dan semuanya berbadan kekar terlihat memasuki pelataran pondok pesantren, sambil mengangkat dua orang yang berbadan kecil dan meletakkan di bahunya. Hal itu semakin menjadi daya tarik para penghuni panti.


Tanpa ampun para pria itu menjatuhkan kedua orang yang mereka angkat ke lantai kantor. Sehingga membuat keduanya mengerang kesakitan. Ronald dan Romi tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu.


Haji Dahlan dan papa Andre seketika menelan saliva ketika melihat hal itu.


"Pa, dimana kita? Bukankah tadi Romi masih tidur? Kenapa tiba-tiba bisa ada disini? Apa Romi masih bermimpi?" laki-laki bertato itu tampak kebingungan. Lalu merasakan badannya yang sakit akibat dijatuhkan ke lantai.


"Berani-beraninya kalian memperlakukan kami seperti ini. Ingat, anak buah ku akan menghukum kalian." sentak Ronald dengan penuh amarah pada seluruh asisten Marco. Tapi kesepuluh orang bertubuh kekar itu hanya menyunggingkan senyum mencemooh.


"Jangan pakai kekerasan terhadap mereka, tuan. Bagaimana pun juga mereka ini sesama kita."


"Maaf pak ustadz, hal itu memang pas untuk mereka. Manusia-manusia yang tak tahu diri." tegas asisten Marco.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, pa. Siapa orang-orang ini?" tanya Romi dengan raut wajah kebingungan.


"Kami adalah asisten tuan Marco. Ini sebagai bentuk hukuman, karena kalian menolak minta maaf pada tuan kami."


"Hukuman?" ulang Romi kebingungan.


"Kalian akan aman disini. Kami akan membimbing kalian ke jalan yang lebih baik." ucap Haji Dahlan.


"Kami tidak butuh itu. Karena hal itu tidak membuat kami kaya raya."


Haji Dahlan dan papa Andre geleng-geleng kepala melihat sikap orang yang ada dihadapannya, yang sudah dibutakan oleh uang.


"Tuan semua, tolong ikuti saya dan bawa kedua orang ini." titah papa Andre. Ia sudah menyiapkan suatu tempat untuk keduanya.


Mereka pun serempak menganggukkan kepalanya lalu, menyeret tubuh pasangan anak dan ayah mengikuti langkah dua orang pimpinan pondok pesantren.


"Nah, di sini tempat yang cocok untuk kalian." ujar papa Andre, ketika sudah sampai di sebuah rumah kecil yang terletak di sudut pondok.


Rumah itu hanya berukuran 6x9 meter. Terdiri dari dua tempat tidur, dapur dan kamar mandi.


"Satu tempat tidur untuk di pakai anda dan anak bapak. Tempat tidur yang satunya di pakai untuk istirahat asisten tuan Marco, yang akan digunakan secara bergilir. Untuk peraturannya, bisa bapak baca sendiri di lembar ini. Semuanya akan kita mulai dari waktu Maghrib." jelas papa Andre sambil menyerahkan beberapa lembar kertas pada Ronald dan anaknya.

__ADS_1


"Kalian tidak bisa memperlakukan kami seperti ini?" pekik Ronald tak terima.


"Diam! Berani melawan..." seorang asisten Marco menarik kerah baju Ronald, sambil menggerakkan tangannya ke arah leher dan menjulurkan lidahnya. Membuat Ronald tampak bergetar. Karena tidak ada anak buahnya.


__ADS_2