
"Cepat baca seluruh peraturan itu, dan lakukan apa yang menjadi perintahnya sekarang." seru asisten Marco pada Romi dan Ronald, saatHaji Dahlan dan papa Andre keluar dari rumah kecil itu.
Mau tidak mau, Ronald dan anaknya membaca seluruh peraturan itu. Keduanya membulatkan matanya lalu geleng-geleng kepala, karena banyaknya peraturan yang tertera.
"Apa-apaan ini." Ronald melempar kertas itu ke sembarang arah. Lalu salah satu anak buah Marco memungut dan membacanya.
Ia dan beberapa teman yang berkumpul dan membacanya juga ikut membulatkan matanya, sambil menelan saliva susah payah. Untung saja mereka tidak mendapatkan hukuman seperti itu.
"Cepat mandi sana!" titah asisten Marco.
Dengan bersungut-sungut kesal keduanya bergiliran mandi. Lalu memakai baju yang ada di dalam almari.
"Apa-apaan ini? Kenapa semua baju seperti ini."
Ronald dan Romi mengobrak-abrik seluruh isi almari dan tidak menemukan yang cocok untuknya. Karena semua baju itu terdiri dari kemko dan sarung.
"Hei! Apa yang kalian lakukan? Cepat bereskan semua baju yang berserakan itu sekarang." titah asisten Marco dengan tatapan mata tajam.
"Kami tidak mau." balas Romi yang sangat geram.
Asisten Marco pun mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya dan mengarahkan pada keduanya. Akhirnya mau tak mau keduanya merapikan pakaian yang berserakan tadi.
"Pa, kenapa nasib kita jadi seperti ini sih?" cicit Romi dengan muka manja.
"Diam, kamu. Ini semua juga karena ulah mu. Pakai acara menabrak orang segala." Ronald meluapkan amarahnya pada anaknya.
__ADS_1
"Kenapa Romi yang jadi disalahkan sih, pa. Biasanya kalau Romi menabrak orang sampai meninggal juga tidak bakal seperti ini jadinya." balas Romi tak mau disalahkan.
"Makanya, kalau mau menabrak orang, lihat-lihat dulu siapa yang mau ditabrak." Ronald menoyor kepala anaknya dengan gemas.
"Hei, pa. Sewaktu menabrak orang Romi kan tidak sadar. Jadi ya asal menabrak saja. Kalau yang di depan ku papa, pasti juga bakal aku tabrak, kalau lagi dalam kondisi mabuk."
"Apa kamu bilang? Dasar anak tidak berguna." sekali lagi Ronald menoyor kepala anaknya. Romi yang tidak terima, membalas menoyor kepala papanya.
Kini keduanya saling beradu dan bertengkar. Baju yang sudah lipat dan hampir selesai. Kini berantakan lagi. Dan hal itu mengundang perhatian asisten Marco.
"Hei, apa yang kalian lakukan? Dari tadi pekerjaan tidak ada yang beres."
"Kamu yang membereskan." perintah Ronald pada anaknya.
Keduanya kembali bertengkar, dan sekali lagi asisten Marco membentak keduanya. Kini barulah mereka diam sambil merapikan baju.
Setelah selesai merapikan, Ronald dan Romi berjalan menuju masjid yang ada di dekat kantor kesekretariatan pesantren. Tentunya dengan mendapatkan pengawasan ketat dari asisten Marco.
"Woi, kenapa kalian lihat-lihat!" bentak Ronald pada beberapa remaja yang melihat ke arahnya.
"Kakek sudah tua kenapa baru belajar di pesantren? Memang masa mudanya dulu kemana?" tanya salah satu remaja.
"Sepertinya kedua orang itu seorang mantan narapidana yang insyaf. Sudah jangan ganggu mereka. Biarkan mereka belajar menjadi orang yang baik." tegur salah satu remaja yang lainnya pada temannya.
"Kalian sok pintar, sok suci." cicit Romi sambil menunjuk anak-anak remaja itu.
__ADS_1
Asisten Marco menodongkan pistol ke pinggang keduanya, agar berhenti membuat keributan, karena sebentar lagi sholat Maghrib akan di mulai.
Haji Dahlan sebagai sesepuh sekaligus pendiri pesantren itu, yang akan memimpin sholat Maghrib. Ia menyuruh jamaahnya untuk merapatkan barisan shof sholat.
"Hei, apa-apaan sih kamu dekat-dekat aku? Pakai acara menempelkan kakinya segala lagi. Aku takut nanti ketularan miskin seperti kalian." ucap Romi dengan nada tak suka.
Ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari remaja yang berniat merapatkan shof. Papanya pun juga sama. Bergerak menjauh dari shof.
"Pak, kalau sholat memang harus merapatkan barisan shof nya. Agar tidak ada celah bagi setan untuk mengganggu kita selama mengerjakan sholat. Sekarang ayo kesana lagi." papa Andre yang berdiri di dekatnya mencoba menasehati.
"Ribet banget." gumam pasangan ayah dan anak itu. Lalu keduanya pun turut berdiri di dekat anak remaja tadi.
Haji Dahlan mengucapkan takbir dengan suara yang keras. Pertanda ibadah sholat Maghrib di mulai. Romi dan Ronald turut mengikuti gerakan tersebut. Walaupun dengan sesuka hati.
Di saat mereka memfokuskan diri sambil menghadap arah sujud, keduanya justru menengok ke kiri dan kanan. Bahkan mereka sambil berbisik.
"Pa, berapa lama lagi sih sholatnya bakal selesai? Romi lapar."
"Mana papa tahu. Tanya saja sama ustadz sebelah mu itu."
"Pak. Kapan sih sholatnya selesai?" Romi bertanya pada Andre yang tengah khusu' mengerjakan sholat.
"Woi, pak. Di tanya diam saja." sekali lagi Romi memanggil Andre. Namun Andre masih tak bergeming.
"Jangan berisik. Ikuti gerakan mereka." lagi, asisten Marco menodongkan pistol ke arah Ronald dan Romi. Karena keduanya berisik. Di saat yang lain sedang sujud, mereka masih tetap berdiri.
__ADS_1