Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
187. Malam pertama ala Leon


__ADS_3

Setelah mengantri hingga satu jam, akhirnya kini giliran Salman dan Wulan memesan es krim viral.


"Saya pesan satu cup es krim rasa macha greentea mix coklat dan strawberry ya kak." ucap Wulan dengan girangnya. Lalu menoleh pada suaminya.


"Kamu mau pesan rasa apa, mas?"


"Saya pesan rasa yang sama dengan istri saya kak, empat cup saja dulu. Nanti kalau kurang bisa pesan lagi."


"Apa! Sebanyak itu?" Wulan membulatkan matanya, karena tak menyangka suaminya akan membeli sebanyak itu. Salman hanya menyunggingkan senyum tipis.


"Baik, kak. Kami siapkan dulu." balas pelayan ramah.


Keduanya duduk di kursi yang telah disediakan.


"Memangnya kamu habis minum es sebanyak itu, mas?" tanya Wulan dengan heran.


"Habis dong. Kalau ngga habis, kan bisa kamu makan." kekeh Salman.


"Okay, siap."


Tak berapa lama, pesanan mereka pun datang. Empat cup besar es krim dengan warna warni dan aromanya yang begitu menggoda.


Wulan segera menyuap sesendok es krim ke mulutnya. Matanya mengerjap pelan, merasakan es krim yang begitu lembut dan manis itu.


Melihat Wulan yang tengah asyik melahap es krimnya membuat hati Salman juga bahagia. Ternyata untuk menyenangkan istrinya itu sangat mudah.


"Kenapa liatin aku seperti itu? Cantik ya?" kekeh Wulan.


"Sudah tahu nanya." Salman iseng menyendok sedikit es krim dan menempelkan di pipi Wulan. Gadis itu membulatkan matanya, sementara Salman justru terkekeh.

__ADS_1


"Ish, kamu nyebelin banget sih, mas. Gangguin aku saja." Wulan bersungut-sungut kesal, sambil membersihkan wajahnya dengan tisu.


"Habis, kamu menggemaskan sih." balas Salman disela-sela tawanya.


Wulan melihat suaminya dengan jengkel, lalu membalas dengan melakukan hal yang sama. Tapi laki-laki itu dengan mudah berkelit. Sehingga membuat Wulan semakin jengkel. Akhirnya ia kembali menyuap es krim ke mulutnya.


Wulan tidak menyadari jika ia sudah menghabiskan dua cup es krim, karena perasaannya jengkelnya tadi. Dan kini ia kembali meraih satu cup es krim yang masih tersisa.


"Lhololoh, itu kan punya ku. Kok di makan juga? Katanya tadi cuma pesan satu." cicit Salman.


"Biarin, ini hukuman karena kamu sudah buat jelek tadi." Wulan mengerucutkan bibirnya, lalu menyuap sesendok es krim lagi.


"Mau diapa-apain, kamu itu tetap selalu cantik kok di mata ku, sayang. Mau es krim lagi ngga? Aku pesankan."


"Boleh. Dua cup saja cukup." ucap Wulan sambil meringis. Sedangkan Salman geleng-geleng kepala, melihat tingkah istrinya seperti orang yang kelaparan.


**


Fatim duduk di tepi ranjang, dan Leon pun mensejajarinya. Suasana canggung meliputi keduanya. Padahal biasanya si bule itu banyak berulah. Sedangkan Fatim sendiri memang adalah gadis yang pemalu.


Leon berdehem keras, untuk menghilangkan kegugupannya. Lalu mulai mengajak Fatim bercerita terlebih dahulu.


Fatim menyunggingkan senyum dan mulai mengimbangi setiap perkataan Leon. Keduanya larut dalam pembicaraan yang hangat.


Hingga perlahan tangan Leon mulai menyentuh bahu Fatim. Tangan Leon yang satunya menggenggam tangan istrinya.


Hembusan nafas Leon yang hangat semakin dirasakan oleh Fatim, ketika laki-laki itu mulai mendekatkan wajahnya. Membuat dadanya kembali berdebar.


Leon pun mulai mencicipi manisnya bibir tipis Fatim. Dan menjalar ke bagian lainnya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap untuk melayani ku malam ini, Fat?" Fatim menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.


'Harusnya dia tidak usah bertanya seperti itu. Bukan kah tadi juga sudah mulai mencicipinya?' batin Fatim malu, sambil menautkan jemarinya.


Akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya pelan-pelan. Tapi bisa membuat Leon tersenyum lebar.


Ia pun membuka jilbab yang dikenakan Fatim. Dan begitu tertegun melihat kecantikan istrinya. Dengan tak sabar tangan Leon mulai bergerilya.


"Kak, sudah baca doa belum tadi?" ucap Fatim menahan tangan Leon yang tengah asyik memegang sesuatu.


"Doa apa?"


"Ya doa sebelum mulai melakukan hubungan suami-istri."


"Hah, memang ada?" tanya Leon dengan polosnya. Mulutnya juga menganga. Fatim tersenyum tipis.


"Ya ada dong, kak. Mau aku ajari." Leon mengangguk antusias. Lalu Fatim mulai melafazkan sebuah doa, dan Leon mengikutinya.


Kini keduanya mulai melakukan kewajibannya masing-masing. Walaupun sedikit menahan malu, Fatim tetap berusaha melayani suaminya dengan baik. Hingga malam itu, suaminya benar-benar merasa terpuaskan.


"Terima kasih, Sayang." Leon mengecup kening Fatim dengan lembut.


"Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan kata sayang. Karena aku begitu menyayangi mu. Bidadari penyelamat hidup ku."


Fatim membalasnya dengan senyuman.


Mereka pun segera membersihkan diri sebelum tidur. Leon mempersilahkan Fatim membersihkan diri dulu, barulah dirinya.


Dan ketika Leon beranjak dari tempat tidurnya, ia melihat semburat merah di atas kain sprei. Ia tersenyum puas melihat tanda itu. Merasa menjadi laki-laki seutuhnya.

__ADS_1


"Sekali lagi, terima kasih sayang. Kamu telah memberikan satu-satunya mahkota berharga mu untukku. Jika saja aku masih ada di negeri ku, pasti sulit mencari wanita yang bisa menjaga kehormatannya." Leon memeluk Fatim dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2