
Pagi itu Wulan telah rapi mengenakan stelan kaos turtle neck warna putih yang di lapisi dengan blazer warna merah, dan rok selutut warna hitam.
Ia juga memoles wajahnya dengan kosmetik, dan menyapu bibirnya dengan lipstik warna merah yang senada dengan warna blazer nya.
Sengaja ia memilih warna cerah, agar hari pertamanya kerja di perusahaan daddy-nya juga secerah warna-warna yang ia kenakan saat itu.
Sejenak ia melupakan kisah percintaannya yang sulit untuk di tebak itu demi membahagiakan hati kedua orang tuanya.
Setelah melihat dengan penuh keyakinan bayangannya yang terpantul dalam cermin, ia pun keluar dan berjalan menuju ruang makan. Dimana kedua orang tuanya pasti sudah menunggu kedatangannya disana.
"Good mor... ning." sapa Wulan pada keluarganya dengan senyum sumringah, tapi perlahan senyum itu sirna ketika melihat Leon juga duduk di kursi samping mommy nya.
Dengan langkah pelan dan mengernyitkan dahi, Wulan mendekati meja makan, lalu duduk di kursi yang biasa ia pakai.
"Good morning too Wulan." balas mereka dengan senyum sumringah.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali Wulan." puji Leon, Daddy dan mommy pun juga mengangguk menyetujui ucapan Leon.
"Terima kasih." balas Wulan sambil menyunggingkan senyumnya.
Tangannya bergerak mengambil roti panggang dan tak lupa mengoleskan selai coklat kesukaannya. Sesaat tangannya berhenti bergerak, karena memegang selai coklat, mengingatkan nya saat bertemu dengan Salman di supermarket dulu. Dia berpikir jika memiliki selera yang sama.
"Kenapa berhenti Wulan? Kamu tidak suka lagi suka sama selai coklat?" tebak Leon sambil tersenyum.
"Oh tidak, aku sejak dulu suka selai coklat, dan sampai kapan pun akan selalu suka dengan selai coklat." balas Wulan, ia segera mengoleskan selai coklat yang banyak di rotinya. Setelahnya ia memotong lalu melahapnya dengan tersenyum.
Wulan tadi sedikit terkejut ketika Leon hari itu juga akan ikut ke kantor. Namun ia tak mau mempermasalahkan hal itu lebih jauh.
Mereka bertiga berangkat dengan mengendarai mobil Leon. Dan Wulan duduk di bagian belakang.
Ia mendengarkan percakapan Daddy nya dan Leon yang terdengar asyik sejak tadi. Tanpa memotong atau ikut campur percakapan itu sedikit pun. Ia lebih suka melihat pemandangan kanan dan kiri jalan.
__ADS_1
Ia mencondongkan badannya ketika tak sengaja melihat Salman yang tengah berdiri di tepi jalan bersama temannya sedang membagikan nasi bungkus bagi pengamen.
'Tidak. Kenapa sesulit itu melupakan bayangan tentang dirinya?' batin Wulan sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia pun menghela nafas panjang.
Matanya kembali melihat bayangan Salman dari pantulan cermin tengah di dalam mobil. Terlihat senyum sumringah di wajah lelaki tampan itu. Senyum yang menghipnotis banyak wanita seperti dirinya.
Tapi sayang, lelaki itu tidak pernah tersenyum untuk dirinya walau hanya sekali. Membuat ia merasa iri dengan para tunawisma itu.
"Wulan, kenapa sejak tadi kamu menoleh ke arah luar?" tanya Leon yang mengejutkan Wulan dari lamunannya.
"Ah, tidak ada apa-apa Leon. Aku aneh saja lihat orang bagi-bagi makanan di pinggir jalan. Aku juga pengen kapan-kapan bisa melakukan hal seperti itu."
Leon justru terkekeh mendengar celotehan Wulan.
"Itu hanya akan membuang-buang uang dan waktu kita saja Wulan." ucap Leon kemudian, yang membuat Wulan mengernyitkan dahi. Jujur saja, hatinya tak suka mendengar Leon berkata seperti itu.
__ADS_1