
Sore itu, Salman mengajak Wulan untuk ke toko herbal dan perlengkapan muslim milik tantenya. Yakni milik pasangan suami-istri Bayu dan Anisa. Kedua orang tua Fatih. Tapi sengaja ia tak mengatakan yang sebenarnya pada istrinya.
"Kamu sudah siap belum, sayang?" tanya Salman ketika baru keluar dari kamar mandi.
"Sudah, mas." balas Wulan singkat.
Ia menoleh ke arah suaminya, dan melihat wajahnya yang masih terdapat titik-titik air membuatnya semakin bertambah segar dan cerah.
"Memangnya kamu mau mengajak ku kemana sih, mas?"
"Jalan-jalan sore dong. Masa mau di rumah melulu." canda Salman.
Ia mengambil baju dari almari dan mengenakannya di hadapan istrinya. Dengan langkah berjingkat pelan, Wulan menghampirinya dan menggelitik perutnya.
Hal itu membuat Salman terkejut dan bergerak menjauh karena geli.
Tapi Wulan semakin bersemangat menggelitiknya, sehingga Salman bergerak mundur tak tentu arah. Akhirnya ia pun tersandung karpet dan jatuh.
Tidak hanya Salman yang terjatuh, tapi Wulan juga ikut terjatuh. Dan ia jatuh tepat di atas tubuh Salman. Keduanya saling diam dengan tatapan yang beradu. Jantung keduanya mulai berdetak tak karuan.
"Sa-sayang." ucap Salman sedikit terbata.
"Ada apa, mas?" balas Wulan dengan senyum mengembang di paras cantiknya.
"Aku tidak tahan dengan dinginnya lantai kamar ku. Bisakah kamu menyingkir dari atas tubuhku?"
Wulan membulatkan matanya, ketika suaminya berkata seperti itu. Seketika wajahnya berubah mendung. Lebih mendung dari warna awan di langit yang sebentar lagi akan menabur benih air.
__ADS_1
Ia segera duduk di samping suaminya.
Salman yang melihat perubahan di wajah istrinya mencoba berpikir, adakah yang salah dengan ucapannya. Tapi sepertinya ia tak menemukan kesalahannya.
Karena tak mau melihat wajah istrinya yang terlihat tidak mengenakkan, ia pun duduk di samping istrinya dan menanyakan kesalahannya.
"Sayang, tadi senyum. Kok sekarang kok wajahnya seperti itu sih, memang aku ada salah ya?" ucap Salman dengan lembut dan hati-hati.
"Pikir saja sendiri." balas Wulan terdengar ketus.
"Hah, kok seperti itu sih jawabannya. Ngga bisa lebih lembut lagi ya."
"Kamu juga ngga bisa lebih lembut dan dan romantis jadi suami."
Salman seketika menggaruk kepalanya yang tak gatal. Karena selama pernikahan ia selalu memperlakukan istrinya dengan penuh kelembutan. Tapi kenapa masih ada yang kurang di mata istrinya itu.
"Kamu kok diam saja sih, sayang? Aku jadi serba salah nih."
"Biarin." jawab Wulan ketus.
"Aku kan sudah minta maaf, dan berjanji akan berlaku dengan lemah lembut dan romantis padamu. Apalagi yang kurang?"
"Harusnya, tadi pas adegan jatuh di lantai, kamu mengecup bibirku. Seperti di film-film romantis. Bukan malah bicara seperti itu." cetus Wulan, yang membuat Salman justru terkekeh. Dan Wulan semakin merah padam wajahnya karena ditertawakan oleh suaminya.
"Kamu. Ternyata suami jahat." Wulan menunjuk wajah Salman. Dan tawanya pun berhenti.
"Maaf-maaf, sayang jika aku tadi menertawakan mu. Sepertinya kamu itu terlalu banyak menonton film romantis ya. Jadi otakmu tercemar deh dengan adegan yang begituan. Tapi ngga apa-apa sih. Karena otakmu sudah terlanjur tercemar, ya sudah aku akan membersihkannya."
__ADS_1
Salman pun mengangkat tubuh istrinya dan meletakkannya di atas ranjang tempat tidur.
"Mau ngapain?" ketus Wulan.
"Membersihkan kontaminasi yang ada dalam otak istriku." balas Salman. Ia mengecup kening istrinya lembut, lalu membuka jilbabnya.
"Eits. Tidak boleh dibuka. Aku sudah rapi." tolak Wulan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Nanti aku bantuin merapikan lagi. Katanya aku disuruh berbuat yang romantis dulu." Salman menghujani istrinya dengan kasih sayang.
"Yah, mandi lagi deh." cicit Wulan, setelah keduanya selesai beradu kasih sayang di atas ranjang.
"Kan kamu yang minta." Salman memencet hidung mancung Wulan karena gemas.
"Siapa bilang, aku minta jatah. Aku cuma minta kamu romantis."
"Sama saja kali. Besok-besok kalau kamu tiba-tiba ngambek, pasti karena jatah dari ku kurang." setelah berkata seperti itu, Salman langsung bangkit dari tidurnya, agar tidak terkena cubitan istrinya.
"Mas!" seru Wulan, dengan wajahnya yang bersemu merah.
Salman berbalik arah dan mengerlingkan matanya nakal ke arah istrinya. Wulan semakin gemas, dan menutup tubuhnya dengan selimut, lalu ikut menyusul suaminya ke kamar mandi.
Jatuh cinta setelah menikah itu enak, daripada sekedar menonton film romantis. Filmnya sudah habis, adegan nya masih terbayang di kepala.
Maka dari itu, disunnahkan untuk memperbanyak berpuasa bagi yang sudah siap menikah, tapi belum mampu dari segi tertentu.
Dan perlu di ingat juga, menikah tak hanya sekedar membayangkan yang enaknya saja. Tapi juga harus bersiap dengan rasa pahit yang pasti ada sebagai pelengkap bumbu dalam suatu hubungan rumah tangga.
__ADS_1