
Wulan dan Leon berjalan menyusuri jalan yang penuh dengan penjual. Keduanya tampak berjalan dengan mesra. Apalagi Wulan sejak tadi membiarkan tangan Leon melingkar di pinggangnya. Karena itu adalah kebiasaan mereka sejak kecil.
"Aku mau gulali." seru Wulan sambil menunjuk penjual gulali.
"Okay." balas Leon. Keduanya mendekat ke arah penjual gulali. Lalu membeli 2 gulali.
Setelah membayar dan mendapatkan apa yang di minta, keduanya kembali melanjutkan perjalanannya. Leon dengan sengaja mengambil sedikit gulali milik Wulan. Sehingga membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya, lalu membalas dengan melakukan hal yang sama. Keduanya saling membalas, hingga tak sadar tubuh Wulan membentur seseorang.
Mulut yang sudah terbuka lebar hendak mengeluarkan amarah nya seketika lenyap, melihat siapa yang berdiri dihadapannya saat ini.
"Hei, kalau jalan pakai mata dong." seru Leon penuh emosi pada laki-laki yang bertabrakan dengan Wulan. Namun lelaki itu hanya diam.
"Maafkan aku tak sengaja." ucap Wulan menunduk. Membuat Leon mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Wulan berkata maaf pada orang asing.
"Baby, apa aku ngga salah dengar. Kamu berkata maaf pada orang lain?"
"Kita yang salah Leon, karena tidak berhati-hati ketika jalan."
__ADS_1
"Dimana-mana jalan itu pakai kaki. Kalau mata fungsinya untuk melihat." ucap laki-laki itu datar, lalu meninggalkan Wulan dan Leon. Gadis itu menatap kepergiannya dengan rasa bersalah dan tidak enak.
Setelah bayangan laki-laki itu tak terlihat, barulah keduanya melanjutkan perjalanannya mengitari sudut taman.
Leon menelisik wajah Wulan yang terlihat kecewa. Ia berusaha menghiburnya namun sepertinya Wulan masih terbawa perasaan.
"Kita makan dulu yuk baby." tawar Leon, dan Wulan pun mengangguk.
Laki-laki itu mengajak Wulan ke sebuah tenda yang menjual aneka olahan seafood. Setelah memesan, keduanya duduk di tempat lesehan.
Tak berselang lama, setelah keduanya duduk, rombongan laki-laki yang bertabrakan dengan Wulan tadi juga singgah ke warung lesehan itu.
Gadis itu seketika membulatkan matanya ketika melihat laki-laki pujaan hatinya. Tanpa sengaja laki-laki itu juga melihat ke arahnya. Keduanya sejenak saling beradu pandang. Lalu laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya.
'Kenapa harus dipertemukan dalam kondisi seperti ini?' batin Wulan tak nyaman.
Ingin hati mendekati Salman yang tengah berkumpul dengan anggota keluarganya, tapi Wulan tiba-tiba merasa tak nyaman.
__ADS_1
Menyadari pakaian yang dikenakannya saat ini. Yang jauh berbeda dengan pakaian yang dikenakan mama, Oma dan saudara Salman.
Padahal dulu sebelum mengenal Salman, kemana pun ia pergi, selalu berpakaian sesuka hatinya. Di tambah lagi, di sampingnya ada Leon. Ia tak ingin perasaannya di ketahui olehnya.
Akhirnya ia hanya bisa tertunduk lesu.
"Beb, ayo di makan dulu." ucap Leon yang mengejutkan Wulan dari pikirannya yang tengah melayang.
"Eh, iya." Wulan mencuci tangannya, lalu menggeser piringnya. Ia mengaduk-aduk makanannya dengan tangannya. Leon yang sejak tadi memperhatikannya merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pujaan hatinya.
"Are you okey baby?"
Wulan menatap Leon lalu mengangguk sambil tersenyum. Laki-laki itu mengajaknya berbicara lagi, untuk mengalihkan keheningan yang ada.
Belum sampai makanan Wulan habis, ia sudah mengajak Leon pulang. Lama-lama berada di tempat itu bisa membuatnya mati kutu.
Walaupun tetap merasakan keanehan, Leon tetap menuruti keinginan Wulan. Setelah membayar, kedua berjalan menuju arah kendaraan mereka terparkir. Tangan Leon kembali melingkar di pinggang Wulan. Namun kali ini gadis itu langsung menolaknya.
__ADS_1
Dan tanpa gadis itu sadari, Salman melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan hatinya juga ikut bergejolak ketika melihat Leon melingkarkan tangannya tadi.