Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
273. Mengingat rasa masakan


__ADS_3

"Mas, jika kita tidur dibawah seperti ini, mengingatkan ku ketika kita tidur dirumah Oma Rohmah."


"Iya, kamu senang tidak?"


"Senang sekali. Tidak takut jatuh." Kekeh Wulan, tapi dengan suara yang berbisik.


"Sudah, ayo kita tidur. Besok kita akan mengantarkan keluarga kita menuju bandara. Tidak enak juga kan, jika keluarga kita mendengar kita berisik?"


"Iya, mas." Wulan menyunggingkan senyum pada suaminya. Lalu memejamkan matanya.


**


Di rumah Fatim, keluarganya sudah berada di dalam kamar masing-masing. Tapi sejak tadi mereka tidak bisa memejamkan matanya. Mereka tidak sabar menunggu hari esok.


Akhirnya, kedua orang tua Fatim memutuskan untuk sholat tahajud. Setelah sholat tahajud, keduanya memejamkan matanya. Walaupun cukup susah, akhirnya menjelang subuh, keduanya baru bisa tidur.


Di ruang tamu, kedua besannya juga mengalami hal yang sama. Keduanya berguling-guling di atas tempat tidur.


"Ma, kamu belum tidur?" Tanya papa Adam, pada istrinya. Ketika ia berguling ke kanan, pandangannya bersirobok dengan mama Margareth.


"Belum, pa. Kamu juga ya." Balas Mama, sambil menggelengkan kepalanya. Suaminya pun sama, juga menggelengkan kepalanya.


"Ma, kita sholat malam yuk." Ajak papa Marco.


"Iya, pa. Semoga dengan sholat malam, hati kita menjadi tenang ya." Papa Marco menganggukkan kepalanya.


Mereka melaksanakan sholat tahajud dengan begitu khusu' dan tuma'ninah. Keduanya memohon agar ibadah umroh mereka berjalan lancar.

__ADS_1


**


Di kediaman haji Dahlan, ia juga merasakan hal yang sama. Kakek dari Aisyah itu tidak bisa tidur.


Ia berjalan menuju masjid yang ada di kawasan pondoknya. Setelah mengambil air wudhu, ia melaksanakan sholat tahajud.


Istrinya yang mendapati suaminya tidak ada di kamarnya, mencarinya. Dan menemukannya tengah berdiri menunaikan sholat malam.


Melihat hal itu, ia juga melakukan hal yang sama. Segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam.


Tak berselang lama, setelah umi Salwa melaksanakan sholat tahajud, dibelakangnya ada umi Rosyidah yang membawa mukena untuk melaksanakan sholat tahajud juga.


Selama ini uminya Aisyah itu memang selalu mengerjakan sholat di dalam kamarnya. Tapi entah kenapa, malam itu ia terbangun dan ingin melaksanakan sholat malam di masjid pondoknya.


Ketika meraba sisi ranjangnya, papa Andre tidak menemukan keberadaan istrinya. Ia pun mencari ke seluruh ruangan di rumahnya. Tapi tidak juga menemukannya.


"Kenapa istriku tumben sekali mau sholat di masjid?" Gumam papa Andre sambil mengernyitkan dahi.


"Lhoh, ada Abi dan umi juga yang sedang mengerjakan sholat tahajud. Kalau begitu aku juga ikut saja mengerjakan sholat. Setelah itu, barulah aku tanya dengan mereka." Gumam papa Andre lagi.


Pria itu berjalan menuju tempat wudhu pria dan mensucikan diri. Setelah itu, ia mengerjakan sholat malam seperti istri dan mertuanya.


Cukup lama keempat orang itu melaksanakan sholat dan berdzikir. Hingga waktu hampir subuh, mereka berdiam diri di dalam masjid.


Seorang santri datang untuk adzan sholat subuh. Keluarga pemilik pondok pesantren itu segera mengambil air wudhu dan ikut sholat subuh berjamaah. Barulah setelah mengerjakan sholat subuh, mereka bisa tidur dengan pulas.


Alarm yang mereka pasang berbunyi nyaring. Dengan penuh semangat mereka bangun, lalu membersihkan diri dan bersiap berangkat.

__ADS_1


"Abi, umi, sarapan sudah Aisyah siapkan. " Ucap istri Fatih, sambil mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.


"Iya, sayang. Nanti kami menyusul." Balas umi Rosyidah.


Setelah memanggil kedua orang tuanya, Aisyah berjalan ke kamar opa dan omanya. Untuk memanggil keduanya.


"Opa, Oma, sarapan sudah Aisyah siapkan. Mari makan dulu."


"Iya, Aisyah." Balas Oma sambil membuka pintu.


"Sini, biar Aisyah yang bawakan kopernya."


Aisyah mengambil alih koper dari tangan omanya, lalu menariknya menuju ruang tamu. Setelah itu ia menyusul ke dapur.


Setelah ia sampai dapur, terlihat keluarganya sudah berkumpul disana. Suaminya tengah menyuapi Jundi. Sedangkan orang tua dan opa serta omanya baru saja duduk.


Mereka mulai menikmati sarapan pagi bersama. Seperti orang yang kelaparan, kedua orang tua, opa serta Oma makan dengan begitu lahapnya.


Fatih dan Aisyah saling beradu pandang kebingungan.


"Apa perlu Aisyah bawakan makanan untuk dimakan di pesawat, umi?" Tanya Aisyah ragu. Keluarganya menghentikan kunyahan nya, lalu menatap Aisyah bersamaan.


"Tidak perlu, Ai. Nanti kami juga dapat jatah makan di pesawat kok." Balas umi Rosyidah.


"Iya, betul apa kata umimu. Papa hanya ingin menikmati makanan di rumah ini, agar papa terus mengingat rasanya."


Aisyah dan suaminya kembali beradu pandang, sambil mengernyitkan dahi heran. Tumben sekali papanya bicara seperti itu. Seperti hendak pergi jauh, dan belum tahu kapan pastinya bisa kembali.

__ADS_1


__ADS_2