
Kini Salman dan keluarga besarnya tengah bersiap-siap menghadiri acara aqiqah putri Fatim.
"Sini, biar aku bantuin." Tangan Salman terulur membantu Wulan mengenakan jilbabnya.
Pria itu memang berhati lembut. Ia senantiasa membantu istrinya dalam segala hal. Tidak ingin membiarkan istrinya dalam kesusahan.
Lagi-lagi Wulan merasa sangat bersyukur ditakdirkan menjadi jodoh pria tampan di hadapannya.
"Nah, sudah tambah cantik." Salman memandang sambil menangkup pipi istrinya. Lalu mengarahkannya pada cermin.
"Terima kasih, mas. Sudah dibantuin. Kamu juga sangat tampan." Wulan menatap suaminya sambil tersenyum.
Wulan mengenakan gamis dan jilbab berwarna putih. Salman mengenakan kemko panjang berwarna putih juga dan celana berwarna cream. Bahkan putri kecil mereka yang baru berumur sebulan juga memakai baju berwarna sama.
"Tidak ada yang tertinggal kan?" Salman memastikan, sambil mengalungkan waist bag nya.
"Aku rasa tidak mas." Wulan celingak-celinguk memperhatikan sudut ruangannya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat." Salman mendorong stroller bayinya. Keduanya beriringan keluar kamar.
Sampai di dekat tangga, Salman menggendong baby Maryam.
"Biar aku saja mas yang menggendongnya." Tangan Wulan terulur ingin meraih bayinya.
"Nanti saja kalau sudah sampai di bawah. Aku takut terjadi apa-apa dengan jahitan mu."
Wulan mengulas senyum, karena suaminya sangat perhatian padanya.
"Hei, mas. Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak dijahit ya." Ucap Wulan mengingatkan suaminya.
"Ah, aku tak percaya. Masa orang melahirkan tidak dijahit."
__ADS_1
"Kamu mau bukti?" Salman menatap Wulan.
"Benarkah? Apa malam nanti kita akan..." Salman tidak meneruskan ucapannya, tapi justru menyunggingkan senyum sambil menaikkan satu alisnya.
"Tapi kalau yang itu jangan dulu dong. Kita belum konsultasi dengan dokter nya."
"Yah." Salman menghembuskan nafas kasar. Terlihat lesu.
Wulan terkekeh melihat suaminya seperti itu. Lalu menarik hidungnya.
"Hei, bukan kah kemarin katanya tidak apa-apa, kalau kita belum bisa hohohehe sehabis melahirkan?"
"Iya sih. Tapi karena kamu bilang tadi, aku jadi kepikiran. Makanya kalau belum siap, ngga usah seperti kail ikan." Salman pura-pura marah dengan mengerucutkan bibirnya.
"Iya-iya, maaf. Nanti kalau sudah waktunya, aku akan mendatangi mu."
Wulan memeluk suaminya dari belakang. Berbunga-bunga juga hati Salman mendapat perlakuan dari istrinya seperti itu.
Wulan dan Salman seketika terkejut, hingga wanita itu mengurai pelukannya. Karena mendengar suara papa mertuanya. Dan ia sudah berdiri di bawah anak tangga.
"Astaghfirullah, papa." Gumam Wulan sambil menutup mulutnya.
Ia sungguh malu papa mertuanya melihat apa yang tengah ia lakukan tadi. Sementara Salman menyunggingkan senyum. Memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Maaf, pa. Wulan cuma takut mau turun, makanya aku suruh aku pegangan. Biar tidak jatuh. Iya kan, sayang? Yuk turun. Jangan lupa pegangan."
Salman mengedipkan sebelah matanya pada Wulan. Dengan ragu ibu muda itu pun menuruti perintahnya.
Sedangkan papa Reyhan yang berada di bawah geleng-geleng kepala. Rasanya ia seperti bernostalgia saat muda dulu. Dimana ia dan mama Laura selalu berkelakuan aneh. Karena terlalu bucinnya. Dan sekarang menurun ke anak dan menantunya.
"Ayo, pa. Kita berangkat sekarang. Kenapa justru melamun?" Ucap Salman, saat ia sudah berada di dekat papanya.
__ADS_1
"Eh, siapa yang melamun? Papa ini nungguin kamu lho." Papa Reyhan tak mau kalah, lalu berjalan mendahului anaknya.
Tampak di ruang tamu, mama Laura, opa Atmaja dan Oma Ani sudah menunggu keduanya.
"Mama kira kalian tidak jadi ikut. Waktu untuk menunggu kalian, bisa mama pakai untuk tidur." Celoteh mama Laura sambil geleng-geleng kepala.
Wulan tak marah mendengar mama mertuanya berkata seperti itu. Karena mereka juga sering bercanda.
Mereka pun beranjak dari duduknya, lalu berjalan keluar menuju mobil yang sudah disiapkan di depan teras.
**
Lalu lintas malam berbeda dengan saat siang atau pagi hari. Karena jalanan lebih lengang, tak kurang dari satu jam, rombongan keluarga Salman sudah tiba di kediaman papa Adam.
"Baby Maryam."
Salman yang sedang mendorong stroller bayinya menoleh ke belakang. Diikuti anggota keluarganya.
"Mommy." Seru Wulan, melihat yang memanggil bayi nya adalah wanita yang melahirkannya.
Mommy, dan anggota keluarganya yang lain, lebih mempercepat jalannya.
Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan. Lalu dengan gemas mommy menghujani cucunya dengan kecupan yang bertubi-tubi.
"Mom, giliran Daddy." Protes Daddy Marquez.
"Ish, honey kamu tak sabaran sekali sih." Mommy mengerucutkan bibirnya.
"Kapan kalian pulang ke rumah Daddy?"
Mereka terkekeh mendengar pertanyaan Daddy. Padahal kemarin Salman dan Wulan baru saja berpamitan pulang ke rumah papa Reyhan.
__ADS_1
"Ah, kamu sepertinya amnesia, Marq. Kemarin mereka baru saja dari rumah mu. Biarkan dulu berada di rumah ku. Kami masih kangen dengan baby Maryam." Balas papa Reyhan, sambil menyunggingkan senyum smirk.