
Leon turun dari mobil. Ia berjalan ke toko buah. Tidak hanya membelikan buah pepaya pesanan istrinya saja, melainkan juga membeli jenis buah-buahan lainnya.
Tak butuh waktu lama, ia sudah kembali ke mobil. Sambil membawa buah-buahan yang terlihat segar dan begitu memanjakan mata.
Setelah itu, mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman mereka.
"Alhamdulillah." Ucap mereka, ketika sudah turun dari mobil.
Para asisten rumah tangga berdiri di teras rumah, untuk menyambut kedatangan mereka. Mereka pun membawakan barang-barang yang dibawa oleh majikannya.
"Alhamdulillah ya non. Akhirnya sudah diijinkan pulang." Celoteh para asisten rumah tangga.
"Iya, bi. Ini semua juga tak luput dari doa bibi dan bapak-bapak semua." Balas Fatim.
Setelah berbincang sejenak, mereka masuk ke dalam rumah. Lalu duduk di ruang tamu, untuk melepas penat.
Para asisten rumah tangga berjalan ke kamar majikannya, untuk meletakkan barang-barang bawaannya. Lalu menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka.
Bayi perempuan milik Fatim yang berada dalam pangkuan omanya, mulai bergerak, dan wajahnya sedikit memerah.
"Sayang, sepertinya dia haus. Kamu kasih ASI dulu gih." Mama Margaretha menyerahkan bayi itu pada menantunya pelan-pelan.
"Sayang, kamu haus ya?" Celoteh Fatim pada bayinya.
Ibu muda itu mengeluarkan asi miliknya, dan perlahan si kecil mulai menghisapnya. Fatim membelai pucuk kepala anaknya dengan lembut. Lalu mendaratkan kecupan di keningnya.
__ADS_1
**
Hari beranjak malam. Setelah menyelesaikan makan malam, lalu menengok keadaan bayi kecil, keluarga Fatim kembali ke kamar masing-masing.
Setelah kegaduhan yang di ciptakan oleh kedua orang tua masing-masing, Fatim dan Leon belum bisa tidur. Mereka duduk di samping bayinya. Ya, bayi mereka tidur satu ranjang dengan mama dan papanya.
"Kak, maafkan aku ya. Gara-gara tidak bisa menjaga kandungan ku, akhirnya anak kita terlahir prematur." Ungkap Fatim, meluapkan kesedihannya.
Ia memang tidak berani menunjukkan hal itu ketika di rumah sakit. Berusaha untuk menutupi, tapi hatinya tetap merasa tidak tenang. Jika belum menceritakan pada suaminya.
"Tidak apa-apa, sayang. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Toh itu adalah sebuah musibah. Jadi di ambil hikmahnya saja. Semoga kedepannya nanti kamu selalu berhati-hati menjaga putri kita. Apalagi ketika aku mulai kerja."
Leon mengusap pelan tangan Fatim. Ibu menyusui itu terlihat menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, terus kapan kamu mulai kerja, kak? Rasanya tidak mungkin kan bayi kita di bawa kesana? Kalau kelamaan di sini, bagaimana nanti pekerjaan yang disana?"
"Bagaimana kalau papa dan mama yang kesana dulu. Aku di sini menemani kamu dan bayi kita. Mereka pasti maklum."
"Iya kak. Aku rasa itu lebih baik. Oh iya, bagaimana acara aqiqah untuk putri kita?"
"Itu juga harus segera di urus sayang, agar kita bisa tenang. Kita harus membicarakan ini dengan kedua orang tua kita. Karena aku sendiri juga belum paham bagaimana caranya."
"Kalau begitu, besok pagi ya kita bicarakan dengan mereka." Leon menganggukkan kepalanya.
"Kita istirahat sekarang, sebelum putri kita terbangun minta asi." Saran Leon.
__ADS_1
Tapi belum juga keduanya beringsut tidur, bayi mereka sudah mulai menggeliat. Leon dan Fatim saling beradu pandang, lalu tersenyum.
"Sepertinya dia tahu, jika kita tengah membicarakannya." Oceh Fatim.
Leon pun mengangkat tubuh mungil bayinya dan meletakkan di pangkuan Fatim.
**
Pagi harinya, keluarga Fatim tengah berkumpul di ruang makan. Mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama.
Di saat itulah, Leon menyampaikan niatnya untuk mengadakan aqiqah putrinya. Hal itu di sambut baik oleh orang tuanya.
Papa Adam akan membantu semaksimal mungkin. Sedangkan papa Marco yang merasa asing dengan acara itu, hanya bisa mendanainya.
Acara aqiqah sepakat akan dilaksanakan pada hari Minggu. Agar lebih banyak yang hadir.
Setelah menyelesaikan sarapannya, papa Adam duduk di taman samping rumah, sambil menghubungi rekan-rekannya penyedia jasa. Mulai dari jasa sewa tenda, hewan, MC dan yang lainnya.
Sambil menunggu balasan pesan dari mereka, papa Adam berbincang dengan besannya.
Tak berselang lama, penyedia jasa menghubungi papa Adam balik. Mereka menyetujui permintaannya. Karena di hari yang ditentukan papa Adam, memang masih kosong.
Papa Adam menyunggingkan senyum, sangat lega karena semua penyedia jasa mau mengabulkan permintaannya.
Papa Marco juga menyunggingkan senyum, karena acara untuk cucu perempuannya diberi kemudahan.
__ADS_1
Saat itu juga dipergunakan papa Marco untuk berbicara dengan besannya. Ketika acara aqiqah selesai, ia akan langsung pulang. Karena sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya.
Papa Adam tahu, besannya adalah orang sibuk. Ia juga tidak bisa menahan untuk terus berada di Indo. Ia hanya berpesan, jika anak dan cucunya sementara waktu belum bisa kesana. Karena kondisi yang belum memungkinkan.