
Wulan tetap mandi meskipun hari sudah malam, karena badannya terasa sangat lengket. Setelah selesai mandi, ia duduk di ranjang tempat tidur sambil memperhatikan tumpukan kado dari orang-orang terdekatnya.
Meskipun seharian ini ia telah banyak menghabiskan waktunya dengan segudang pekerjaan, tapi belum membuatnya merasakan capek. Akhirnya ia beringsut mendekati tumpukan kado itu.
Tentu saja kado dari mommy nya adalah kado yang paling membuatnya penasaran. Bergegas ia membuka kotak besar berwarna ungu.
Tak perlu waktu lama untuk Wulan merobek pembungkusnya, hingga akhirnya ia berhasil melihat apa yang ada di dalam kotak besar tadi.
Matanya berbinar ketika melihat sebuah tas coklat keluaran terbaru dari sebuah brand ternama.
'Selamat ulang tahun putri tercinta ku. Semoga sebuah tas yang mommy berikan ini, membuat kamu semakin semangat bekerja menjadi wanita karier. Meskipun mommy jauh di sana, percayalah doa mommy selalu ada untuk mu.'
Wulan begitu terharu hingga matanya berkaca-kaca ketika membaca sebuah surat yang terselip di dalam tas itu.
Ia meletakkan tas itu disampingnya, lalu membuka kado dari Daddy nya.
"Hah, handphone keluaran terbaru." gumam Wulan. Lalu ia merogoh dan membolak-balik benda pipih itu. Setelahnya ia melihat sebuah surat dan membaca isinya.
'Sebuah handphone baru untuk putri kesayangan Daddy. Di dalam sudah ada sim card nya, semua nomor sudah Daddy masukkan, kamu tinggal pakai saja sayang. Semangat selalu.'
__ADS_1
"Daddy membelikan ku handphone baru beserta sim card nya? Kenapa? Bukan kah bisa pakai SIM card lama? Ada banyak nomor teman-teman ku di handphone lama. Termasuk nomor kak Salman. Apakah Daddy takut jika aku masih berhubungan dengannya? Ah, hubungan macam apa? Kami hanya sekilas bertemu. Dan aku juga sudah memblokir nomornya, apa itu belum cukup juga? Ya sudah, aku turuti saja keinginan Daddy. Mungkin ini yang terbaik untuk ku." gumam Wulan.
Ia berjalan menuju balkon. Dan dengan penuh kekuatan, ia melempar handphonenya ke arah jalan. Berharap handphonenya segera rusak terlindas kendaraan yang melintas. Setelah itu ia segera balik badan menuju kamarnya.
"Arghhh...." teriak seseorang ketika merasakan kepalanya bagai di hantam sebuah benda.
Sambil mengusap kepalanya yang masih sakit, ia berjongkok mengamati benda yang mengenai kepalanya tadi.
"Handphone siapa ini? Sengaja di buang atau jatuh dari pesawat? Masa iya handphone di buang? Sudah seperti sampah saja." gumam lelaki itu yang ternyata seorang tunawisma.
"Kalau memang sengaja di buang, alangkah beruntungnya aku. Semoga yang membuang handphone ini di karuniai Tuhan." ucap lelaki itu dengan wajah yang berbinar.
Sedangkan di dalam kamar, Wulan kembali melanjutkan aktivitasnya membuka kado.
"Hah, Leon Leon, kenapa kamu selalu aneh sih kalau memberi kado?" gumamnya ketika membuka kotak kecil dari Leon.
Wajahnya diam tanpa ekspresi ketika melihat sebuah kalung berlian yang berbandul salib.
'Wulan, kamu harus menerima pemberian ku. Aku tidak mau mendengar sebuah penolakan dari bibir indah mu.' bunyi surat dari Leon.
__ADS_1
Berlian adalah sebuah barang mahal, tapi Wulan sama sekali tidak tertarik untuk memakainya.
Sebenarnya hatinya tergerak untuk mengembalikannya. Tapi Leon pasti akan terus memaksanya untuk menerima pemberiannya.
Akhirnya ia kembali memasukkan kalung itu dan menyimpannya baik-baik.
Semua kado sudah selesai ia buka. Bergegas ia mengumpulkan sampah dan membuangnya pada tempatnya. Lalu memasukkan semua kado dalam almari.
Ia membuka berbagai aplikasi di handphone barunya. Dan ia menginstal sebuah aplikasi Al Qur'an yang ada terjemahannya.
Setelah menginstalnya ia membaca baik-baik terjemahan nya, sampai ia tertidur.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Allah tahu jika Wulan tengah berjuang untuk mempertahankan keyakinan keluarganya dengan mengikuti setiap kemauan mereka.
Tapi Allah lebih tahu bagaimana merangkul seorang hamba-Nya yang di dalam hatinya ada setitik kebaikan untuk merubah jalan hidupnya.
Ia akan senantiasa mengawalnya sampai menemukan sebuah pelita dalam hidupnya.
__ADS_1