Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
24. Makan siang berdua


__ADS_3

Salman dan Wulan keluar dari ruang baca yang bertepatan dengan mama Laura dan Oma Ani yang menghampiri keduanya.


Wulan meletakkan plastik bukunya, lalu mengulurkan tangan pada Oma Ani. Wanita sepuh itu pun menjabat tangan Wulan sambil mengukir senyum di wajahnya.


"Perkenalkan saya Wulan Oma. Kesini mau pinjam buku opanya kak Salman."


"Oma sudah tahu, tidak apa-apa, pinjam saja. Semoga bukunya bermanfaat."


"Terima kasih Oma."


Setelah percakapan singkat dua wanita beda generasi itu, mama Laura dan Oma berpamitan untuk mengantarkan makanan di showroom. Mama juga mempersilahkan Wulan makan siang terlebih dulu sebelum pulang. Karena makanan sudah disiapkan bibi di dapur.


"Terima kasih Tante, dengan senang hati Wulan akan menghabiskan makanannya." kekeh Wulan yang membuat kedua wanita dihadapannya juga ikut terkekeh, tapi tidak dengan Salman.


'Astaghfirullah, lagi-lagi dia ngga punya malu.' batin Salman sambil menelan saliva.


"Ya sudah, tante sama Oma berangkat dulu ya." mereka pun saling bersalaman.


Wulan memandang mama dan Omanya Salman dengan penuh kekaguman. Karena keduanya terlihat anggun dan cantik dalam balutan gamis lebar. Tiba-tiba ia teringat temannya Aisyah yang juga mengenakan pakaian seperti itu.

__ADS_1


Gadis itu pernah berkata padanya, bahwa pakaian yang ia kenakan adalah untuk menutup auratnya. Untuk melindungi agar tidak sembarang mata bisa memandangnya. Karena kecantikannya hanya diperuntukkan untuk suaminya kelak.


"Katanya mau menghabiskan makanan, ayo buruan ke dapur." ajak Salman membuyarkan lamunan Wulan.


"Eh, iya kak." Gadis itu segera mengimbangi langkah Salman. Keduanya berjalan menuju dapur.


Mata Wulan berbinar melihat meja yang penuh dengan makanan. Ia menggeser kursi untuk dirinya sendiri, dari pada menunggu Salman. Bisa kelamaan.


Pemuda tampan itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum simpul melihat tingkah gadis dihadapannya. Lalu menggeser kursi yang berhadapan dengan Wulan.


Wulan terlihat menuangkan nasi hangat di piringnya, lalu menuang sayur dan beberapa lauk pauk yang tersedia sampai piringnya penuh. Salman yang melihatnya seketika menelan saliva.


"I_iya." sahut Salman.


Wulan menghentikan kunyahan nya karena melihat Salman yang masih terbengong, dan piringnya masih kosong.


Ia pikir lelaki dihadapannya adalah anak mami, yang harus dipersiapkan segala sesuatunya. Akhirnya ia mengambil piring itu, lalu menuangkan nasi dan beberapa lauk yang membuat piringnya penuh dalam waktu sekejap.


"Ayo kak di makan. Anggap saja rumah sendiri."

__ADS_1


'Ini kan memang rumah orang tua ku.' batin Salman gemas.


"Kamu terus melihat ku seperti itu, nanti bisa jatuh cinta lho." kekeh Wulan yang membuat Salman ternganga. Rasa percaya diri gadis dihadapannya sungguh tinggi.


'Tidak-tidak. Hikmah apa yang bisa aku ambil dari pertemuan ini ya Allah.' batin Salman sambil geleng-geleng kepala. Ia pun meneguk air putih sebelum mulai menghabiskan makanannya.


Setelah selesai makan, Salman menunaikan sholat Dhuhur terlebih dahulu. Sedangkan Wulan membereskan sisa makanan yang ada di meja.


Sebenarnya bibi telah melarangnya, karena sama saja memperlakukan tamu dengan tidak sopan. Namun gadis itu bersikeras membersihkan semuanya. Karena di rumahnya, ia juga melakukan hal yang sama. Bukan hanya sekedar pencitraan belaka. Bibi pun terlihat pasrah.


Dalam hati bibi memuji gadis cantik dan terampil yang ada dihadapannya. Ia terlihat apa adanya. Tidak seperti kebanyakan muda-mudi yang enggan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


'Beruntung sekali den Salman punya pacar seperti mbak cantik ini.' batin bibi sambil tersenyum.


'Eh tapi bukan kah den Salman tidak menyukai yang namanya pacaran? Lalu hubungan dengan gadis ini apa?' senyum yang tadi tersungging di wajah bibi mendadak sirna berganti kerutan di dahi.


❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2