
Deburan dan gulungan ombak bersahut-sahutan. Seolah mengajak mereka untuk menikmati air asin yang pantai miliki.
Papa Adam, papa Marco dan Leon melepas bajunya. Lalu mereka menceburkan dirinya di pantai. Sedangkan para wanita menggelar tikar, dan duduk di sana.
Mereka menyaksikan para suami mereka, yang balapan renang. Melihat hal itu, Abidah meronta-ronta.
"Sayang, apakah kamu ingin ikut kesana?" Tanya Fatim.
"Iya, sepertinya Abidah ingin kesana. Ayo, kita juga kesana." Ajak mama Margareth, yang sepertinya tergoda melihat keseruan anak dan suaminya.
"Boleh, ayo." Balas mama Tiwi sambil bangkit berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
Mama Margaretha dan Fatim juga ikut berdiri. Lalu ketiga wanita itu berjalan bersama menuju pantai.
"Hei, apakah kalian juga ingin ikut berenang?" Tanya papa Marco sambil berteriak.
"Tentu dong. Masa sudah jauh-jauh kesini, tidak berenang." Balas mama Margareth dengan santai.
Wanita itu memasukkan kakinya ke dalam air, dan menjatuhkan diri disana. Diikuti oleh mama Tiwi. Sedangkan Fatim masih berdiri, karena memegang Abidah.
"Sini ikut papa, sayang." Leon mengulurkan tangannya untuk menangkap Abidah.
Papa Adam dan papa Marco mendekati keluarganya, lalu memercikkan air pada istrinya yang baru berendam.
"Bagaimana, sayang. Segar kan airnya?" Tanya Leon pada anaknya.
"Dingin." Balas balita itu, sambil bergidik kedinginan. Kedua orang tuanya terkekeh melihat hal itu.
__ADS_1
"Tapi kamu menyukainya kan?" Tanya Leo lagi. Abidah pun menganggukkan kepalanya.
Mereka bermain air di pantai sambil sesekali bercanda tawa. Cukup lama mereka berendam, hingga bibir mereka mulai kebiruan.
"Ayo, kita istirahat dulu." Ajak papa Adam.
Mereka berjalan menuju bibir pantai, dan duduk disana sambil meneguk es kelapa muda yang sangat menyegarkan di tenggorokan. Lalu membuka cemilan yang sudah mereka bawa dari rumah.
**
Setelah menghabiskan waktu untuk berlibur, baik keluarga Salman, ataupun keluarga Leon, kembali melakukan aktivitas sebagaimana biasanya.
Dan Beberapa hari kemudian, papa Reyhan menggelar doa bersama sebelum berangkat umrah.
Pengajian itu dihadiri oleh keluarga besarnya dan juga keluarga sahabatnya.
Rumah megah opa Atmaja yang sudah diserahkan pada papa Reyhan, sudah penuh dengan para tamu undangan. Kondisinya persis seperti orang yang menggelar pesta pernikahan. Semuanya memakai dress code berwarna putih.
Keluarga papa Reyhan juga menyajikan menu makanan yang sangat lezat untuk para tamu undangan. Karena keluarganya benar-benar ingin memberikan yang terbaik untuk semuanya.
Tanpa terasa waktu sudah tiba di penghujung acara. Para tamu undangan berpamitan pulang. Mereka saling mendoakan untuk kebaikan bersama.
**
Akhirnya, waktu yang dinantikan tiba. Keluarga besar Salman, dan rekan-rekannya tengah bersiap-siap. Karena keesokan harinya, mereka akan berangkat melakukan perjalanan jauh untuk umrah.
Setelah bersiap-siap, mereka menggelar sebuah karpet yang lebar, dan tidur disana. Entah kenapa opa Atmaja meminta hal itu. Walaupun terdengar aneh, keluarganya menuruti keinginannya. Dengan senang hati mereka tidur beralas karpet. Karena seumur-umur mereka belum pernah tidur beralas karpet.
__ADS_1
Hal itu mengingatkan papa Reyhan pada kebiasaan keluarganya dulu, yang sering tidur bersama di depan televisi beralaskan tikar. Jika mengingat masa-masa itu, hatinya begitu terenyuh.
Rasanya baru kemarin ia lulus sekolah, bekerja, menikah dan sekarang sudah memiliki seorang cucu yang cantik.
"Kenapa kamu menangis, mas?" Tanya mama Laura dengan berbisik, tak ingin mengganggu yang lainnya.
Papa Reyhan menyunggingkan senyum pada istrinya, lalu mengusap pipinya yang masih tampak kencang, walaupun umurnya sudah lima puluh tahun.
"Aku teringat dengan masa laluku, sayang. Ternyata aku telah melewati begitu banyak suka duka. Dan aku bersyukur, bisa bersamamu sampai sejauh ini. Kamu berjanji kan, kita akan selalu sehidup semati?"
Mama Laura menyunggingkan senyum pada suaminya, dan mengusap lembut pipinya.
"Tentu saja aku akan sehidup semati dengan mu, mas. Aku sudah menemani mu sampai sejauh ini, masa kamu masih ragu denganku."
"Tidak, aku tidak akan pernah meragukan mu. Berkat kamu, kita memiliki seorang anak yang baik perilakunya dan bisa menjadi pemimpin yang baik dalam rumah tangganya."
"Iya, kalau begitu tidurlah. Besok kita akan berangkat umrah bersama." Papa Reyhan menganggukkan kepalanya, lalu memeluk istrinya sambil memejamkan matanya.
Tak jauh dari papa Reyhan dan mama Laura, opa Atmaja dan Oma Ani juga tengah berbisik.
"Ma, terima kasih sudah mendampingi papa sampai sejauh ini ya. Melahirkan anak dan cucu, serta mendidik mereka, sehingga tumbuh menjadi anak-anak yang baik."
"Kenapa harus mengucapkan terima kasih? Bukankah itu sudah tugas kita untuk saling mendampingi sebagai pasangan suami-istri?"
"Betul apa kata mama. Yang jelas papa sangat bahagia, karena rumah tangga kita selalu harmonis. Dan hal itu menurun ke anak dan cucu kita. Semoga keharmonisan rumah tangga kita, berlanjut sampai generasi penerus kita ya, ma."
"Iya, pa. Besok kalau kita sudah tiba di Mekkah, mama akan berdoa seperti itu."
__ADS_1
"Iya, papa juga."
"Yuk, kita tidur." Ajak Oma Ani. Ia dan suaminya saling menyunggingkan senyum terbaik mereka.