Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
195. Bucin


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu. Sebuah pesta pernikahan yang cukup mewah di gelar di kediaman Fatim.


Hal itu tampak dari rumah papa Adam yang di hias semenarik mungkin. Terdapat tenda di halaman rumahnya. Kursi yang sudah tersusun rapi, dan makanan yang sudah terhidang di meja.


Kaum kerabat, dan rekan-rekan mulai berdatangan satu persatu. Untuk menghadiri hari bahagia pasangan Leon dan Fatim.


Di sebuah ruangan, keduanya tengah di rias oleh seorang MUA. Sesekali Leon mencuri pandang ke arah istrinya. Padahal setiap hari keduanya selalu bertemu.


"Mas, bisa lebih fokus ya. Pandangannya jangan meleng. Agar make up nya tidak belepotan." tutur sang perias, memperingatkan Leon.


"Okay, kak." balas Leon, tapi pandangannya tetap mengarah ke istrinya. Fatim geleng-geleng kepala, melihat kelakuan konyol suaminya.


Tak lama kemudian, mereka selesai di rias. Keduanya duduk berdampingan, dengan pandangan Leon yang tak lepas menatap pada istrinya. Sambil menunggu panggilan, yang mengarahkan keduanya untuk keluar ruangan.


Setelah sekian menit berlalu, seorang kaum kerabatnya datang, dan mengajak kedua mempelai itu ke tempat acara.


Leon membantu Fatim yang sedikit kesulitan berjalan, karena menggunakan kain jarik yang dililit kencang.


Pandangan para tamu undangan tertuju pada keduanya, yang sedang berjalan menuju ke pelaminan.


Seorang MC membacakan susunan acara. Dan satu persatu acara di mulai.


Saat prosesi sungkeman, keduanya juga menitikkan air mata. Karena merasa terharu.


Setelah selesai, dilanjutkan dengan acara berfoto bersama kaum kerabat. Keluarga pasangan mama Laura dan papa Reyhan, umi Anisa dan abi Bayu, papa Andre dan umi Rosyidah yang hadir, turut di ajak foto bersama.

__ADS_1


Karena mereka adalah sahabat mama Tiwi sewaktu masih muda. Dan kini hubungan persahabatan itu tetap berlanjut sampai anak-anak mereka menikah.


Salman dan Wulan, juga di ajak berfoto bersama. Mereka tampak serasi dengan mengenakan baju batik berwarna hitam. Dan Wulan mengenakan jilbab berwarna mocca. Yang senada dengan warna celana yang di pakai Salman.


Keduanya mengucapkan selamat pada pasangan yang baru saja meresmikan pernikahan mereka.


Setelah semua kaum kerabat dan rekan-rekan berfoto, acara dilanjutkan kembali.


Saat acara makan tiba, Salman mengambil dua porsi makanan. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Wulan. Ia tak ingin istrinya itu terlalu kecapekan.


Saat Salman kembali ke tempat duduknya, ia melihat istrinya tengah menggendong bayi milik pasangan Aisyah dan Fatih. Yang di beri nama Jundullah. Artinya tentara Allah. Dan mereka biasa memanggilnya dengan sebutan Jundi. Bayi laki-laki itu tampak anteng dalam pangkuan Wulan.


"Sayang, kemana orang tuanya? Kenapa kamu yang memangku nya?" Salman duduk di samping istrinya.


"Ya sudah, aku suapi kamu saja, sayang." Salman meletakkan piringnya di atas meja, lalu mendekatkan sesendok nasi ke mulut Wulan.


"Mas, aku malu." Wulan menoleh ke kiri dan kanan.


"Kenapa harus malu? Kita ngga sedang berbuat dosa kok. Ayo buka mulutnya." Wulan kembali menoleh ke kiri dan kanan. Lalu menerima suapan dari suaminya.


"Nah, gitu dong." Salman tersenyum puas ketika nasi itu berhasil masuk ke mulut istrinya.


Sambil menyuapi Wulan, Salman mengajak bercanda bayi Jundi. Padahal bayi itu baru berumur tiga bulan. Mereka bertiga seperti keluarga kecil yang harmonis.


"Hai, kalian sedang apa?" suara Fatih mengejutkan mereka.

__ADS_1


"Kata istri ku, bayimu mau di pinjam dibawa pulang." balas Salman.


"Apa! Bikinnya saja susah." seloroh Fatih.


Aisyah mencubit pelan pinggang suaminya, yang berbicara seperti itu terlalu kencang. Apalagi di tempat ramai.


"Istri ku baru hamil. Tapi dia tak sabar ingin bermain dengan bayi. Jadi aku pinjam bayimu sebentar."


"Apa! Jadi Wulan sekarang hamil?" Aisyah yang sejak tadi diam, kini ikut berkomentar.


Ia duduk di samping Wulan, dan menatapnya. Wanita yang sedang menggendong anaknya itu pun mengangguk sambil menyunggingkan senyum.


"Tapi kenapa ngga kelihatan?"


"Badanku kan kecil, jadi ngga begitu keliatan kalau sedang hamil." Wulan menjelaskan.


"Alhamdulillah. Aku ikut senang mendengarnya, Wulan. Kamu cepat sekali hamil. Berbeda dengan ku, yang harus menunggu hampir setahun, baru bisa hamil."


"Rezeki orang kan beda-beda, Ai. Yang penting sekarang kamu sudah mendapatkan bayi lucu seperti, Jundi." dengan gemas Wulan kembali mengecup pipi gembul bayi yang ada dalam pangkuannya.


"Sayang, ayo makan dulu. Tidak usah memperhatikan mereka." Salman menyodorkan sesendok nasi ke mulut Wulan lagi.


"Astaga. Segitunya kamu dengan saudara sendiri." Fatih memukul lengan Salman.


"Dulu benci, sekarang bucin." seloroh Fatih lagi. Mereka pun terkekeh bersama.

__ADS_1


__ADS_2