
Setelah menyelesaikan sarapan bersama, keluarga Salman, Wulan dan keluarga Leon berangkat bersama menuju ke pondok pesantren milik papa Andre.
Awalnya pondok pesantren itu adalah milik haji Dahlan. Dan kini sudah diserahkan pada menantunya, yakni Andre, untuk mengelola. Tapi dalam perjalanannya, haji Dahlan memang masih sesekali membantu.
Sebelumnya papa Reyhan sudah menghubungi papa Andre, mengabarkan jika dirinya bersama keluarga Wulan akan berkunjung ke pesantren.
Semua sudah mengenakan pakaian yang rapi. Tapi mama Margareth merasa kurang percaya diri, karena hanya dialah satu-satunya wanita yang tidak mengenakan jilbab. Apalagi ia juga mengenakan celana panjang street dan kemeja lengan pendek.
"Silahkan, Sis." ucap mama Laura mempersilahkan Margareth untuk segera masuk mobil.
Wanita berambut pirang itu sedikit terkejut, lalu menganggukkan kepala dan tersenyum tipis untuk menghilangkan rasa tidak percaya dirinya.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka tiba di sebuah gedung yang tinggi dan begitu luas. Kesan pertama bagi keluarga Marco dan Marquez adalah, takjub.
"Apakah orang sebanyak itu juga ingin menuntut ilmu semua, Rey?" tanya Marco dan Marquez bersamaan.
"Iya. Bahkan mereka datang tidak hanya dari dalam kota, dari luar kota pun juga banyak." balas papa Reyhan.
"Luar biasa. Aku baru tahu ada tempat seperti ini." lagi, kedua bule itu kompak berkata. Mengungkapkan rasa kagumnya.
"Aku pikir di luar negeri saja yang memiliki bangunan semegah ini untuk belajar. Tapi dugaan ku ternyata salah."
__ADS_1
"Di atas langit masih ada langit. Ya sudah, ayo kita segera turun." ucap papa Reyhan mengajak mereka turun dari mobil.
Mereka sengaja mengendarai dua mobil. Karena mereka terdiri dari tiga keluarga. Tidak akan cukup jika menggunakan satu mobil saja.
Satu mobil di pakai untuk rombongan laki-laki, dan mobil lainnya di pakai untuk rombongan perempuan.
Hal yang sama ternyata juga dirasakan oleh rombongan perempuan. Mereka juga takjub dengan bangunan megah yang berdiri kokoh itu.
"Bagaimana ceritanya, kamu bisa mengetahui ada tempat belajar sebagus ini, sis?" tanya tanya mommy Melati pada besannya.
"Awalnya suamiku kesini untuk menitipkan sebagian rezeki yang ia miliki. Tapi semakin lama, usaha suami semakin berkembang pesat.
Setiap bulan suamiku jadi sering berkunjung kemari. Tidak hanya di tempat ini saja, tapi juga di beberapa tempat lainnya. Dan ada juga panti asuhan yang ia kunjungi.
Sampai sekarang, kami masih menjaga hubungan baik itu. Apalagi anak haji Dahlan, yakni Rosyidah. Menjadi salah satu sahabat baik ku. Dan dia itu istri dari sahabat suami ku. Hubungan kami, seperti saudara kandung." Mama Laura menceritakan dengan wajah yang berbinar, mengingat masa mudanya dulu dengan suami dan para sahabatnya.
"Maa syaa Allah, aku begitu takjub mendengarnya, Sis." mommy Melati bahkan sampai berkaca-kaca mendengar cerita masa muda besannya. Cerita yang penuh kedamaian.
"Rezeki itu berupa apa, Sis? Kenapa harus dititipkan?" Margareth mengerutkan keningnya ketika bertanya. Mama Laura mengulas senyum sebelum menjawab.
"Rezeki itu adalah segala sesuatu yang datangnya dari Tuhan untuk seluruh umat-Nya.
__ADS_1
Rezeki itu bisa berupa, kesehatan, makanan yang cukup, tempat tinggal yang layak, memiliki banyak sahabat atau saudara yang baik, mudah mendapatkan pekerjaan, mudah mendapatkan uang, bahkan sampai saat ini kita masih diberi kemudahan dalam menghirup oksigen itu juga adalah bagian dari rezeki.
Dan untuk itu semua, memang kita harus mengeluarkan sedekahnya. Jadi yang aku maksud dengan menitipkan rezeki itu tadi adalah bersedekah.
Bersedekah bisa kepada siapa saja. Dan dengan apa saja.
Bila kita memiliki uang, kita bisa bersedekah dengan uang tersebut. Jika kita memiliki tenaga, kita bisa menggunakan tenaga kita untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial, seperti ikut membangun masjid, ikut menyelamatkan nyawa orang yang tertimpa tanah longsor, atau lainnya.
Pelajaran matematika tidak berlaku dalam sebuah perhitungan sedekah.
Harusnya ketika kita mengeluarkan harta kita untuk bersedekah, maka harta kita akan berkurang. Tapi nyatanya, dengan bersedekah, harta kita justru bertambah jumlahnya. Bahkan semakin banyak harta yang kita keluarkan, semakin banyak pula Tuhan akan membalas dengan kebaikan yang berlimpah.
Yang perlu diingat, semua itu kuncinya adalah IKHLAS. Jika niat kita di awal dalam bersedekah sudah tidak baik. Maka Allah pun juga tidak akan melipatgandakan sedekah yang pernah kita keluarkan.
Dan perlu kita ingat juga, bahwa di dalam harta yang kita miliki, ada rezeki dari Allah untuk orang lain yang dititipkan pada kita. Maka kita harus mengeluarkannya, agar tidak menjadi musibah bagi kita.
Sebab bahan bakar api neraka itu salah satunya adalah harta yang tidak dikeluarkan sedekahnya."
"Kamu hebat sekali, Sis. Aku sangat bersyukur memiliki besan yang baik dan pintar seperti kamu. Wulan bisa belajar lebih banyak dengan mu." mommy Melati berbinar menatap mama Laura, bahkan ia sampai memeluknya.
Mama Margareth juga begitu memuji mama Laura, dan menatapnya dengan wajah yang berbinar. Ia melihat kedua besan itu tengah berpelukan layaknya teman.
__ADS_1
Grandma dan Oma Ani juga tersenyum melihat anak-anak mereka yang rukun pada besannya.