Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
274. Di bandara


__ADS_3

Keluarga Salman setelah saling berbisik, langsung bisa tertidur pulas. Tepat dini hari, mereka terbangun silih berganti untuk melaksanakan sholat tahajud. Mereka tidak ada yang tahu jika pasangan masing-masing telah terbangun dan melaksanakan sholat malam itu.


Dan saat subuh, mereka bangun bersama untuk melaksanakan sholat dua rakaat itu. Lalu mereka melakukan olahraga ringan, dan bersiap-siap.


Waktu matahari sepenggalah naik, mereka kembali melaksanakan sholat Dhuha dengan begitu khusu'.


Setelah itu, barulah mereka berangkat ke bandara. Saat akan memasuki mobil, mereka menatap kediaman megah yang mereka tempati selama ini cukup lama. Hingga suara tangisan baby Maryam, mengalihkan perhatian mereka.


"Sayang, kenapa kamu menangis? Oma dan opa mau ke Mekkah, untuk melaksanakan ibadah umrah. Jika kamu sudah besar nanti in shaa Allah kami akan mengajakmu umrah bersama juga." Ucap Oma Laura, sambil membelai pipi balita itu, lalu mengecup keningnya dalam.


"Iya, sayang. Opa juga sudah mendaftarkan kamu untuk melaksanakan ibadah haji. In shaa Allah kita bisa berangkat sama-sama nanti." Timpal opa Reyhan.


Setelah baby Maryam tenang, mereka semua masuk ke dalam mobil. Lalu iring-iringan kendaraan roda empat itu, mulai melaju meninggalkan pelataran rumah mewah.


**


Di kediaman Fatim, kedua orang tua dan mertuanya juga tengah bersiap-siap. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berangkat menuju bandara. Fatim dan Leon ikut mengantarkan mereka.


Sepanjang perjalanan, mama Tiwi dan mama Margareth menghabiskan waktunya untuk berceloteh dengan Abidah.


Mereka juga selalu mengecup pipi bayi itu. Seolah menyimpan rindu yang begitu dalam padanya. Padahal setiap hari mereka selalu bertemu.


**


Di kediaman Aisyah, setelah selesai sarapan, kedua orang tuanya dan juga opa omanya berpamitan dengan seluruh santri, dengan menyalami mereka.

__ADS_1


Setelah itu, keempat orang sepuh itu memandang ke setiap sudut kawasan pondok cukup lama. Seolah-olah mengingat, begitu banyak kenangan yang tersimpan di dalamnya. Hingga mereka menitikkan air mata.


Buru-buru mereka menghapus air mata itu dan menyunggingkan senyum. Menyadari mereka akan melakukan ibadah umrah, dan nanti pasti akan pulang.


"Kita hanya memiliki waktu satu jam perjalanan, umi. Ayo kita berangkat sekarang." Ucap Fatih mengingatkan.


"Oh iya, ayo." Balas opa Dahlan.


Mereka pun memasuki mobil dan melambaikan tangan, pada seluruh santri yang menyaksikan kepergian sang pemilik pondok.


**


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, akhirnya rombongan keluarga besar Salman tiba lebih dulu di bandara.


Selang lima menit, datang lagi mobil yang parkir di sebelah kiri mobil keluarga Salman. Pengemudinya pun segera turun. Dan terlihat keluarga Aisyah yang turun dari sana.


Sejenak mereka saling beradu pandang dan menyunggingkan senyum. Lalu berjalan saling mendekat dan bersalaman serta berpelukan.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa sampai di bandara bersamaan." Ucap opa Atmaja.


"Iya, namanya juga sudah janjian. Pasti bisa datang bersamaan." Timpal haji Dahlan.


Setelah bercakap-cakap sejenak, mereka berpamitan pada anak dan cucu yang ditinggalkannya.


"Salman, titip usaha papa ya. Semoga kamu bisa memikul tanggungjawab yang bertambah besar ini." Papa Reyhan menepuk bahu sebelah kanan putra satu-satunya.

__ADS_1


"Papa, hanya sepuluh hari kan, papa di Mekah. In shaa Allah itu tidak akan lama. Semoga Salman bisa menghandle semuanya dengan baik." Balas Salman sambil menyunggingkan senyum.


"Selain titip Wulan dan Maryam, Daddy juga titip perusahaan ya, Sal. Daddy yakin, kamu bisa memegangnya dengan baik." Daddy Marquez menepuk bahu sebelah kiri Salman.


"Daddy. Daddy tahu kan, Salman baru beberapa kali datang ke perusahaan Daddy. Bagaimana bisa Salman mengurusnya." Salman tersenyum ke arah mertuanya sambil geleng-geleng kepala.


"Kamu orang yang cerdas. Daddy yakin, kamu pasti bisa memimpinnya dengan baik."


Salman menghirup nafas dalam-dalam sebelum menjawab permintaan mertuanya.


"In shaa Allah Salman akan berusaha menjalankan amanah, Daddy dan papa dengan baik. Do'akan saja ya."


"Tentu, kami akan mendoakan kamu." Balas Daddy dan papa Reyhan kompak. Lalu ketiga laki-laki itu saling melempar senyum.


**


Sedangkan mama Laura dan Mommy Melati berpesan pada Wulan, agar menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi anak dan suaminya. Saling mengingatkan dalam kebaikan, dan selalu bersabar dalam menghadapi segala ujian hidup.


Selanjutnya keluarga besar Salman berkumpul dan saling berpelukan, lalu menyunggingkan senyum terbaik mereka.


"Grandpa akan berdoa, semoga kita bisa mengunjungi baitullah bersama-sama."


"Opa juga akan berdo'a, semoga keluarga kita bisa bersatu di surganya Allah nanti."


Mereka serentak mengaminkan doa sesepuh dalam keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2