Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
65. Di kantor grandpa


__ADS_3

Wulan dan grandpa melambaikan tangan pada grandma yang berdiri di ambang pintu. Mereka saling melempar senyum. Setelah itu, mobil bergerak pelan melaju meninggalkan rumah sederhana itu.


Wulan duduk di bagian depan sambil memperhatikan kanan dan kiri jalan. Sedangkan grandpa fokus menyetir.


"Grandpa, kenapa kamu tidak memperkerjakan seorang supir?"


Laki-laki tua itu pun terkekeh, mendengar pertanyaan cucunya.


"Selagi grandpa masih bisa menyetir, tidak perlu seorang supir. Menikmati mengerjakan semua bersama dengan pasangan kita itu jauh lebih menyenangkan."


Grandpa dan grandma adalah orang kaya. Ia memiliki perusahaan asuransi yang memiliki beberapa cabang di berbagai wilayah di kotanya.


Namun kekayaannya itu tidak menjadikannya hidup mewah dan berfoya-foya. Ia dan istrinya tetap hidup sederhana sejak dulu kala.


Pasangan suami dan istri itu hidup rukun, penuh keharmonisan dan saling menyayangi. Sehingga hal itu menurun pada anak mereka, pasangan Marquez dan Melati.


Wulan berharap kelak juga bisa mendapatkan jodoh yang selalu menjaga keharmonisan dalam biduk rumah tangganya. Lagi-lagi bayangan Salman yang muncul dalam pikirannya.

__ADS_1


'Hih, kenapa harus bayangan dia? Padahal lelaki itu tak pernah sedikit pun respect dengan ku.' geram Wulan dalam hatinya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya mobil mereka berbelok menuju sebuah kantor yang gedungnya tinggi menjulang.


Itu adalah pertama kalinya Wulan menjejakkan kakinya di kantor grandpa nya. Sewaktu kecil ia memang tak pernah ikut ke kantor, karena Daddy tak pernah mengajaknya.


"Perusahaan grandpa tinggi dan besar sekali." celetuk Wulan sambil memperhatikan gedung itu sekali lagi sebelum masuk.


"Untuk mendapatkan semua ini, perlu sebuah kerja keras Wulan."


"Yah bisa di bilang begitu. Tapi bekerja keras itu jauh lebih mudah daripada mempertahankan hasil kerja keras lho."


Wulan mengernyitkan dahi. Senyum yang tadi terlihat di wajahnya perlahan memudar. Ia baru menyadari ucapan lelaki sepuh yang berjalan beriringan dengannya.


Memang benar, bekerja keras itu susah, tapi mempertahankannya jauh lebih susah. Dalam hati Wulan bertekad membantu grandpa nya agar bisa terus bisa mempertahankan kejayaan perusahaannya.


Setiap karyawan yang kebetulan berpapasan dengan grandpa membungkukkan badan sambil tersenyum simpul untuk memberi hormat.

__ADS_1


Di kantor daddy-nya, para karyawan pun juga melakukan hal yang sama seperti itu. Dan dimanapun tempatnya, orang pasti akan lebih menghargai orang-orang yang berpangkat. Daripada orang yang tidak memiliki kedudukan.


Saat memasuki lift, keduanya juga menggunakan lift yang sama dengan karyawan. Tidak ada perbedaan antar pekerja di gedung itu.


Para karyawan yang kebetulan melintas pun dalam hati juga memuji bentuk fisik Wulan yang sangat cantik di tambah bentuk tubuhnya yang proporsional.


Lift terbuka di lantai 10 gedung itu. Wulan dan grandpa berjalan menuju ruang direktur. Grandpa mempersilahkan cucunya untuk duduk dulu, sementara dia menghubungi sekretarisnya untuk segera menggelar rapat.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Grandpa menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu. Seorang wanita dengan rambut pirang masuk ke ruangan itu sembari membawa map di depan dadanya.


"Selamat pagi tuan Louis." ucap sektretaris berwajah khas kebarat-baratan, seraya membungkukkan badan memberi hormat dengan menggunakan bahasa setempat.


"Pagi juga. Apakah semua sudah siap?"


"Semua sudah siap di ruang rapat tuan Louis. Dan ini ada beberapa berkas yang menunggu persetujuan anda untuk ditandatangani." perempuan itu meletakkan map di depan grandpa.


Laki-laki itu segera meneliti terlebih dulu sebelum membubuhkan tanda tangannya. Lalu mereka berjalan bersama menuju ruang meeting.

__ADS_1


__ADS_2