Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
87. Kotak merah


__ADS_3

"Terima kasih sudah menjadi imam untuk ku." ucap seorang wanita yang masih memakai mukena. Pada laki-laki dihadapannya, yang baru saja menoleh ke arahnya.


"Sama-sama. Aku juga berterima kasih pada mu, karena mau menjadi makmum untuk ku."


Perempuan itu meraih tangan laki-laki dihadapannya, lalu menciumnya dengan takzim. Laki-laki itu pun meletakkan tangannya di atas kepala perempuan itu dan menyelipkan sebuah doa untuknya.


Hening sekian menit, hingga akhirnya si perempuan mendongakkan kepalanya. Kedua insan beda jenis itu saling beradu pandang, lalu melempar senyum termanis.


"Jangan menatap ku seperti itu terus-menerus. Aku tidak kuat melihat senyuman mu. Rasanya aku tak sabar ingin segera memangsa mu." canda laki-laki itu, sehingga membuat wajah sang wanita bersemu merah. Ia segera bangkit berdiri dan melepas mukenanya, untuk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah.


Laki-laki itu pun melepas sarungnya, dan segera mendekat ke arah wanita nya. Ia memeluknya erat dari belakang. Seolah enggan untuk melepaskan.


"Jangan terlalu erat memeluk. Aku bisa kehabisan nafas." cicit perempuan itu, sambil berusaha melepas tangan laki-laki yang melingkar di perutnya dengan sekuat tenaga.


Dan akhirnya ia berhasil melepaskan diri. Sedangkan laki-laki itu tersungkur ke belakang hingga akhirnya terjatuh.


Glodak.


"Arghhh.... Kepala ku, sakit." rintih Salman sembari mengusap kepalanya.

__ADS_1


Lamat-lamat matanya mulai terbuka sambil memindai setiap sudut ruangan. Lalu kembali menutup matanya. Seolah-olah tengah mengingat sesuatu.


Ia kembali membuka matanya lalu badannya merayap naik ke atas kasur. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih ia terus mengingat, sampai akhirnya ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Kenapa aku selalu memimpikan gadis itu? Tidak di rumah kakek, tidak di sini, dia selalu menghantui ku." gumam Salman lagi dengan wajah yang kesal.


"Apa doa ku perlu aku rubah? Dulu aku pernah meminta agar tidak berjodoh dengannya. Tapi kenyataannya dia justru menghantui ku. Kalau aku berdoa semoga dia berjodoh dengan ku, kemungkinan besar yang terjadi justru sebaliknya." Salman tersenyum simpul, seolah yakin rencananya itu akan berhasil.


Akhirnya ia pun ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ia ingin menunaikan sholat malam, karena jam dinding telah menunjukkan pukul 3 dini hari.


Dan ketika telah selesai mengerjakan sholat, ia benar-benar merubah do'anya. Ia memohon agar berjodoh dengan gadis yang selalu menghantuinya. Yakni Wulan.


Jam 3 dini hari di Indo, sama dengan jam 9 pagi di Belanda.


Seorang Wulan tengah berkutat dengan pekerjaannya di ruangan yang ber-AC. Ia terlihat sangat serius, sehingga tak memperhatikan jika Leon diam-diam masuk ke ruangannya.


"Selamat pagi." sapa nya dengan senyum ramah.


Wulan mendongakkan kepalanya melihat sang pemilik suara. Bukannya tersenyum dan menjawab salam dari Leon, gadis itu justru mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bekerja?"


"Siapa bilang aku tidak bekerja? Aku sedang bekerja kok."


"Jelas-jelas kamu disini. Pekerjaan apa yang kamu lakukan?"


"Em, pekerjaan ku adalah meluluhkan hati mu."


Leon menyunggingkan senyum ke arah Wulan. Gadis itu bukannya berbunga-bunga hatinya, tapi justru mendengus kesal.


Rasanya kini percuma bicara dengan sahabatnya itu. Karena setiap hari ia selalu mengucapkan kalimat rayuan pulau kelapa.


"Leon, kamu itu masih muda. Sebaiknya kamu memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Bukan malah main-main tak jelas seperti ini. Kasian om Marcos tidak ada yang membantunya di kantor."


"Okay, aku akan kembali ke kantor. Tapi sebelumnya kamu harus menerima ini."


Leon menyerahkan buket bunga mawar dan sebuah kotak kecil berwarna merah.


"Apa ini?" Wulan kembali mengernyitkan dahi menatap kotak bludru itu.

__ADS_1


Leon membuka kotak itu lalu memperlihatkan isinya pada Wulan.


__ADS_2