Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
158. Pusat perhatian


__ADS_3

"Ngga mau mengulang adegan tadi?" tanya Salman dengan senyum nakal pada istrinya.


"Ngga. Sudah cukup." balas Wulan sambil duduk menghadap meja rias. Salman membantu Wulan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Karena aku suami yang baik. Maka aku akan memberimu bonus tambahan nanti malam." kekeh Salman.


Wulan hanya bisa mengerlingkan matanya. Beruntung dia memiliki suami yang tidak pernah memiliki pacar. Hati dan perhatian seutuhnya untuknya.


Meskipun terkadang Wulan juga harus mengajarinya soal cinta dan romantis pada pasangan. Keduanya saling melengkapi satu sama lain.


Setelah rapi, keduanya keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan. Mencari keberadaan kedua orang tuanya untuk berpamitan.


"Mau kemana?" tanya mama Laura saat anak dan menantunya mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Jalan-jalan mah. Mama mau minta dibelikan apa?"


"Terserah kamu saja, Salman."


"Ya sudah, kami pamit ya, ma. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


keduanya berlalu keluar menuju carport. Tak lupa Salman membukakan pintu untuk istri, dan barulah ia yang masuk.


Mobil mewahnya melaju dengan kecepatan sedang menuju toko Ar-Rahmah.


Dulu saat sebelum menikah, Salman memang terkenal dingin dengan perempuan yang menjadi lawan bicaranya. Tapi setelah menikah, ia berubah cerewet, terlebih pada istri bulenya.


Sepanjang perjalanan, keduanya terlihat bercakap-cakap, dan sesekali juga bersenda gurau. Sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah toko yang cukup ramai.

__ADS_1


"Kesini? Mau belanja apa, mas?" Wulan bertanya sambil sejenak mengamati hilir mudik orang-orang.


"Aku mau belikan Leon obat-obatan herbal." Wulan menoleh dan menatap suaminya.


"Kamu baik sekali dengannya, mas. Padahal dulu dia itu sempat tidak suka dengan mu lho, gara-gara hati ku terpaut dengan mu."


"Masa iya sih, keburukan di balas dengan keburukan. Yang ada malah ngga selesai selesai dong. Keburukan itu, harus di balas dengan kebaikan. Lambat laun keburukan itu akan kalah.


Seperti batu karang yang terkena ombak di lautan. Suatu saat batu itu pasti akan berlubang, karena terus menerus terkena air.


Dan ketika kita berbuat baik. Maka sekali pun jangan pernah meminta untuk segera di balas. Karena semua amalan di dunia ini, pasti Allah sudah menetapkan balasannya."


Wulan manggut-manggut mendengar ucapan suaminya. Lalu mendekat ke arah suaminya, dan mengecup pipinya.


"Karena aku adalah istri yang baik, maka aku duluan yang mengecup pipi mu. Sebagai tanda terima kasih ku padamu. Pokoknya, apapun yang kamu lakukan untuk ku, pasti akan aku balas.


Ketika langit memberikan tetesan air hujannya pada tanah. Maka tanah akan menumbuhkan tunas atas seijin-Nya.


Ketika kamu memberi setetes air mani, maka aku akan memberimu seorang anak. Tentunya atas seijin-Nya."


Salman terkekeh mendengar celotehan istrinya. Lalu mengusap lembut pucuk kepalanya.


"Apa itu tandanya kamu sudah hamil?"


"Ya belum sih. Pasti sebentar lagi." ucap Wulan dengan penuh keyakinan. Karena umurnya juga masih usia produktif.


"Sebentar atau lama. Hamil atau tidak. Itu bukan sebuah tolok ukur untuk aku tetap mencintaimu."


"Nah, gitu dong. Kata-kata romantisnya juga dikeluarkan." Wulan menjentikkan jemarinya.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Kamu ternyata lebih suka aku berkata romantis, dari pada aku usap kepalamu dengan lembut ya."


"Aku suka dua-duanya. Ya sudah, ayo segera turun. Kata-kata romantisnya dilanjutkan di rumah lagi. Kalau disini, takut meleleh hati ku."


Salman menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Lalu segera keluar untuk membukakan pintu istri tercintanya.


"Silahkan turun tuan putri." ucapnya mempersilahkan Wulan turun.


"Terima kasih, pangeran." balas Wulan yang di iringi senyuman.


"Hah, astaga. Enak banget menikah dengan mu sayang. Semoga kita selamanya seperti ini ya. Pelakor, pebinor harap menyingkir dari rumah tangga kita." imbuhnya lagi dengan menggebu-gebu.


Semua mata memandang takjub ke arah Salman dan Wulan, saat keduanya berjalan memasuki toko.


Pria dengan tubuh tinggi, atletis, berkulit putih, berhidung mancung, alis tebal dan tampak berwibawa, menggandeng seorang wanita yang berkulit putih, mata biru, hidung mancung, dan terlihat bersinar wajahnya.


Mereka semua iri melihat pasangan yang sangat serasi itu. Sedangkan Salman dan Wulan hanya menanggapi dengan biasa saja.


Wulan mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut toko yang cukup luas itu. Semua barang kebutuhan muslimah tersusun rapi dan terlihat ramai pengunjung. Membuat senyum indah melengkung di wajahnya.


"Mau beli baju dulu?" tanya Salman ketika melihat wajah sumringah istrinya.


Dengan mengangguk antusias Wulan membalas pertanyaan suaminya. Karena jiwa shopaholic nya sudah meronta-ronta.


Wulan mengamati deretan gamis lebar yang berwarna warni. Tanpa sadar tangannya dan tangan Salman bergerak mengambil baju yang sama. Baju berwarna mustard.


"Nah, adegan seperti ini juga ada dalam film-film yang romantis itu, mas." cetus Wulan, Salman kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Anak ini mungkin sejak sekolah taman kanak-kanak sudah sering menonton film dewasa. Makanya otaknya benar-benar geser." gumam Salman lirih, tapi masih bisa di dengar oleh istrinya. Wulan pun mendelik ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2