Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
250. Kelebihan ASI


__ADS_3

Setelah acara sambutan yang di wakili oleh Leon, acara dilanjutkan dengan ceramah singkat oleh haji Dahlan.


Laki-laki sepuh yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu pun bangkit berdiri, dan berjalan menuju panggung.


Kakek dari Aisyah itu tersenyum, lalu mengucapkan salam dan mulai bertausyiah.


Materi ceramah yang disampaikan hampir sama dengan yang disampaikan, saat di rumah Salman dulu. Namun meskipun hampir sama, semua yang mendengarnya tetap antusias. Karena para tamu undangannya berbeda.


Setelah acara tausyiah selesai, acara dilanjutkan dengan mencukur rambut bayi. Fatim berdiri sambil menggendong bayinya. Lalu satu persatu anggota keluarganya mencukur rambut bayinya sambil mendoakan.


Setelah itu acara dilanjutkan dengan menikmati jamuan makanan yang sudah disediakan.


Wulan dan Salman bisa menikmati makanannya dengan tenang, karena baby Maryam tidur dengan pulas.


Padahal suasana cukup ramai juga. Karena sambil menikmati makanan, mereka disuguhi iringan marawis.


Tanpa terasa, akhirnya mereka tiba di penghujung acara. Keluarga Fatim berdiri di dekat pintu keluar. Untuk menyalami para tamu dan mengucapkan terima kasih, karena sudah mau menghadiri acara aqiqah itu.


"Hei, kenapa kalian buru-buru balik?" Tanya papa Adam pada papa Reyhan.


"Kami juga memiliki bayi merah, brow. Apakah kamu tidak kasian melihatnya." Papa Reyhan menunjuk baby Maryam yang tidur di dalam stroller.


"Oh, maafkan aku. Aku lupa, umur cucu kita tidak terpaut jauh. Ya sudah, berhati-hatilah."


"Hem, pasti itu. Terima kasih sudah diingatkan." Papa Reyhan menepuk pelan lengan tangan temannya.


Tak lupa salah satu kerabat Fatim, menyerahkan gift berupa handuk yang dibentuk mirip kambing. Warna pink untuk perempuan dan biru untuk laki-laki.


**


Setelah sampai rumah, Wulan mandi dengan menggunakan air hangat, begitu juga dengan Salman.

__ADS_1


Karena badan mereka terasa lengket. Selain itu, keduanya juga tidak percaya diri, jika badan mereka mengeluarkan aroma tidak sedap.


Tentu saja mereka akan mandi bergantian. Karena jika mandi bersama, pasti Wulan akan menggoda suaminya, sehingga membuat Salman semakin pusing.


Setelah Wulan selesai mandi, ia mengenakan make-up. Walaupun tidak melayani suaminya, setidaknya ia merasa percaya diri dengan tetap tampil cantik dihadapannya.


Wulan pun mengenakan baju tidurnya piyama panjang, agar tidak mengganggu mata suaminya. Jika mengenakan baju dinas.


Setelah Salman selesai mandi, ia mendekati Wulan dan anaknya yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Dengan cara mengendap-endap.


"Sun dulu mumpung bau wangi." Celetuk Salman, lalu dengan cepat ia mengecup sebelah pipi Wulan.


Ibu muda itu reflek memegang sebelah pipi yang di kecup suaminya. Dan wajahnya menghangat.


"Ish, kamu selalu mengagetkan ku saja mas." Tangan Wulan terulur, untuk mencubit perut suaminya yang six pack. Tapi Salman pandai berkelit, sehingga tidak mudah istrinya untuk menyentuhnya.


"Sstt, jangan berisik nanti baby Maryam bangun lho." Ucap Salman, mengingatkan.


Asi Wulan sangat melimpah. Selain karena hormon, juga karena ia banyak makan sayur dan ekstrak daun katuk yang berbentuk kapsul.


Bahkan kini, asi nya sudah terasa penuh lagi. Hingga buah melon nya terasa sakit, dan mulai merembes ke bajunya.


"Sayang, itu bajumu kenapa? Kok basah?" Salman menunjuk pabrik asi istrinya, dengan mengernyitkan keningnya.


Wulan menunduk melihat ke arah pandang suaminya. Lalu spontan menutup dengan kedua tangannya.


"Kenapa ditutup? Aku kan sudah tau bentuknya seperti apa."


"Sakit tahu."


"Sejak kapan?"

__ADS_1


"Beberapa hari ini, ASI-nya melimpah. Bahkan meskipun sudah diminum oleh bayi kita, tetap aku merasa masih penuh."


"Dimasukkan dalam botol dot saja, nanti dimasukkan kulkas." Usul Salman.


Pria itu segera mencari botol dot yang pernah ia beli dengan istrinya, sebelum melahirkan. Sementara Wulan tampak meringis kesakitan, hingga tiap malam tidak memakai braa.


"Ketemu." Pekik Salman senang, karena berhasil menemukan selusin benda yang diinginkan.


Setelah mencuci bersih, ia menyerahkan pada Wulan.


"Masukkan sini."


Wulan menerima botol dot itu, tapi sejenak ia membolak-balik kan sambil mengernyitkan dahi.


"Bagaimana cara memasukkannya?" Tanya Wulan dengan polosnya. Karena semenjak melahirkan sampai sekarang, bayinya tidak pernah memakai dot.


Dulu mereka membeli dot, untuk berjaga-jaga apabila asi Wulan belum keluar. Dan sekarang justru sampai melimpah.


"Aku juga tidak tahu cara memasukkannya." Salman meringis sambil garuk-garuk kepala.


"Kalau tidak bisa ya sudah, baby Maryam kamu bangunkan saja." Usul Salman lagi.


"Apa kamu tega, mengusik ketenangan tidurnya?" Wulan pun membelai lembut wajah bayinya yang cantik.


"Ya sudah aku tahan saja." Wulan terlihat lemas, lalu merebahkan diri di samping bayinya.


Salman yang melihatnya merasa kasian, tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa.


"Bagaimana kalau aku tanya mama saja, sayang?" Cetus Salman dengan wajah yang berbinar, seperti mendapatkan ide yang brilian.


"Apa! Tanya sama mama?" Pekik Wulan, karena terkejut. Salman menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2