
"Janganlah marah, maka bagimu surga. Kalimat itu selalu teringat di pikiran ku ketika aku dihadapkan pada sesuatu yang tidak sesuai dengan hati ku. Aku hanya berharap, dengan aku bisa menahan amarahku, maka surga semakin mudah ku gapai."
Wulan terperangah kaget. Lagi-lagi ucapan laki-laki dihadapannya begitu menamparnya. Bertemu dengan Salman membuat matanya terbuka lebar akan nilai-nilai kehidupan. Terlepas dari keyakinan yang berbeda yang mereka anut.
"Okay baiklah, berapa pun kerugiannya nanti aku ganti kak. Sekarang aku akan temani kakak sampai mobil kakak selesai diperbaiki."
Setelah berkata seperti itu, Wulan duduk di tepi jalan. Sengaja ia duduk bersandar di bawah pohon yang rindang, sambil mengibaskan tangannya untuk menghilangkan rasa gerahnya.
Sekian menit berlalu, dan petugas yang akan memperbaiki mobilnya belum datang. Salman tetap tenang sambil membenarkan letak duduknya.
Di saat tak sengaja menoleh, ia baru menyadari jika Wulan tengah duduk seorang diri dengan memakai pakaian yang tidak berubah seperti awal bertemu.
Salman segera turun dari mobil sambil membawa air mineral dan jaketnya.
"Aku tidak ingin kamu jadi korban pelecehaan. Sekarang pakailah jaket ku ini untuk menutupi badan mu."
Salman menyerahkan air mineral dan jaketnya pada Wulan. Gadis itu terbengong sejenak lalu segera meraih jaket dan air mineral yang diberikan padanya.
__ADS_1
'Niat hati ingin melupakannya, tapi kenapa selalu bertemu dengannya? Dan setiap perkataannya selalu membuat ku tersadar? Apakah kita dipertemukan hanya untuk menyadarkan ku?'
"Terima kasih kak." balas Wulan sambil memakai jaket, lalu setelahnya meneguk air mineral hingga sisa separuh.
"Sama-sama."
Salman ikut duduk di samping Wulan, yang membuat gadis itu berbunga-bunga hatinya.
Pertemuan terjadi bukan sekedar untuk saling mengerti, tapi untuk saling melengkapi.
Dan hatiku merasa lebih lengkap ketika berada di dekatnya.
"Kak Salman, aku boleh bicara jujur?"
"Jujur itu lebih baik, daripada kamu menyimpan sebuah kebohongan. Karena satu kebohongan akan menambah kebohongan yang lainnya. Memang kamu mau bicara apa?"
"Aku mencintai kak Salman sejak pertama kali bertemu." ucap Wulan dengan yakin.
__ADS_1
Setidaknya ia sudah mengatakan yang sebenarnya tentang perasaannya pada laki-laki yang ia cintai.
Jika diterima ia akan sangat senang. Namun jika tidak diterima, ia akan berusaha sungguh-sungguh, sebelum akhirnya melepasnya.
Bukan kah kita harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan?
Salman mengernyitkan dahi, dan sejenak menatap lawan jenisnya. Seakan tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut gadis itu. Lalu terkekeh.
"Kita baru saja bertemu, dan kamu mengatakan cinta pada ku? Mungkin itu bukan cinta, tapi rasa kagum." Salman menyunggingkan senyum.
"Kekaguman ku padamu yang melahirkan cinta di hati ini. Dari sekian banyak laki-laki, hanya kamu yang mampu menggetarkan hatiku. Apalagi namanya kalau bukan cinta?"
"Cinta bukan hanya tentang kalimat gombal saja, cinta juga merupakan komitmen untuk saling mendukung baik dalam bahagia, atau pun sebaliknya. Dan hakikat cinta adalah mencintai seseorang dalam rangka ketaatannya pada Tuhannya. Tidak semata-mata nafsu belaka."
"Cinta itu seperti hembusan angin. Tidak terlihat bentuknya, tapi dapat dirasakan. Kamu akan tahu jika suatu saat angin itu tak lagi berhembus. Aku sadar jika mungkin terlalu cepat mengatakan hal ini padamu. Tapi lebih baik mengatakannya sekarang dari pada terlambat bukan? Aku yakin, entah dirimu menyadari atau tidak, yang jelas kehadiran ku memberi warna lain dalam hidup mu. Walaupun itu hanya setitik." tegas gadis cantik bermata biru.
❤️❤️
__ADS_1