
"Bagaimana Wulan, apakah kamu mau menerima lamaran Salman?" ucap Daddy Marquez.
Semua mata tertuju pada gadis cantik yang tengah menunduk karena malu. Wulan seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan Salman.
Dulu ia begitu mengejar, hingga rela merusak ban mobilnya demi merebut perhatian Salman. Namun semua kegilaannya itu tak menghasilkan apa-apa.
Tapi kini setelah ia berserah diri pada Allah, justru Allah memberinya lebih. Wulan menghirup nafas dalam-dalam lalu mengucapkan bismillah, dan ia pun mengangguk.
"Alhamdulillah." suara tahmid menggema di seluruh ruangan itu.
"Maafkan aku, belum membawa sesuatu untukmu." lirih Salman. Wulan tersenyum lalu menggeleng tidak apa-apa.
Lidah keduanya serasa kelu untuk sekedar berkata. Sehingga keluarga mereka yang lebih banyak bertanya jawab soal pernikahan kedua anaknya.
Mereka memutuskan akan menggelar akad nikah Salman dan Wulan sebulan lagi. Karena semua harus dipersiapkan dengan baik-baik. Mengingat mereka adalah anak satu-satunya di keluarga masing-masing.
Makan malam itu akhirnya selesai. Keluarga Wulan mengantar keluarga Salman sampai ambang pintu. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Tante tunggu kamu main lagi ke rumah. Karena Tante mau buatkan kamu kue yang enak." ucap mama Laura saat Wulan mencium punggung tangannya.
Gadis itu hanya meringis. Karena teringat kelakuan bar-bar nya saat dulu.
Setelah berpamitan, Daddy Marquez mengantar keluarga calon besannya pulang.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Leon menyaksikan itu semua. Hingga air matanya menetes. Ia benar-benar sudah kehilangan kesempatan untuk mendekati Wulan, teman masa kecilnya.
**
Waktu berlibur telah habis. Keluarga Salman bersiap-siap untuk pulang ke Indo. Daddy Marquez yang mengetahui rencana kepulangan calon besannya, mengajak pulang bersamaan. Agar hubungan mereka semakin dekat.
Wulan juga diajak ikut serta pulang ke Indo. Meskipun berat melepaskan cucunya, grandpa dan grandma tidak bisa berbuat banyak. Mungkin kedepannya nanti, ia akan menyetujui tawaran Marquez untuk menjual perusahaannya dan ikut tinggal di Indo bersama anak dan cucunya.
Saat di pesawat, Salman lebih banyak diam. Sedangkan anggota keluarganya yang lain saling bercakap-cakap dengan keluarga calon besannya.
Terlihat Wulan juga tengah bercakap-cakap dengan mama dan omanya.
Perjalanan jauh itu tidak terasa lama bagi mereka. Karena keasyikan mengobrol. Setelah sampai di bandara, mereka segera turun dan masuk ke mobil masing-masing. Karena sopir mereka telah datang untuk menjemput tuannya.
**
"Kenapa melamun?" tanya mommy sambil meletakkan tangannya di bahu Wulan, yang membuat gadis itu tersentak kaget.
"Eh, Wulan tidak memikirkan apa-apa kok mom."
"Tidak perlu disembunyikan. Kami kan sudah merestui hubungan kalian." keduanya saling beradu pandang dan mengulas senyum.
"Menurut mommy, Salman adalah pemuda yang cukup baik. Semoga dia bisa menjadi imam yang terbaik bagimu."
__ADS_1
"Aamiin. Terima kasih doanya mom."
**
Sedangkan di rumah Salman, ia juga tengah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan calon istrinya. Yakni melamun di pinggir jendela. Papa Reyhan datang mendekatinya.
"Pantas saja namanya Wulan. Ternyata dia cantik seperti bulan."
Salman terkejut ketika mendengar suara papanya, dan ternyata ia sudah berada di belakangnya.
"Papa, mengejutkan ku saja."
"Papa sudah mengetuk pintu kamar mu. Dan kamu tidak menjawab apa-apa. Ya sudah, papa masuk saja."
"Ternyata Allah itu maha adil ya. Dulu pinangan mu di tolak oleh Aisyah. Tapi kini kamu justru di pinang oleh daddy-nya Wulan." kekeh papa Reyhan membayangkan saat dulu dan sekarang.
"Aku juga tidak menyangka pa. Orang yang dulu aku benci. Sekarang justru yang akan menikah dengan ku."
Papa Reyhan terkekeh lagi.
"Kalau itu, seperti cerita papa dan mama dulu Sal. Mama tuh paling benci sama papa. Tapi sekarang justru dia yang paling cinta sama papa."
"Apa maksudnya nih? Jadi sekarang papa sudah ngga cinta lagi sama mama?" tiba-tiba mama Laura sudah berada di dekat papa Reyhan. Ia menarik telinga suaminya, hingga mengaduk kesakitan.
__ADS_1
Salman yang melihat hal itu justru terkekeh.