
"Kakak, tidak keberatan kan tidur di kamar mama ku yang..." Fatim sengaja menjeda kalimatnya.
"Meskipun sempit, kalau cuma untuk tidur orang dua masih muat kok." Sahut Leon sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur.
Laki-laki itu menepuk tempat tidur disampingnya, sambil tersenyum. Pertanda ia menyuruh istrinya untuk mendekat. Merasa terpanggil, Fatim pun ikut mendekat.
Dengan hati-hati, ia duduk di samping suaminya yang rebahan.
"Kamu serius, kak. Mau menyumbang untuk masjid di desa ini?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja aku serius. Memang kamu tidak bisa membedakan aku sedang dalam mode serius dan bercanda." Cerocos Leon, sambil mengerucutkan bibirnya.
Ia pura-pura marah, karena istrinya meragukannya. Fatim menyunggingkan senyum tipis melihat hal itu.
Suaminya itu memang sedikit kekanak-kanakan. Ia tidak akan tinggal diam demi bisa meyakinkan orang lain tentang kemauannya.
"Okay, sekarang aku baru percaya kalau sudah melihat kak Leon ngambek seperti itu."
Fatim menggoda suaminya sambil meniup telinganya, agar tidak mengerucutkan bibirnya lagi. Meremang bulu kuduk Leon, karena hal itu.
"Sayang, kamu membangunkan singa tidur ya." Leon mendongak menatap wajah istrinya, yang justru cengar-cengir.
"Justru aku ingin menidurkan singa. Biar tidak menggigit ku."
Leon, menggelitiki perut Fatim yang buncit. Sehingga ia tergelak.
"Jangan lakukan itu, aku takut ranjang tempat tidur mamaku tidak kuat. Bisa jatuh kita nanti." Ucap Fatim, sambil berusaha menghindar dari jangkauan tangan suaminya.
__ADS_1
Namun bukannya menghentikan aksinya, Leon justru semakin bersemangat menggelitikinya. Keduanya tertawa lepas.
Kakek dan nenek yang mendengar gelak tawa dari kamar cucunya, juga ikut tersenyum bahagia.
**
Pagi harinya, Leon dan Wulan bangun bersamaan. Setelah mengerjakan sholat subuh di masjid, keduanya menikmati waktu dengan jalan-jalan pagi mengitari desa.
Hawa yang sejuk, dan udara yang masih terasa segar membuat keduanya rileks dan pikiran menjadi lebih tenang.
Fatim menyapa warga yang kebetulan berpapasan dengannya. Warga di desa itu cukup mengenalnya, karena sering menginap di tempat kakek Somad.
Para tetangga masih saja berkasak- kusuk membicarakan Leon. Bertemu dan melihat orang bule dari jarak yang dekat, sungguh sesuatu bagi mereka.
Matahari perlahan menampakkan sinar keemasan. Pasangan suami-istri itu juga sudah berjalan cukup jauh, sampai peluh membasahi wajah dan badan mereka.
Sesampainya di rumah kakek, keduanya mencuci tangan dan kaki. Karena saat tadi keduanya berjalan-jalan, tidak memakai sandal. Lalu masuk melewati pintu belakang.
Tampak jelas kesibukan yang tengah dilakukan pasangan sepuh kakek dan neneknya Fatim. Sang nenek mencuci baju dengan cara di gosok.
Sedangkan kakek, seperti biasanya ia masih sibuk membuat dagangan cilok nya. Meskipun ada yang menjual mesin untuk membuat cilok, tapi ia merasa hasilnya kurang bagus.
Setiap hari ia memproduksi cilok untuk kelima outletnya. Jika nenek sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, ia juga ikut membantunya.
Karena nenek belum menyapu halaman depan rumah, yang sudah dipenuhi dedaunan yang berguguran, Fatim pun mengambil sapu dan berniat menyapu.
Sedangkan Leon tertarik, untuk melihat apa yang dikerjakan kakeknya dari dekat. Ia merasa geli melihat kakeknya memegang dan meremas adonan lalu membentuknya menjadi bulat-bulat dan di masukkan ke dalam panci panas.
__ADS_1
"Apa kakek tidak jijik?"
"Kenapa harus jijik, cara membuat cilok dan bakso, ya seperti ini."
Leon seumur-umur belum pernah makan makanan seperti yang disebutkan kakeknya tadi. Karena rasa penasaran yang semakin menggelitik, pria itu akhirnya ingin mencobanya.
"Kek, apakah aku boleh ikut-ikutan seperti itu?"
"Boleh. Tentu saja boleh. Ambillah sendok di dekat rak piring."
Leon berjalan ke arah rak piring dan mengambil sendok. Setelahnya ia mendekat ke arah kakeknya. Setelah sejenak mengamati dan mendapat pengarahan dari kakeknya, ia mulai melakukan seperti apa yang dilakukan oleh kakeknya.
Sensasi pertama yang dirasakan Leon ketika memasukkan tangannya ke dalam adonan, adalah jijik. Tapi ia berusaha menghilangkan rasa itu, lalu mengambil dan mulai membentuk adonan menjadi bulat seperti kelereng.
Hasil pertama yang ia buat, tentu saja tidak sebagus milik kakek. Tidak bisa bulat, tapi justru malah amburadul tidak beraturan. Hal itu sudah beberapa kali terjadi. Tapi ia tidak menyerah. Hingga perlahan bentuknya mulai bagus.
"Ngga sia-sia, akhirnya bentuknya bisa bagus juga." Celoteh Leon kegirangan, melihat beberapa hasil tangannya yang sudah jadi.
Di sisi lain, Fatim cukup merasa kelelahan, karena menyapu halaman rumah kakeknya yang cukup luas, dengan menggunakan sapu lidi.
Bahkan sapu lidi itu tidak memiliki gagang. Sehingga ia harus membungkukkan badannya cukup lama. Sesekali ia menegakkan badannya, sembari menghirup nafas dan meregangkan otot-otot tubuhnya.
Setelah itu kembali menyapu, sampai akhirnya selesai. Dan membakar dedaunan kering itu di sudut pekarangan rumah.
Ia kembali masuk rumah melalui pintu dapur, dan melihat wajah suaminya penuh dengan adonan cilok.
"Astaga! Dia mau buat cilok, atau mau buat masker wajah dari adonan cilok." Gumam Fatim sambil mengusap dada dan menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah absturd suaminya.
__ADS_1