
Mata Fatim berbinar, ketika melihat baby Maryam yang ada dalam gendongan Salman.
"Boleh kah, aku memangku nya?" Tanya Fatim.
"Boleh. Hati-hati ya." Dengan hati-hati Salman memberikan bayinya ke Fatim.
Bayi yang sejak tadi tampak tenang dalam gendongan ayahnya, sekarang perlahan bergerak. Ketika menggeliat, wajahnya nampak memerah.
"Oh, lucu sekali dia." Oceh Fatim.
"Sebentar lagi, kamu juga akan memilikinya. Setiap saat bisa menyentuh dan menggendongnya." Ucap Wulan, lalu perlahan duduk di samping suaminya.
"Doakan aku ya. Agar persalinannya juga lancar. Kami sama-sama sehat."
"Tentu aku akan mendoakan mu."
Saat Wulan tengah berbincang dengan tamunya, Salman mengambilkan soft drink dan cemilan yang ada di kulkas untuk suguhan mereka.
"Apakah kamu tidak tertarik untuk menggendongnya, Leon?" Tanya Wulan.
"Aku, tidak terbiasa menggendong bayi. Aku takut menjatuhkannya. Bisa masuk penjara aku nanti."
Mereka terkekeh mendengar ucapan Leon. Terlepas benar atau tidaknya.
"Ah, kamu terlalu penakut. Lihat suami ku dong. Setiap hari, dia yang selalu memandikan dan melakukan apapun untuk bayi kami." Ucap Wulan dengan jumawa.
Dia memang selalu berkata apa adanya pada Leon. Rasanya sulit untuk berbasa-basi dengannya. Mengingat keduanya adalah teman masa kecil.
"Ah, rupanya kamu menantang ku. Baiklah, aku akan menggendong bayimu." Tangan Leon bergerak ingin meraih bayi yang ada dalam pangkuan istrinya.
__ADS_1
"Eits! Jangan jadikan anakku kelinci percobaan. Aku takut kamu melakukannya karena terpancing ucapan istriku. Kalau tidak berani, ya sudah tidak apa-apa. Jangan sampai terjadi apa-apa pada putri kecilku. Tahu sendiri, istriku memang hobby nya memancing. Apa saja ia pancing. Kamu bisa belajar menggendong bayi, ketika kamu sudah memilikinya nanti."
Mereka terkekeh mendengar penjelasan Salman. Apalagi ketika dirinya menyebut kata kelinci percobaan.
"Tuh, Wulan. Suami sendiri lho yang bilang. Aku sih, berani-berani saja mencobanya."
"Setelah dipikir-pikir, memang benar apa kata suami ku. Aku takut kamu menjadikan anakku kelinci percobaan. Tidak usah saja deh kalau begitu."
Mereka berempat terus bercakap-cakap, dan sering kali diantaranya melempar candaan. Saat sedang asyik bercanda, terdengar suara ketukan pintu.
Salman bangkit berdiri untuk melihat siapa yang datang.
"Fatih? Apakah kamu juga ingin menggendong anak ku?" Tanya Salman sambil sedikit menyunggingkan senyum. Fatih terkekeh kecil sebelum menjawab.
"Percaya diri sekali kamu." Fatih juga menyunggingkan sedikit senyuman.
"Tega sekali kamu sayang. Mengatai suami seperti itu." Fatih mendengus kesal dan pura-pura terisak.
"Itu lebih bagus, dari pada aku bilang mirip anjing dan kucing." Aisyah meringis dan menutup mulutnya. Sekalipun dirinya sudah memakai cadar.
"Apakah Wulan ada di dalam?"
"Iya. Ayo silahkan masuk." Salman pun membukakan pintu lebih lebar, agar mereka bisa masuk.
"Assalamu'alaikum." Ucap pasangan Fatih dan Aisyah, pada mereka yang ada di dalam kamar Wulan.
Mereka pun saling bersalaman dan berpelukan erat, sebelum akhirnya saling mengurai pelukan. Lalu duduk di sofa yang masih kosong.
Salman yang masih berdiri, segera mengambil soft drink dan cemilan.
__ADS_1
"Hai, kaum bapak-bapak. Ayo kita bercakap-cakap di balkon saja. Biarkan ibu-ibu membahas, kapan akan memberi adik untuk anak pertamanya." Seloroh Salman sambil meringis.
Mereka yang mendengarkan candaannya hanya terkekeh geli. Sementara Wulan, yang belum selesai masa nifasnya, menelan saliva dengan susah.
Ada-ada saja suaminya jika berbicara. Tidak tahu bagaimana susahnya orang hamil sampai melahirkan.
"Ah, betul sekali apa katamu. Ya sudah, ayo kita juga rapat sendiri." Fatih bangkit berdiri dan mendekati Salman.
"Tenang saja, anak kita belum lahir. Aku akan membocorkan rahasia rapat mereka padamu. Tapi ijinkan aku ikut dengan mereka dulu." Leon meringis pada istrinya. Lalu bangkit berdiri dan mengekor pada Salman dan Fatih.
"Ternyata mas Salman bisa gila juga ya. Pasti ini semua karena kamu yang mengajarinya ya." Seloroh Aisyah, dengan bahunya yang terguncang. Pertanda ia sedang tertawa.
"Aku memang sedikit gila. Tapi kamu juga jauh lebih gila." Wulan menjulurkan lidahnya.
Oek.. Oek
"Tuh kan, gara-gara kalian bertengkar, jadi nangis deh baby Maryam." Gerutu Fatim.
Ia bangkit berdiri, lalu menimang-nimang bayi merah itu. Tapi usahanya percuma. Bukannya tangisnya mereda, tapi malah semakin menjadi.
"Sepertinya dia kehausan, butuh minum." Fatim pun menyerahkan bayi merah itu ke mommy nya.
Setelah Wulan menerima bayinya, dengan pelan dan hati-hati ia menyusuinya. Ia mengusap pucuk kepala bayinya dengan penuh kasih sayang. Lalu mendaratkan kecupan di keningnya.
Sementara itu, setelah menyerahkan baby Maryam, pandangan Fatim beralih pada Jundi. Bayi satu tahun yang masih anteng dalam pangkuan uminya.
"Hai, ganteng. Yuk ikut Tante." Fatim mengulurkan tangannya di hadapan bayinya Aisyah.
Entah kenapa, Fatim sangat menyukai bayi-bayi itu. Padahal sebentar lagi, ia juga akan memiliki seorang bayi.
__ADS_1