
Salman tengah mengganti Pampers baby Maryam, sedangkan Wulan sedang berada di toilet.
"Sayang, kamu senang kan dengan acara tadi? In shaa Allah lain kali, Daddy akan buatkan acara untuk mu. Doakan ya, rezeki papa semakin lancar."
Salman terus saja mengajak putri cantiknya berbicara. Walaupun baby Maryam belum bisa berbicara, setidaknya bayi itu meresponnya dengan ocehan dan tawanya yang lucu.
Sehingga Salman tidak menyadari kehadiran istrinya, yang sudah berdiri dibelakangnya. Lalu ia mengalungkan tangannya di kedua bahunya.
Salman sekilas melirik tangan Wulan yang putih bersih dan berbau wangi. Sehingga membuat jantungnya berdegup kencang.
'Aduh, apa yang sedang Wulan lakukan?' batin Salman.
"Aku tidak sedang melakukan apa-apa. Cuma ingin mengingatkan saja, kalau sekarang giliran mu bersih-bersih mas." Bisik Wulan lembut di telinga Salman. Sehingga membuat bulu kuduknya merinding.
Padahal tadi Salman hanya membatin, tapi Wulan seolah-olah tahu apa yang sedang ia pikirkan. Sepertinya mulai sekarang, ia tidak boleh membatin Wulan lagi. Karena takut terbaca oleh istrinya.
Pria itu bangkit berdiri dan hendak ke kamar mandi. Tapi ia terkejut ketika melihat penampilan Wulan.
Selama Wulan menyusui, saat tidur ia selalu memakai piyama. Tapi kali ini ia memakai baju dinas yang sudah beberapa bulan tidak ia kenakan.
"Sa-sayang, apa kamu sengaja ingin menggodanya ku?" Tanya Salman dengan suara parau.
"Sengaja menggodamu? Memang aku wanita apaan?" Kekeh Wulan, sambil mengibaskan rambutnya. Hingga mengenai muka Salman. Lalu wanita itu duduk di dekat box bayinya. Dan bau rambutnya yang wangi masih tertinggal di hidung suaminya.
'Hem, pasti dia sedang merencanakan sesuatu untukku malam ini.' batin Salman dengan penuh percaya diri, sebelum akhirnya ia melenggang ke kamar mandi.
__ADS_1
Salman segera menggosok gigi, dan memastikan dirinya juga tak kalah wangi dengan istrinya.
"Sepertinya dia sudah siap melayani ku malam ini. Apa aku sengaja pura-pura tidak tahu saja. Biar dia duluan yang datang mendekat. Tapi, kalau dia tidak mendekati ku bagaimana? Sayang dong kalau dianggurin." Salman terus saja berceloteh di dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Salman sudah keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya masih saja duduk di dekat box bayinya.
Lalu ia pun melakukan hal yang sama dengan yang Wulan lakukan tadi. Mengalungkan tangannya di leher sang istri, lalu memberinya kecupan yang bertubi-tubi di bagian wajahnya.
"Ayo segera beri baby Maryam asi, agar dia bisa segera tidur. Karena aku akan memberimu nafkah batin." Bisik Salman lembut ditelinga Wulan.
"Dia masih ingin berceloteh, masa kamu tega menyuruhnya tidur, mas?"
"Tapi matanya sudah sedikit memerah, kasian kan. Lagipula, kalau masih bayi memang perlu banyak tidur."
"Kalau kamu terus-menerus mengganggunya, bagaimana dia bisa lekas tidur mas?" Wulan menggelengkan kepalanya, karena Salman selalu mengusap dan mengecup kening dan sebelah pipi anaknya.
"Habis, dia gembul sekali. Aku gemas. Tapi lebih menggemaskan mommy nya sih."
"Tidak juga. Masih lebih menggemaskan Daddy nya. Aku kejar susah sekali, seperti jual mahal gitu. Eh, giliran aku menjauh, disusul deh sampai ketemu."
"Hem, ternyata kamu masih mengingat masa-masa itu ya."
"Tentu saja. Akan aku ceritakan pada anak cucu kita nanti."
"Kita mau ngadon baby yang kedua sayang, kenapa sudah bilang anak dan cucu. Seolah-olah kita ini sudah tua." Ucap Salman sambil pura-pura menangis.
__ADS_1
Wulan terkekeh, melihat ekspresi dan ucapan suaminya yang lucu.
"Ngadon kamu bilang, mas? Memangnya kita ini lagi bikin donat?"
"Terus, aku harus bilang produksi anak atau berkembangbiak gitu."
Wulan semakin terkekeh, mendengar ucapan suaminya lagi.
"Mas, memang kita ini pabrik anak atau hewan yang sedang berkembangbiak? Kok kamu bicaranya semakin ngelantur sih?"
"Jelas ngelantur, puasanya saja sampai tiga bulan."
"Eh, mas. Tapi, kita belum konsultasi ke dokter lagi. Aku kan juga belum KB."
"KB? Bukankah itu artinya Kubu Berantem?" Wulan terkekeh.
"Dulu saat pelajaran ilmu pengetahuan alam kamu kemana mas? Masa kepanjangan KB saja tidak tahu? KB itu kependekan dari Keluarga Berencana."
"Bukankah kita sudah berencana, memiliki anak sedikasihnya. Kenapa harus bertanya dengan dokter lagi?"
"Maksudnya aku belum suntik KB mas. Aku rasa, aku ini termasuk orang yang subur. Baru juga beberapa kali proses, sudah hamil. Ini aku juga sudah selesai menstruasi. Kalau kita bikin langsung jadi gimana?"
"Bagus dong kalau begitu. Aku mempunyai kecebong yang berkualitas. Tanpa perlu susah-susah mengikuti seleksi sudah jadi."
Wulan terus saja terkekeh mendengar ucapan absturd dari mulut suaminya. Mungkin benar, suaminya berbicara ngelantur bin ngawur seperti itu karena kelamaan puasa.
__ADS_1