Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
44. Seperti badut


__ADS_3

Sesampainya di kantor Daddy, Wulan dan Leon segera turun dari mobil. Mereka bertiga berjalan beriringan, dengan posisi Daddy di tengah antara Leon dan Wulan.


Di tangan kanan mereka terselip tas kerja, yang membuat tampilan mereka tampak anggun dan gagah.


Wajah campuran Indo dan Belanda yang dimiliki Wulan dan di tambah polesan make up, membuat ia semakin terlihat cantik dan menawan.


Beberapa karyawan yang melihatnya berdecak kagum, dan berandai-andai ingin menjadi pacar Wulan. Namun, impian mereka sedikit terpatahkan karena melihat Leon yang berjalan beriringan dengan bos dan anak bosnya. Yang tentu saja mereka kira itu adalah pacar Wulan.


Sementara para karyawati berdecak kagum melihat Leon untuk yang pertama kalinya. Ketampanan Leon yang khas warga Belanda, badan tinggi tegap, hidung mancung dan kulit putih kemerah-merahan, serta sedikit jambang yang tumbuh di sisi pipinya membuat ia terlihat semakin keren, dan membuat para wanita menjerit tertahan.


Wulan dan Leon adalah pasangan yang sempurna pikir mereka. Tapi nyatanya itu hanyalah sebuah pemikiran yang tidak terbukti.


Mereka bertiga memasuki ruang kerja Daddy Marquez yang luasnya sebesar desa author. Wangi khas ruangan seketika menusuk indera penciuman.


Daddy mendahului mereka mendekati meja kerjanya. Beberapa file penting yang telah ia kerjakan di rumah semalam ia keluarkan dari dalam tas kerjanya. Sedangkan Wulan dan Leon duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerja Daddy.

__ADS_1


Daddy memilah beberapa file dokumen dan di sodorkan pada Wulan. Ia menjelaskan pada putri semata wayangnya itu tentang cara mengerjakannya.


Leon pun ikut menimpali penjelasan Daddy, agar Wulan lebih jelas. Sementara gadis itu tampak manggut-manggut setelah mendengar penjelasan dari dua lelaki dihadapannya.


Daddy Marquez menelpon seorang karyawannya untuk mendesign tempat kerja untuk Wulan yang menjadi satu dengan ruang kerjanya.


Dan tak lama kemudian, dua orang karyawannya datang untuk melaksanakan perintah pimpinan mereka.


Wulan pun memberi beberapa arahan pada keduanya, agar tempat kerja di design sesuai keinginannya.


Sekian menit berlalu, akhirnya dua orang karyawan itu berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan senyum puas di wajah cantik Wulan.


Tanpa terasa, jam istirahat tiba. Daddy mengajak keduanya untuk makan di luar. Wulan dan Leon mengikuti saja permintaan Daddy.


Mobil Leon melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah rumah makan yang tak jauh dari kantor, dan terkenal akan cita rasa masakannya yang khas dan enak.

__ADS_1


Setelah memesan makanan, tiba-tiba Wulan ingin ke toilet. Ia pun berpamitan pada Daddy dan Leon.


Suara sepatu high heels nya terdengar berbunyi nyaring, karena ia tengah mempercepat langkahnya menuju toilet. Ia sudah tak tahan lagi ingin pipis. Dan hal itu sangat mengganggu pendengaran.


Sesampainya di toilet, ia mengetuk pintu hingga berulang kali. Berharap seseorang yang ada di dalam segera keluar.


Ia meringis menahan rasa sakit di perutnya. Hingga tak sadar saat ia mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka dan justru ia tengah mengetuk dahi seseorang.


Arghhh...


Suara seseorang yang mengerang kesakitan karena merasakan dahinya di ketuk. Ia dan Wulan pun saling beradu pandang. Dan mata keduanya membulat melihat siapa yang berdiri dihadapannya saat ini.


"Wulan." " Kak Salman." ucap mereka bersamaan.


Salman sangat terkejut melihat penampilan Wulan yang justru terlihat seperti badut dihadapannya. Dan Wulan sendiri tak menyangka jika lagi-lagi ia harus dipertemukan dengan Salman.

__ADS_1


"Kenapa mukamu mirip badut?" ucap Salman dengan polosnya. Ia terbiasa melihat kecantikan mama dan omanya yang berdandan natural, berbeda dengan Wulan yang di anggapnya terlalu menor karena memakai lipstik dengan warna merah menyala.


"Apa! Seperti badut? Kak Salman kalau bicara suka seenaknya sendiri ya. Di saat semua orang memuji Wulan karena cantik, tapi kakak justru mengatai Wulan mirip badut. Sungguh tega." dengan geram Wulan mendorong tubuh Salman hingga ambruk ke lantai toilet.


__ADS_2