Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
271. Di pantai


__ADS_3

Pada pagi harinya, keluarga Salman dan Wulan sudah bangun. Setelah melaksanakan sholat subuh, mereka melakukan olahraga ringan di pelataran villa. Si kecil Maryam pun juga sudah bangun dan ikut olahraga bersama.


Setelah selesai olahraga, mereka jalan-jalan disekitar villa. Mereka melewati sebuah sungai, yang airnya sangat jernih.


Aliran air sungai itu tingginya tak lebih dari setengah kaki orang dewasa. Bebatuannya juga tampak terlihat jelas. Hal itu menarik hati mereka untuk memasukkan kakinya ke dalam air.


Mereka langsung bergidik dingin, ketika pertama kali kaki mereka menginjak air sungai. Cukup lama mereka berdiri dan berjalan bolak-balik di dalam air.


Wulan berjongkok di dekat baby Maryam, sambil memperhatikan keluarganya yang sudah masuk ke dalam sungai duluan.


"Sayang, apa kamu ingin seperti mereka?" Tanya Wulan pada baby Maryam.


"Ayo sayang, kita bermain air." Ucap Salman, sambil memercikkan air pada Maryam, sehingga membuat bayi itu bergidik kedinginan.


"Yes, mom."


Baby Maryam tersenyum, dan menarik tangan mommy nya, untuk mengantarkannya mendekat ke arah Daddy nya.


Setelah itu, Salman menangkap tubuh anaknya dan meletakkan pelan-pelan ke dalam aliran air sungai.


Balita itu semakin bergidik dingin, lalu menghentak-hentakkan kakinya di dalam aliran air. Sehingga airnya memercik ke tubuh dan wajahnya. Percikannya juga mengenai papanya.


"Oh, kau rupanya senang sekali bermain air ya, sayang." Ucap Salman, sambil memercikkan air ke wajah putri kecilnya. Baby Maryam bersorak kegirangan, lalu membalas perlakuan Daddy nya.


Hal itu mengundang perhatian keluarganya. Lalu mereka pun ikut memercikkan air ke arah baby Maryam, sambil bersorak-sorai.


"Sayang, apa kamu tidak ingin ikut bermain air?" Tanya Salman, sambil memercikkan air ke arah Wulan, yang masih berjongkok di tepi sungai.


"Iya, rasanya begitu dingin dan menyegarkan sekali sayang." Ucap Daddy.


Mommy Melati dan mama Laura saling beradu pandang, lalu secepat kilat menarik kedua tangan Wulan.

__ADS_1


Sehingga membuat Wulan terjerembab jatuh ke dalam sungai. Percikan airnya sampai mengenai badan seluruh keluarganya.


Mereka pun balas memercikkan air ke arah Wulan. Selanjutnya mereka saling balas memercikkan air. Tawa dan canda riuh terdengar. Sangat bahagia sekali.


Cukup lama mereka berbuat seperti itu, sampai bajunya basah kuyup semua.


"Kamu kedinginan, sayang?" Tanya Salman, pada putrinya.


"Kita pulang, yuk?" Ajak Salman.


"Baby, kamu kedinginan ya? Ya sudah kita pulang sekarang ya." Ucap Wulan.


"Iya, ayo kita pulang sekarang." Ajak grandpa.


Mereka pun naik ke atas, lalu berjalan beriringan menuju villa.


**


Ada urap, balado telur, tahu, tempe bakar, dan petai bakar, gudeg nangka muda, dan beberapa jenis sayur lainnya.


Tak perlu menunggu waktu lama, semua hidangan itu telah berpindah ke perut mereka.


Pada siang harinya, mereka berkemas dan bersiap untuk pulang.


**


Sementara itu, di kediaman Fatim. Keluarga besarnya juga tengah meluangkan waktu untuk pergi ke pantai.


Setelah semua siap, mobil yang dikemudikan oleh papa Adam, bergerak menuju pantai.


Sepanjang perjalanan, mereka bercakap-cakap dan terkadang diselingi tawa. Abidah juga ikut berceloteh, yang membuat keluarganya terkekeh. Karena belum sepenuhnya paham dengan bahasa balita itu.

__ADS_1


Menempuh perjalanan sekitar tiga jam, akhirnya mereka tiba di pantai. Karena mereka mengunjungi pantai saat weekend, maka kondisinya benar-benar membludak. Penuh dengan pengunjung.


Mereka berjalan beriringan ke pantai, sambil membawa perlengkapan yang dibutuhkan.


"Oh, sudah berapa purnama aku tidak mengunjungi pantai?" Teriak Leon dengan bahagianya, sampai menarik rambutnya sendiri.


Orang luar memang lebih suka mengunjungi pantai, dan betah berlama-lama berjemur disana.


"Tunggu, Leon. Kamu meninggalkan anak dan istrimu." Seru mama Margareth, melihat anaknya sudah berlari menuju ke bibir pantai.


Keluarganya yang melihatnya geleng-geleng kepala sendiri sambil berdecak heran. Mereka pun mengikuti Leon.


"Hem, kamu tega meninggalkan ku." Protes Fatim, yang sudah berdiri sejajar dengan suaminya.


Leon pun menoleh ke arah samping dan meringis, ketika Fatim menatapnya.


"Maafkan aku, sayang. Mungkin karena sudah lama tidak ke pantai. Terakhir kesini bareng Wulan, itu pun sudah sekitar lima tahunan yang lalu. Jadi benar-benar rindu sekali." Ceplos Leon.


"Bareng Wulan?" Ulang Fatim dengan wajah tidak enaknya, yang membuat Leon seketika menutup mulutnya karena keceplosan.


"Iya, sayang. Tapi itu sudah dulu sekali kok. Jangan cemburu ya." Leon mengalungkan tangannya di bahu istrinya, sambil menyunggingkan senyum.


"Sekarang yang menjadi istriku kan, kamu. Wulan juga sudah memiliki suami kok. Jangan marah ya." Leon menarik pipi Fatim, agar tersenyum.


"Iya-iya, aku tahu. Mereka kan hanya masa lalu kita. Yang penting adalah masa kini dan masa depan ku sama kamu kak."


"Ish, pintarnya istri ku." Leon mengecup kening Fatim.


Uhuk... Uhuk...


"Ini di tempat umum." Sindir papa Adam, yang menyadarkan Leon dan Fatim. Sehingga keduanya tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2