Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
227. Tuan es batu


__ADS_3

"Sayang, kapan-kapan kita ke rumah Wulan lagi yuk." Ajak Fatim pada Leon, ketika keduanya sudah pulang. Dan kini sedang duduk bersandar kepala ranjang.


"Bukan kah kita tadi habis dari sana?" Leon meletakkan handphonenya, lalu menatap wajah istrinya.


"Tadi kita cuma lihat wajah bayinya Wulan sebentar. Belum juga sampai tahap menggendong. Tahu sendiri kan orang tua kalau ketemu orang tua jadinya apa? Pasti bakal adu mulut. Bercanda yang tiada habisnya."


Leon manggut-manggut menanggapi ucapan istrinya. Padahal sebenarnya kaum perempuan kalau bertemu dengan temannya, juga pasti akan berbuat demikian.


Tapi untuk membalas ucapan istrinya, ia takut tersinggung. Karena semenjak hamil, otak istrinya sering konslet. Hal yang kecil, bisa berubah menjadi hal yang besar bagi istrinya itu.


"Baiklah, sebaiknya. Ayo kita istirahat dulu. Besok akan aku antar kamu ke rumah Wulan. Gendong bayinya sepuas mu."


Fatim mengangguk dengan wajah yang berbinar. Lalu beringsut merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


**


Keesokan harinya, Fatim benar-benar menagih janji suaminya untuk mengantarkannya ke rumah Wulan. Akhirnya, setelah menyelesaikan sarapan paginya, keduanya berangkat ke sana.


Kesibukan masih terlihat jelas di rumah megah Wulan. Banyak orang yang bergerak hilir mudik kesana-kemari untuk membereskan sisa acara semalam. Karena tidak mungkin semua bisa bersih dalam sekejap saja.


"Sayang, apa kamu tidak malu. Tuh, masih banyak orang yang beres-beres." Leon menunjuk orang-orang yang ada di pelataran rumah mewah Wulan.


"Kenapa harus malu. Niat kita kesini kan untuk silaturahim." Tegas Fatim.


"Iya deh, aku pasrah sama kamu saja." Leon memajukan mobilnya sedikit, sebelum turun.


Keduanya mengucapkan salam, dan mengulas senyum saat melewati kerumunan orang-orang itu. Kebetulan, grandpa yang berada di luar melihat kedatangan mereka.


"Hai. Ada apa datang kesini sepagi ini?" Sapa pria sepuh berambut pirang keputihan.

__ADS_1


"Ini Fatim mau bertemu dengan bayinya Wulan." Tegas Leon.


"Oh, sudah tak sabar rupanya memiliki bayi." Kekeh grandpa.


Pasangan suami-istri itu hanya mengulas senyum.


"Ayo, grandpa antarkan bertemu mereka."


"Terima kasih, grandpa." Ucap keduanya.


Mereka bertiga berjalan beriringan, menuju kamar Wulan.


Sesampainya di sana, grandpa mengetuk pintu kamar cucunya. Tak berselang lama, muncul Salman dari balik pintu. Ia memindai satu persatu orang yang ada dihadapannya secara bergantian.


"Ada apa, grandpa?" Salman mengernyitkan dahi ke arah pria sepuh yang ada dihadapannya.


"Mereka kebelet ingin menggendong Maryam. Bisakah kamu meminjamkannya?"


"Oh, tunggu sebentar ya. Biar istriku pakai jilbabnya dulu."


Mereka pun mengangguk, dan Salman kembali menutup pintunya.


"Sayang, diluar ada Leon dan istrinya. Cepat kamu rapikan pakai bajumu, lalu pakai jilbab."


"Hah, mereka ngapain kesini mas?"


"Katanya kangen ingin bertemu dengan baby Maryam."


"Kangen? Bukan kah semalam habis bertemu?"

__ADS_1


"Orang hamil itu bawaannya aneh-aneh sayang. Kalau tidak dituruti, takut anaknya ecesan."


Wulan terkekeh mendengar penjelasan suaminya. Mitos dari mana itu. Bahkan di Belanda pun tidak ada. Tapi Wulan menuruti perkataan suaminya.


Setelah istrinya merapikan baju dan memakai jilbabnya, Salman barulah membukakan pintu untuk mereka.


"Maaf lama menunggu. Ayo, silahkan masuk." Salman membukakan pintu lebih lebar untuk tamunya.


"Duduklah di sini dulu. Biar istriku yang kesini."


Suami Wulan mempersilahkan pasangan suami-istri itu duduk di sofa, yang ada di ruangan itu.


Kamar Wulan memang sangat luas. Fasilitasnya pun cukup komplit. Ada sofa beserta mejanya, seperti di ruang tamu. Televisi layar lebar yang besar. Kulkas, dan tentunya kamar mandi.


Sebenarnya Salman pernah bertanya pada istrinya, kenapa tidak sekalian saja di beri ruang dapur. Jadi, ketika malam-malam lapar, tidak perlu sampai turun ke bawah. Tapi yang ada Wulan justru terkekeh mendengar hal itu.


"Itu artinya, rumah dalam rumah dong mas." Celoteh Wulan kala itu. Yah, walaupun di pikir-pikir memang ada benarnya.


Salman menghampiri Wulan yang berniat menggendong bayinya. Tapi karena pria itu takut jika terjadi apa-apa dengan jalan lahir bayinya, maka ia segera meminta putri kecilnya untuk di gendong.


"Dih, kenapa sih mas. Itu kan anakku, kenapa aku tidak boleh menggendongnya?" Protes Wulan karena sebal dengan sang suami.


"Aku tidak mau jalan lahirnya rusak. Kan baru di aspal. Nanti saja kalau jalan lahirnya sudah cukup aman, aku akan ijinkan untuk menggendongnya." Bisik Salman yang yang membuat wajah Wulan memerah.


"Bisa ngga sih, mas. Tidak bicara seperti itu? Malu tahu kalau kedengaran sama mereka."


"Aku kan yang mengajari juga istriku. Kalau tidak diajari, mana mungkin bisa. Tahu sendiri, aku orangnya sangat pendiam. Bahkan kamu pernah menjuluki ku dengan sebutan tuan es batu. Ckckck, sungguh keterlaluan. Untung kita berjodoh."


"Memang kenapa kalau tidak berjodoh?" Tanya Wulan sambil mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Bakal aku laporkan pihak berwajib. Atas tuduhan pencemaran nama baik." Kekeh Salman, lalu ia berjalan mendahului istrinya. Sebelum cubitan melayang di badannya.


__ADS_2