
Malam itu, keluarga Marquez tengah menikmati makan malam bersama dengan keluarga Leon.
Sengaja Marquez menahan kepulangan tetangga sebelah rumahnya itu. Agar menginap lebih lama dirumahnya. Karena ia hendak berangkat umroh.
"Umrah itu apa, om?" tanya Leon yang memang belum tahu.
"Umrah itu kita pergi ke tanah suci. Melakukan semua rukun seperti saat kita melakukan ibadah haji. Kalau lebih jelasnya, kamu tanya saja sama suaminya Wulan. Pasti dia lebih tahu." balas Daddy Marquez. Leon hanya manggut-manggut saja.
"Leon pengen ikut dong om. Disana pasti bisa naik unta."
"Astaga, Leon. Permintaan mu seperti anak kecil saja." ucap mama Margareth, dan semua orang tertawa.
"Aku tidak bisa lebih lama di sini Marq. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana mengurus sebuah perusahaan itu." tolak Marco secara halus.
"Kalau begitu biar Leon saja, om yang tinggal sementara waktu disini. Lagian aku juga masih ingin keliling Indo."
"Baiklah. Om, setuju."
**
Dua hari sebelum keberangkatan umrah, sebuah doa bersama di gelar di kediaman opa Atmaja. Rekan bisnis dan kerabat kembali di undang.
Ba'da Maghrib, satu persatu tamu berdatangan. Meskipun Leon berbeda keyakinan, ia juga ikut datang bersama dengan keluarga Marquez.
Ia memakai kemko berwarna navy. Pemberian Marquez yang belum sempat ia pakai. Setelah acara pernikahan kemarin, Salman memang membelikan seluruh keluarga istrinya busana muslim. Di toko tantenya, yakni uminya Fatih.
__ADS_1
Awalnya Leon memang menolak. Tapi setelah memakai dan memandang dirinya lewat pantulan cermin, ia menjadi menyukainya. Karena terlihat semakin agamis. Di tambah lagi ia menggunakan peci di kepalanya.
Setelah memastikan penampilannya rapi, ia keluar kamar dan menunggu Om dan Tante di ruang tamu.
Sambil menunggu, ia memainkan handphonenya. Ia membulatkan matanya ketika tak sengaja membuka galeri, dan melihat fotonya dengan Fatim.
"Kenapa aku tak menyadari punya foto dengan gadis itu." gumamnya, sambil menyunggingkan senyum.
Tak berapa lama kemudian, Marquez dan istrinya keluar kamar. Mommy tampak cantik dengan gamis berwarna putih dan jilbab berwarna senada. Daddy Marquez pun sama. Ia menggunakan kemko warna senada.
"Kamu sudah menunggu sejak tadi, Leon." tanya Daddy Marquez.
Leon tergeragap, hingga handphone yang ia pegang terjatuh.
"Kamu kenapa seperti itu, Leon? Seperti bertemu hantu saja." Daddy Marquez dan istrinya beradu pandang sambil terkekeh kecil. Ada saja sikap Leon yang menjadi bahan tertawaan.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di carport.
"Biar Leon saja yang menyetir mobilnya, om." Pemuda itu pun berjalan duluan dan duduk di kemudi depan.
"Menanti dan besan kita itu baik sekali ya, honey. Pantesan anaknya juga ikut-ikutan baik..Aku bersyukur Wulan bisa mendapatkan suami seperti Salman. Dan diterima baik oleh keluarga besarnya." celoteh mommy saat di perjalanan.
"Aku juga sama, honey. Aku menyesal. Kenapa tidak sejak dulu saja kita menyetujui pilihan Wulan." timpal Marquez.
"Jodoh itu kan sudah di atur, Tan, Om. Mau gimana pun juga, kalau belum jodoh ya tetap bakal pisah. Tapi kalau sudah jodoh, dan waktunya bertemu. Pasti akan bertemu juga."
__ADS_1
"Leon." ucap kedua orang tua Wulan bersamaan.
"Ada apa, om, Tan." tanya Leon sambil mengernyitkan keningnya.
"Tumben, bicara mu bijak sekali. Siapa yang mengajari?"
Leon menutup mulutnya.
"Bukankah kemarin pak ustadz bilang seperti itu ya, om." balas Leon akhirnya.
Leon kembali memperhatikan jalanan. Tapi pikirannya justru terfokus pada bayang-bayang Fatim.
'Gara-gara aku menyebutnya hantu. Jadi aku dihantui bayang-bayang wajahnya setiap waktu deh. Fatim, Fatim.' batin Leon sambil memukul kemudi mobil.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai juga di kediaman opa Atmaja. Mereka segera turun dari mobil, dan bersalaman dengan keluarga Salman yang sudah berjejer rapi di depan teras, sedang menyalami satu persatu tamu undangan.
Sebagai tanda penghormatan, papa Reyhan mengajak keluarga Wulan untuk berdiri dan ikut menyambut tamu undangan yang lain.
Hanya dalam hitungan menit, seluruh tamu undangan sudah memenuhi kediaman opa Atmaja. Keluarga Salman dan Wulan segera masuk ke rumah, karena acara akan di mulai.
Sejak tadi, Leon celingak-celinguk mencari wanita yang sudah menghantuinya. Dan matanya mengunci pada sesosok gadis cantik yang duduk di pojokan.
'Kenapa duduknya dipojokan sih. Jadi susah kan mau lihat dia.' batinnya kesal.
"Leon, kenapa sejak tadi kami berdiri disitu terus?" bisik Daddy Marquez, dan menarik lengan pemuda itu, agar segera duduk.
__ADS_1
Leon tak menyadari jika sejak tadi dirinya menjadi pusat perhatian, karena berdiri seorang diri. Mencari keberadaan Fatim.