
Sore itu, Wulan berniat ke rumah Aisyah. Entah kenapa, hanya karena satu lelaki yang tak di kenal, membuat dunianya terasa berbeda. Jauh lebih menantang.
Sepanjang perjalanan, ia terus menyunggingkan senyum penuh semangat. Sampai tiba-tiba ia merasakan haus. Akhirnya ia mampir di sebuah supermarket yang cukup ramai pengunjung.
Awal mulanya hanya berniat membeli sebotol air mineral, namun tangannya tak sadar memasukkan aneka cemilan yang akhirnya memenuhi keranjang bawaannya.
Ketika hendak mengambil selai coklat, tanpa sadar tangannya menyentuh tangan orang lain yang juga berada di sampingnya. Keduanya pun menoleh bersamaan.
Senyum mengembang di wajah Wulan ketika melihat siapa yang berdiri dihadapannya, dan saat ini tangannya sedang ia pegang.
"Salman?" gumamnya lirih, namun masih bisa di dengar oleh lelaki itu.
Salman mengernyit heran, dari mana gadis aneh dihadapannya tahu namanya. Ia lebih memilih tak memperdulikannya, lalu mengambil selai coklat kesukaannya, dan berjalan meninggalkan gadis itu yang masih terpesona dengannya.
"Hai tunggu." seru Wulan sambil berlari kecil mengikuti langkah lebar Salman.
"Ada apa?" balas Salman datar dan tanpa menoleh ke arah gadis itu. Membuat Wulan menghembuskan nafas panjang. Ternyata mendekati lelaki dihadapannya cukup sulit.
__ADS_1
Salman pun kembali berjalan karena gadis itu tidak segera bicara.
"Eh, aku bilang tunggu dulu. Kenapa jalan saja sih, macam kereta saja." Wulan memegang bahu Salman.
"Lepaskan tangan mu dari bahu ku. Kalau mau bicara, silahkan."
'Omg, dia benar-benar dingin terhadap ku. Memang aku salah apa? Setahuku kemarin dia cukup murah senyum dengan orang tuanya. Apa senyumnya hanya berlaku untuk keluarganya saja?'
"Aku hanya ingin berteman dengan mu. Apa tidak boleh?" Salman semakin dibuat heran dengan ucapan gadis dihadapannya.
"Tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Dimana salah satunya pasti terjebak dengan perasaannya sendiri."
'Dimana-mana cewek yang jual mahal. Tapi kali ini cowok yang jual mahal. Okay, kita lihat seberapa kuat ia bisa menolak pesona seorang Teresia wulandari.' batin Wulan penuh senyum semangat.
Merasa sudah cukup belanjaannya, Wulan berjalan menuju meja kasir. Matanya berbinar ketika melihat Salman ada di sana. Bergegas ia mempercepat langkahnya, agar bisa berdiri di belakangnya.
"Berapa totalnya kak, biar aku yang bayar." seloroh Wulan pada kasir, ketika melihat Salman hendak merogoh dompetnya. Salman sudah bisa menebak pemilik suara itu.
__ADS_1
"Aku ingin membayar belanjaan mu, sebagai ucapan terima kasih, karena kemarin sudah memberi ku baju mama mu. Itu saja." Wulan segera menyodorkan kartu saktinya pada kasir.
"Terima kasih." ucap Salman datar, lalu melenggang pergi meninggalkan Wulan.
'Astaga, cuma terima kasih doang?' batin Wulan penuh kesal, sambil mengerucutkan bibirnya. Kasir yang kebetulan melihatnya hanya bisa menahan tawa.
Wulan berjalan menuju tempat parkir mobil. Lagi-lagi matanya berbinar ketika melihat Salman masih berdiri di samping mobil, dan terlihat sedang bercakap-cakap melalui benda pipih yang menempel di telinganya.
Rencana gila Wulan mainkan untuk mencari perhatian Salman. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu menggoreskan dengan kuat di area ban mobilnya. Setelah cukup, segera ia memasukkan benda tersebut ke dalam tas dan berpura-pura menangis di samping mobilnya.
Salman yang kebetulan sudah selesai bercakap-cakap di telepon, dan hendak masuk ke mobil, mengurungkan niatnya ketika mendengar suara tangis.
Ia mengedarkan pandangannya menyapu tempat parkir, dan melihat seorang gadis yang berjongkok sambil menelungkupkan kepalanya, bahunya pun terguncang. Bergegas ia mendekatinya.
Sesaat ia ragu untuk menyapa, begitu melihat dengan jelas siapa yang tengah menangis. Tapi jiwa peri kemanusiaannya berkata lain.
"Apa yang terjadi, sehingga kamu menangis?"
__ADS_1
❤️❤️