
Pesawat mengudara selama kurang lebih sepuluh jam. Dan selama itu juga Leon terus memejamkan matanya. Sampai akhirnya pesawat landing di bandara internasional.
Mama membangunkan Leon, yang membuat laki-laki itu tergeragap. Bergegas mereka keluar dari badan pesawat.
Seseorang yang sudah ditunjuk oleh Marquez berdiri sambil membawa selembar kertas yang bertuliskan keluarga Edward. Keluarga Leon segera menghampiri orang tersebut.
Setelah bercakap-cakap sejenak dengan menggunakan bahasa internasional, mereka berjalan menuju mobil yang sudah terparkir.
Kini mobil itu bergerak menuju kediaman Marquez.
Sepanjang perjalanan, Leon terus memperhatikan sisi jalan. Sampai akhirnya lamat-lamat terlihat rumah megah Marquez yang telah dihias sedemikian rupa.
Hati Leon bagai tercabik. Tapi ia berusaha untuk ikhlas. Agar tidak bertambah sakit.
Keluarga Marquez menyambut kedatangan karibnya itu dengan penuh suka cita. Saling berjabat tangan dan berpelukan. Sementara koper mereka dibawa oleh para asisten rumah tangga menuju kamar tamu.
"Aku tidak menyangka jika pada akhirnya kita ditakdirkan bukan untuk menjadi besan." kekeh Edward pada Marquez.
Semua pun ikut tertawa renyah mendengar candaan yang dilontarkan papanya Leon.
Keluarga Leon memperhatikan setiap dekorasi yang tampak elegan itu dengan penuh rasa takjub. Karena mereka mengusung tema Jawa dan Belanda. Sesuai dengan asal usul dan kebudayaan kedua orang tua Wulan.
Setelah sejenak berbasa-basi, mommy mempersilahkan mereka masuk, dan beristirahat sejenak di kamar tamu. Karena nanti malam akan diadakan acara Midodareni.
Leon memasuki kamarnya, lalu mengedarkan pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan.
__ADS_1
**
Kedua orang tua Leon sangat antusias mengikuti acara malam Midodareni. Mereka juga telah berpakaian rapi, dan ikut menyambut para tamu. Termasuk Leon yang harus berdiri bersalaman dengan para tamu undangan.
Karena saat malam Midodareni, keluarga Salman datang ke rumah Wulan dengan rombongannya.
Sementara itu, Wulan berada di kamarnya dan tangannya tengah di hias dengan menggunakan Henna oleh seorang profesional. Sedangkan teman-temannya yang lain mengelilinginya sambil bercakap-cakap.
"Assalamu'alaikum." terdengar suara salam, yang di iringi dengan pintu terbuka. Terlihat Aisyah berdiri di ambang pintu.
"Maa syaa Allah Wulan." seru Aisyah saat ia melihat perubahan Wulan yang sangat luar biasa baginya. Karena malam itu Wulan memakai gamis dan pasmina warna hijau muda. Gadis itu terlihat cantik natural.
"Aisyah." balas Wulan. Aisyah langsung mendekat ke arah Wulan, dan keduanya berpelukan erat. Hingga tak sadar Wulan justru menitikkan air mata.
"Wulan, kok kamu malah menangis?" tanya Aisyah saat keduanya saling mengurai pelukan.
"Tidak mungkin kalau tidak apa-apa, tapi kamu sampai bisa menangis seperti ini."
"Aku tidak menyangka Lan, kalau kamu berhasil menaklukkan pria sedingin es itu." ucap Aisyah yang membuat semua tergelak.
"Sudah dong Ai. Kamu jangan pernah mengungkit soal itu. Aku takut calon suami ku marah." ucap Wulan merasa tak enak.
Wulan memang pernah mengatakan kalau Salman adalah pria yang dingin seperti es. Karena sikapnya yang selalu cuek padanya.
"UPS. Sorry." ucap Aisyah sambil menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Pada malam itu Wulan dikelilingi oleh teman-temannya yang banyak. Karena memang sudah lama tidak bertemu. Dan ia sangat bahagia sekali, atas apa yang terjadi pada malam hari itu.
Sedangkan Salman yang berada di luar dan harus mengikuti acara yang panjang sedikit bosan. Ia berusaha menghilangkan kebosanan itu dengan beristighfar.
Sebenarnya ia hanya ingin pernikahan yang sederhana, tapi apa boleh buat. Karena kedua orang tuanya dan juga calon mertuanya adalah sama-sama orang yang terpandang di kotanya. Tentu saja banyak yang diundang untuk menjadi saksi pernikahannya.
Leon terus memperhatikan calon suami Wulan, yang tengah duduk dengan tenang itu. Dari pancaran wajahnya terlihat bahwa Salman adalah pemuda yang baik dan tidak neko-neko.
Saat Salman menggerakkan kepalanya, tak sengaja pandangannya beradu dengan Leon. Tapi Leon seketika membuang muka. Sementara Salman tidak terbersit berpikir buruk pada Leon. Ia menganggap Leon adalah saudara calon istrinya, seperti yang lain.
Akhirnya ritual malam Midodareni itu pun selesai. Keluarga Salman dan para tamu undangan berpamitan pulang.
"Ma, serius Salman di tinggal di sini sendiri?" tanya Salman pada mamanya.
"Tentu saja sayang. Besok acara pernikahan mu kan. Kamu dan Wulan akan di rias menjadi lebih tampan dan cantik."
"Bukan itu maksud Salman."
"Lalu apa?" Mama Laura mengernyitkan dahinya.
"Apa Salman akan tidur sekamar dengan Wulan. Mengingat kita ini belum muhrim."
Mama Laura terkekeh kecil.
"Rumah Wulan besar juga kok. Pasti ada banyak kamar. Kamu tenang saja sayang. Jika kalian harus sekamar, kalian bisa tidur terpisah dulu. Satu di tempat tidur, satu di sofa."
__ADS_1
"Baiklah ma." ucap Salman setelah terdiam sekian detik.