
"Fatim." lirih Leon.
"Kamu disini saja. Bercerita seperti kemarin. Aku akan mendengarkan baik-baik." pinta Leon terlihat nelangsa.
Fatim menoleh ke arah mama Margareth, dan wanita itu terlihat menganggukkan kepalanya. Fatim dan mama Margareth pun duduk di sebelah Leon.
"Kak Leon mau dengar aku cerita soal apa? Jujur nih, kalau ngga di pancing dulu, aku ngga bisa cerita." ucap Fatim di iringi tawa kecil.
Terdengar pintu dibuka, perawat mengantarkan makanan untuk mereka.
"Kak Leon makan dulu ya. Biar ada tenaga untuk sembuh."
"Suapin." pinta Leon.
"Hah?"
"Tante minta tolong kamu suapin Leon ya, nak?" Fatim menoleh pada mamanya Leon.
"Ba-baik, Tante." akhirnya mau tak mau Fatim melakukan hal itu. Walau sebenarnya dia juga merasa risih harus menyuapi seorang laki-laki.
"Oh iya, kalau begitu Tante juga harus makan ya." ucap Fatim mengingatkan.
"Iya, nak. Terima kasih sudah membantu Tante merawat Leon."
Fatim mengambil piring yang berisi bubur hangat dengan kuah kare ayam, lalu menyendok sedikit dan mendekatkan ke mulut Leon.
"Ayo kak, di buka mulutnya. Hak!" Perlahan Leon membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Fatim.
Suapan demi suapan terus Fatim berikan, hingga akhirnya semangkuk bubur itu habis tak bersisa.
__ADS_1
"Ini suapan terakhir, kak. Hak?" kembali Leon membuka mulutnya.
"Kak Leon lapar apa doyan. Makannya cepat sekali. Padahal badannya saja penuh luka seperti ini." cicit Fatim.
Leon meringis. Sejak beberapa hari lalu ia memang belum makan. Dan hanya melalui selang infus ia mendapatkan asupan makanan.
Sebenarnya keadaannya sudah cukup membaik. Luka di badannya perlahan mulai menghitam karena kering.
Sedangkan luka di kepala bekas operasi memang kadang masih terasa berdenyut nyeri. Tapi semua rasa sakit itu perlahan menghilang ketika mendengar ucapan mamanya yang akan melakukan apa saja untuknya.
Bahkan mamanya menyuruh Fatim untuk menerimanya jika seandainya Leon menyukainya. Hal itu membuat Leon gemas dan mendorongnya untuk mengerjai Fatim. Seperti tadi, ia minta disuapi oleh Fatim dan menyuruhnya bercerita.
"Kak Leon mau makan kue sus buah ini, ngga?" tanya Fatim, dan Leon pun mengangguk.
Fatim membuka bungkusnya, lalu menyodorkan pada Leon. Setelah makanannya habis, Fatim menyodorkan beberapa butir obat yang lumayan besar pada Leon.
Seketika itu juga laki-laki itu meringis. Ia tak bisa makan obat sebesar dan sebanyak itu.
"Tidak ada pilihan untuk kak Leon. Kalau kakak mau segera sembuh, ya harus nurut dengan perintah dokter. Cepat telan obatnya. Atau aku akan pergi dari sini." ancam Fatim.
"I-iya iya. Aku minum obatnya." dengan ragu Leon mengambil sebutir obat, dan melihatnya dengan seksama sebelum memasukkan ke dalam mulutnya.
Mama Margaretha tersenyum mendengar ancaman Fatim. Ia tahu Leon itu tidak pernah sekali pun minum obat. Ketika sakit dan dibelikan obat, diam-diam ia selalu membuang obatnya di tong sampah.
Satu butir pil obat masuk, membuat wajahnya berubah kemerahan. Karena tak tahan dengan rasa pahitnya. Fatim menyodorkan segelas air putih. Leon meneguk minumannya hingga tandas.
"Ini lagi, ambil." titah Fatim.
"Tanganku masih sulit untuk digerakkan." dusta Leon.
__ADS_1
Sebenarnya meminum satu obat saja ia sudah kepahitan. Apalagi masih ada lima butir yang belum ia telan.
"Ya sudah, buka mulutnya. Biar aku yang masukkan." Leon menggeleng lemah.
"Memang kak Leon ngga malu sama aku. Minum obat saja susah bener. Kalau aku bilang kak Leon mirip anak kecil mau?"
Sekali lagi Leon menggeleng lemah.
"Bayangkan saja kalau butiran obat ini adalah permen. Niscaya hilang rasa pahitnya."
Semakin di paksa semakin membuat Leon ketakutan. Kali ini ia terdiam sambil berpikir. Dan di saat itulah diam-diam Fatim langsung membuka mulutnya dan memasukkan semua obat itu ke mulut Leon.
Laki-laki itu menutup mulutnya dan merasakan sensasi meminum obat sebanyak itu. Sekuat tenaga ia menelan nya. Dan akhirnya berhasil. Lalu Fatim menyodorkan minumannya lagi.
"Kamu dokter paling jahat yang pernah aku temui." ucap Leon sambil menangis.
Dan hal itu membuat Fatim dan mama Margaretha terkekeh geli.
"Teganya kamu tersenyum diatas penderitaan ku." ucap Leon.
"Maaf, kak. Bukannya aku bahagia. Cuma heran saja dengan sikap kakak yang seperti anak kecil." kembali Fatim terkekeh.
"Pijitin badan ku dong, Fat. Rasanya sakit semua." lirih Leon.
Badannya memang terasa sakit. Mungkin karena benturan keras yang terjadi kemarin. Dan hal itu membuat Fatim berhenti dari tawanya.
"Kak, tapi kita bukan mahram, lho."
"Badanku kan tertutup selimut. Ngga apa-apa dong." Leon masih kukuh dengan pendapatnya. Akhirnya mau tak mau Fatim memijit pelan badan Leon, di mulai dari kaki.
__ADS_1
'Nah, rasain tuh. Emang enak aku kerjain.' batin Leon terkekeh puas.